Rupiah Melemah ke Rp17.758 per Dolar AS Awal Perdagangan Hari Ini

Rabu, 02 September 2026 | 03:31:02 WIB
mata uang Dolar Amerika Serikat dan Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka merosot 0,08% atau 14 poin ke tingkat Rp17.758 per dolar AS pada sesi perdagangan Rabu (2/9/2026). 

Pada waktu yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,10% menuju level 99,77.

Mata uang garuda melanjutkan pelemahan setelah pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026) terkoreksi 22 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah hari ini bakal kembali berakhir melemah pada kisaran Rp17.740 hingga Rp17.790 per dolar AS. 

Menurutnya, laju rupiah saat ini dipengaruhi oleh perpaduan sentimen global maupun domestik.

Dari ranah eksternal, para pelaku pasar keuangan tengah memantau dinamika konflik di Timur Tengah. Paling baru, Presiden AS Donald Trump mengancam hendak melancarkan aksi serang balasan ke Iran setelah terjadinya kontak tembak secara langsung untuk pertama kalinya dalam kurun satu bulan terakhir.

"Hal ini meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat beralih menjadi kebuntuan ekonomi," kata Ibrahim, Selasa (1/9/2026).

Eskalasi konflik Timur Tengah yang memanas bakal memicu kenaikan harga energi yang berujung pada inflasi global. 

Kondisi ini turut memengaruhi orientasi kebijakan The Fed terkait penetapan suku bunga acuan.

Ibrahim memaparkan, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Simposium Jackson Hole bernada hawkish, sehingga memantik kembali ekspektasi bahwa bank sentral dapat mengerek suku bunga paling cepat pada September.

"Itu bisa berimbas pada lonjakan tajam pada nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek. Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September," kata Ibrahim.

Adapun dari sisi internal, para pelaku pasar keuangan sedang mencermati deretan indikator ekonomi yang diumumkan pemerintah.

 Indonesia membukukan inflasi sebesar 0,21% secara bulanan (month to month/MtM) pada Agustus 2026, usai pada bulan sebelumnya mencatatkan deflasi 0,14% pada Juli 2026. Laju inflasi tahunan (year on year/YoY) Indonesia per Agustus 2026 berada di level 3,19%.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mengantongi surplus sebesar US$120 juta pada Juli 2026, setelah sempat mencatatkan defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. 

Capaian ekspor Indonesia pada Juli 2026 menembus US$26,22 miliar atau tumbuh 6,05% dibanding periode yang sama tahun lalu (YoY).

Tags

Terkini