BI Ungkap Biang Rupiah Melemah dan Strategi Menjaganya Tetap Stabil

Senin, 07 September 2026 | 02:18:32 WIB
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta [FOTO: NET].

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memaparkan sederet faktor kunci yang menentukan stabilitas nilai tukar rupiah atas dollar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026) terangkat 0,21 persen atau 37 poin menuju posisi Rp 17.642 per dollar AS bila dibandingkan sesi sebelumnya.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyampaikan, kuncinya terletak pada keberhasilan memelihara Keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) valuta asing (valas).

“Oke, menjaga keseimbangan ya, kuncinya menjaga keseimbangan. Jadi ini sebetulnya kalau kita bicara nilai tukar, itu sama seperti bicara supply demand ya,” kata Fili dalam Lampung Financial Festival di Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).

Menurut penjelasannya, tatkala permintaan atas dollar AS melonjak di tengah keterbatasan pasokan, maka harga dollar AS otomatis melambung. Situasi inilah yang kelak memicu pelemahan rupiah.

“Kalau demand-nya banyak, supply-nya sedikit, apa yang terjadi? Harganya jadi mahal, ya kan,” ujarnya.

Fili menerangkan bahwa ketersediaan valas antara lain disokong oleh kinerja ekspor serta investasi asing. Sewaktu Indonesia mengalokasikan barang ekspor, para pelaku usaha mengantongi devisa dalam bentuk valas, termasuk dollar AS.

Kondisi serupa terjadi sewaktu investor asing mengalirkan modal ke Indonesia maupun memborong surat berharga domestik. Masuknya arus modal (capital inflow) ini memperkuat ketersediaan valas di dalam negeri.

Sebaliknya, lonjakan permintaan dollar AS terpacu saat Indonesia merealisasikan impor barang dan jasa. Skema pembayaran impor yang mengandalkan mata uang asing otomatis mengerek kebutuhan akan dollar AS.

Bukan cuma impor, pergerakan arus modal keluar (capital outflow) atau kegiatan repatriasi turut memperbesar permintaan valas.

Fili menyebutkan ada tiga pilar utama yang memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah. Pertama yakni aspek fundamental, mencakup kondisi defisit transaksi berjalan (current account), neraca perdagangan, serta proporsi supply dan demand valas di pasar domestik.

“Kedua adalah faktor struktural di mana ada permintaan dari pelaku domestik dan pelaku asing. Dan yang ketiga adalah faktor sentimen, artinya kondisi global,” kata dia.

Menurut Fili, dinamika global layaknya gejolak geopolitik di Timur Tengah sanggup memengaruhi pergerakan kurs. Sewaktu konflik memicu lonjakan harga minyak bumi, tekanan terhadap pasokan dollar AS maupun rupiah dapat kian membesar.

Strategi BI jaga rupiah

Fili menggarisbawahi bahwa BI bakal berkesinambungan menempuh langkah stabilisasi kurs lewat intervensi di pasar valas. Apabila permintaan dollar AS merangkak tinggi sementara pasokan menipis, BI bisa mengucurkan dollar AS dari cadangan devisa untuk menambah pasokan pasar.

Sebaliknya, tatkala ketersediaan dollar AS melimpah hingga harganya merosot, BI dapat menyerap dollar AS dari pasar.

“Jadi Bank Indonesia akan melanjutkan stabilisasi nilai tukar. Kalau dolarnya meningkat tadi harganya 20.000, artinya apa? Demand-nya terlalu tinggi supply-nya terbatas ya sehingga itu naik harganya. Sehingga Bank Indonesia akan menjual dolar dari cadangan devisa kami supaya ada tambahan supply di pasar,” ujarnya.

Fili menguraikan, langkah intervensi tersebut dapat ditempuh melalui transaksi spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Yang dilakukan Bank Indonesia kami bisa beli spot langsung ya, bisa juga membeli DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward). Jadi itu hanya spread-nya aja ya. Dan ini kami lakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Fili.

Di samping langkah intervensi langsung, BI meredam ketergantungan dollar AS dengan memperkuat pemanfaatan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Saat ini, Indonesia telah menjalin kemitraan LCT bersama beberapa negara sahabat.

Lewat skema ini, para pelaku bisnis tak lagi diwajibkan menggunakan dollar AS saat bertransaksi dagang dengan negara mitra.

“Kalau dengan Cina dia bisa bayarnya pakai Chinese Yuan. Kalau dengan Singapura dia bisa bayarnya dengan Singapore Dollar ya. Jadi tidak akan menambah demand terhadap US Dollar,” ujarnya.

BI juga terus menjalin komunikasi serta koordinasi bersama pelaku pasar sembari mengerek daya saing aset keuangan domestik guna menjaring arus modal masuk. Menurut Fili, pemodal akan menempatkan modalnya di negara yang menjanjikan imbal hasil serta keuntungan memikat.

“Oleh karena itu kami harus menciptakan satu kondisi di mana surat-surat berharga kami, instrumen investasi kami menarik lebih menarik daripada negara lain,” kata dia.

Atas dasar itu, BI konsisten menjaga daya pikat instrumen seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) serta surat berharga negara (SBN). BI pun menyediakan insentif swap bagi investor yang merealisasikan transaksi lindung nilai (hedging).

BI jaga likuiditas rupiah

Fili menambahkan, kebijakan intervensi BI melalui pelepasan dollar AS wajib diselaraskan dengan pengelolaan likuiditas rupiah. Sebab, kala BI melepas dollar AS di pasar, pembayaran yang diterima berupa rupiah. Hal ini berpotensi memicu pengetatan likuiditas rupiah di pasar.

“Pada saat kami menjual dolar artinya tadi dibayarnya dengan Rupiah. Artinya Rupiah di industri di pasar akan ketat,” ujarnya.

Demi menjaga kelancaran likuiditas rupiah, BI dapat melancarkan operasi moneter ekspansif guna menginjeksikan likuiditas rupiah ke pasar.

“Ekspansi itu artinya Bank Indonesia menggelontorkan Rupiah ya. Kalau kontraksi Bank Indonesia tarik Rupiah ya,” kata Fili.

Selain langkah tersebut, BI dapat membeli SBN. Pembelian instrumen ini akan mengalirkan likuiditas rupiah ke pasar lantaran BI membayarkan rupiah atas SBN yang dibeli.

“Pada saat kami membeli SBN itu artinya kami menggelontorkan karena beli kami dapat SBN-nya kami bayarnya pakai Rupiah. Jadi Rupiahnya juga ada likuiditas Rupiah di pasar ya,” tutur Fili.

Tags

Terkini