Defisit Transaksi Berjalan RI Tembus Rekor US$12,5 Miliar di Q2/2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:41:31 WIB
Bank Indonesia (BI) [FOTO: NET].

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat angka defisit transaksi berjalan menyentuh US$12,5 miliar atau setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB), membengkak dari posisi defisit pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$3,6 miliar atau setara 1% dari PDB. 

Apabila merujuk pada histori data sebelumnya, angka defisit transaksi berjalan senilai US$12,5 miliar tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah penerbitan laporan resmi BI.

Adapun rincian perkembangan transaksi berjalan ini dirilis BI melalui laporan bulanan Neraca Pembayaran Indonesia per triwulan. Laporan tersebut pertama kali mempublikasikan pencatatan transaksi berjalan pada kuartal I/2004 atau 22 tahun silam. 

Sejak periode tersebut, defisit transaksi berjalan nasional tidak pernah menyentuh level US$12,5 miliar—dengan catatan tertinggi sebelumnya berada di angka US$10,1 miliar pada kuartal II/2013.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa perlebaran defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh sejumlah faktor pendorong yang dinilai bersifat sementara.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas," ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Denny menambahkan, defisit neraca perdagangan migas membengkak imbas melonjaknya impor minyak yang sejalan dengan tingginya harga komoditas minyak di pasar global. 

Di samping itu, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat mengendur akibat peningkatan impor barang nonmigas demi memenuhi tingginya aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer mengalami peningkatan searah dengan pembayaran pendapatan primer, sementara itu surplus neraca pendapatan sekunder terpantau relatif stabil jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal I/2026.

Di sisi lain, neraca transaksi modal dan finansial menorehkan surplus senilai US$12 miliar pada kuartal II/2026, membaik dari periode sebelumnya yang sempat membukukan defisit sebesar US$4,8 miliar.

 Tren positif tersebut disokong oleh derasnya arus modal masuk pada investasi langsung maupun investasi portofolio.

Defisit Neraca Pembayaran Membaik

Hasil pergerakan transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial tersebut pada akhirnya bermuara pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

 BI mencatat NPI mengalami defisit sebesar US$0,9 miliar pada kuartal II/2026, membaik jika dibandingkan defisit triwulan sebelumnya yang menyentuh angka US$9,1 miliar.

Sementara itu, akumulasi cadangan devisa tercatat sebesar US$145,6 miliar pada kuartal II/2026, atau setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Bank sentral menegaskan posisi cadangan devisa tersebut masih berada di atas ambang batas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

BI pun optimistis neraca pembayaran akan terus mampu menopang ketahanan sektor eksternal. Alasannya, defisit transaksi berjalan diproyeksikan bakal melandai seiring membaiknya prospek ekspor akibat dorongan kenaikan harga komoditas global.

Transaksi modal dan finansial juga diprediksi tetap mempertahankan tren surplus berkat imbal hasil instrumen keuangan domestik yang kompetitif serta prospek ekonomi nasional yang solid, sehingga diharapkan terus memikat arus modal asing untuk masuk ke dalam negeri.

"Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI [neraca pembayaran Indonesia] 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," tutup Denny.

Tags

Terkini