Rupiah Diprediksi Anjlok Tembus Rp 17.850 Pekan Depan

Minggu, 13 September 2026 | 16:54:02 WIB
ilustrasi kurs rupiah terhadap dollar AS [FOTO: NET].

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tertekan menghadapi keperkasaan dollar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan pekan depan. 

Potensi penguatan indeks dollar AS di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS serta eskalasi konflik geopolitik dunia menjadi pemicu utama pelemahan mata uang garuda.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pada pekan depan selaras dengan proyeksi indeks dollar AS yang diperkirakan berada pada kisaran 90,30 hingga 100,20. 

Menurut analisisnya, rupiah memiliki peluang untuk melanjutkan tren penurunan hingga melampaui level Rp 17.850 per dollar AS.

“Untuk rupiah sendiri kemungkinan mengalami pelemahan ya mencapai Rp 17.850-an, bisa saja lebih dari Rp 17.850-an,” ujar Ibrahim pesan singkat yang diterima pada Minggu (13/9/2026).

Ibrahim menguraikan bahwa laju kurs rupiah akan dipengaruhi oleh kondisi fundamental global, terutama dinamika kebijakan moneter AS serta situasi geopolitik yang masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. 

Ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu sentimen primer yang membayangi pasar keuangan internasional. 

Meningkatnya tensi geopolitik ini dinilai dapat memicu investor untuk memperbesar kepemilikan aset berbasis dollar AS yang dinilai sebagai aset aman (safe haven) saat ketidakpastian meningkat.

Tidak hanya ketegangan di Timur Tengah, perang antara Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut turut menjadi variabel penyumbang tekanan psikologis pada pasar global. 

Konflik yang berkepanjangan ini berpotensi memperbesar ketidakpastian ekonomi dunia sekaligus memicu volatilitas pada pasar mata uang asing.

Selain itu, Ibrahim memberikan catatan khusus mengenai dampak gejolak geopolitik terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia. Ia memproyeksikan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada pekan depan akan bergerak di rentang 91,60 dollar AS hingga 103,50 dollar AS per barel. 

Potensi hambatan pada jalur pelayaran strategis di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang sanggup mendongkrak kenaikan harga minyak mentah secara signifikan.

“Ini yang membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” ucap Ibrahim.

Lonjakan harga minyak mentah menjadi perhatian serius pelaku pasar karena berisiko memicu tekanan inflasi secara global. Situasi ini pada akhirnya dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). 

Keputusan The Fed tetap menjadi indikator kunci yang menentukan pergerakan dollar AS dan arah aliran modal global. Setiap penyesuaian suku bunga di AS berpotensi memengaruhi arus dana investasi ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Jika dollar AS kembali menunjukkan penguatan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang diproyeksikan bakal meningkat. Dalam skenario ini, rupiah berpotensi meneruskan tren pelemahannya sepanjang pekan depan seiring langkah investor yang tetap mencermati pergerakan geopolitik dan arah kebijakan moneter AS.

Tags

Terkini