JAKARTA — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) kembali menunjukkan performa positif di industri perbankan nasional. Bank Jateng berhasil mengantongi peringkat idAA- dengan prospek Stabil (Stable Outlook) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk periode 2026–2027.
Peringkat tersebut mencerminkan kemampuan Bank Jateng yang amat kuat dalam menyelesaikan kewajiban finansial jangka panjangnya.
Pencapaian ini turut mengukuhkan ketahanan fundamental perseroan, didorong oleh struktur permodalan yang kukuh, tingkat likuiditas yang terjaga, serta tata kelola dan manajemen risiko yang konsisten diperkuat.
Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko menyampaikan bahwa perolehan peringkat idAA- berprospek stabil ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap fundamental serta kinerja Bank Jateng.
“Pencapaian peringkat idAA- dengan prospek stabil ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti nyata atas kepercayaan masyarakat Jawa Tengah serta hasil dari kerja keras seluruh insan Bank Jateng. Kami akan terus menjaga fundamental bank, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat,” ujar Bambang, Kamis (27/8/2026).
Sampai semester I/2026, Bank Jateng membukukan akumulasi aset mencapai Rp95,03 triliun. Dari aspek permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 22,5%.
Angka ini memberi ruang yang sangat aman bagi perseroan guna mengantisipasi potensi risiko sekaligus menyokong ekspansi bisnis yang berkelanjutan.
Tingkat likuiditas Bank Jateng pun tetap berada di posisi aman. Kondisi ini antara lain ditopang oleh penempatan portofolio pada instrumen berisiko rendah, seperti instrumen Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara (SBN).
Bambang menegaskan, kokohnya fundamental tersebut bakal menjadi landasan utama bagi Bank Jateng dalam mengemban peran sebagai bank pembangunan daerah sekaligus mitra keuangan masyarakat Jawa Tengah.
“Perbankan modern harus hadir dengan hati, memadukan kemudahan teknologi digital dengan kedekatan kepada nasabah. Karena itu, kami berkomitmen terus memperluas layanan digital dan memperkuat pembiayaan sektor produktif agar Bank Jateng semakin memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah,” katanya.
Sebagai lembaga perbankan yang telah melayani warga Jawa Tengah sejak 1963, Bank Jateng terus menguji dan mempererat kolaborasi dengan pemerintah provinsi, kabupaten, maupun kota.
Saat ini, perseroan menguasai pangsa pasar kredit dan simpanan sekitar 16%–17% di wilayah Jawa Tengah.
Peningkatan mutu layanan tersebut didukung oleh lebih dari 6.751 pegawai Bank Jateng serta jaringan distribusi yang melingkupi 44 kantor cabang, 150 kantor cabang pembantu, serta lebih dari 10.604 kantor kas dan titik pembayaran.
Di sektor penyaluran kredit, Bank Jateng juga senantiasa memberikan perhatian khusus bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga Juni 2026, porsi pembiayaan UMKM menyumbang 31,8% dari total penyaluran kredit.
Di samping pembiayaan UMKM, portofolio kredit konsumer untuk aparatur sipil negara (ASN) mencakup sekitar 47% dari total pembiayaan. Segmen ini terus dikembangkan lewat peningkatan kualitas pelayanan dan percepatan transformasi digital.
Ke depannya, Bank Jateng siap melanjutkan transformasi layanan perbankan, termasuk penguatan transaksi digital serta mobile banking.
Perseroan juga bakal memperluas kemitraan dengan beragam ekosistem ekonomi daerah sembari tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan aktivitas bisnis.
“Kepercayaan yang diberikan kepada Bank Jateng menjadi tanggung jawab untuk terus memberikan kinerja terbaik. Kami ingin pertumbuhan Bank Jateng tidak hanya tercermin dari angka-angka keuangan, tetapi juga dari semakin besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat dan pelaku usaha di Jawa Tengah,” tutur Bambang.