Dolar AS Tertekan Sinyal Dovish The Fed, Rupiah Menguat ke Rp17.642

Sabtu, 05 September 2026 | 20:56:33 WIB
Pekerja menunjukkan emas batangan [FOTO: NET].

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah mencatatkan tren penguatan selama beberapa hari belakangan. Pergerakan ini berjalan beriringan dengan pelemahan dolar AS akibat imbas dari sinyal dovish yang disampaikan pihak The Fed.

Pada sesi penutupan transaksi perdagangan Jumat (4/9/2026), mata uang rupiah mengalami kenaikan sebesar 0,21% atau bertambah 37 poin ke posisi Rp17.642 per dolar AS. 

Angka ini mencerminkan apresiasi sebesar 0,28% atau naik 50 poin sepanjang pekan ini.

Berdasarkan laporan Trading Economics, dolar AS tengah menghadapi tekanan pascamenurunnya proyeksi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed.

"Pergerakan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS setelah para pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini, menyusul pernyataan bernada dovish dari seorang pejabat bank sentral," tulis laporan tersebut, Sabtu (5/9/2026).

Dari ranah domestik, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa tingkat inflasi dalam negeri masih berada dalam kondisi aman dan mengimbau sinergi yang lebih solid antara pihak pemerintah, bank sentral, sektor bisnis, serta kalangan ekonom demi menopang pertumbuhan ekonomi.

Di lain sisi, laporan tersebut mengungkapkan bahwa laju apresiasi rupiah membentur penahan akibat melonjaknya kecemasan terhadap fenomena El Niño yang berpotensi memicu gangguan pasokan pangan serta mendongkrak kenaikan harga pada beberapa bulan ke depan.

Selain itu, sikap waspada para pelaku pasar juga nampak menjelang pengumuman rilis data pada pekan depan, seperti besaran cadangan devisa periode Agustus, indeks keyakinan konsumen, hingga angka penjualan eceran periode Juli 2026. 

Berbagai indikator tersebut berpeluang menyajikan indikasi terkini mengenai kondisi permintaan domestik serta proyeksi arah kebijakan moneter.

"Meski demikian, rupiah berada di jalur yang tepat untuk mencatat penguatan selama lima minggu berturut-turut, dengan kenaikan sekitar 0,25% sejauh ini," tulis Trading Economics.

Pada saat yang sama, Pluang memaparkan bahwa ekspektasi atas kebijakan The Fed turut mendorong laju kenaikan di pasar saham Amerika Serikat. 

Laporan itu menjelaskan mayoritas saham pada indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan pascapernyataan bernada dovish dari Anggota Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang ikut menekan tingkat imbal hasil obligasi.

"Federal Reserve tampaknya menerapkan pendekatan good cop, bad cop untuk menjaga stabilitas suku bunga di tengah sinyal-sinyal hawkish yang sempat muncul," ujar mereka.

Tags

Terkini