IHSG Ditutup Menguat ke 6.525, Saham Bank Jumbo Bergeliat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:47:02 WIB
Indeks harga saham gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan hari ini, Jumat (21/8/2026), di zona hijau. Pergerakan positif tersebut ditopang oleh jajaran saham perbankan seperti BBNI, BBRI, hingga BMRI yang terus menguat sampai penutupan bursa.

Berdasarkan data BEI, IHSG menguat 0,37% dan parkir di level 6.525,69. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 6.507,43—6.551,96. Dari ratusan emiten yang ditransaksikan, 332 saham mencatatkan kenaikan, 314 saham tergerus, dan 317 saham ditutup tak bergerak.

Di jajaran saham LQ45, kenaikan tertinggi dicatatkan oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang melonjak 4,73% ke Rp1.440. Posisinya disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang naik 3,90% ke Rp3.730, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang terangkat 3,16% ke Rp196.

Apresiasi harga juga dirasakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar 2,87% ke level Rp3.230, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar 1,69% ke Rp4.220, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) yang menguat 1,66% ke Rp1.225.

Di sisi lain, tekanan terjadi pada PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang terkoreksi 2,18% ke Rp1.795, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang melemah 2,11% ke Rp1.390, dan PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) yang turun 1,82% ke Rp216.

Pelemahan serupa dialami PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) yang merosot 1,82% ke Rp810, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang terkikis 1,82% ke Rp540, serta PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang menyusut 1,78% ke level Rp2.210.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas mengungkapkan bursa di kawasan Asia bergerak menguat mengekor pergerakan positif Wall Street seiring meredanya tekanan pada pasar obligasi Amerika Serikat (AS). 

Pelaku pasar tampak mengabaikan notula rapat The Fed yang mengindikasikan bertambahnya dukungan pejabat bank sentral AS terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan sebelumnya.

“Investor justru merespons positif penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas, Kamis (20/8/2026).

Merosotnya imbal hasil tersebut menyusul pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai rencana peningkatan program pembelian kembali surat utang secara signifikan. 

Kebijakan tersebut dinilai efektif meredakan kecemasan pasar atas potensi kenaikan biaya pinjaman yang sempat menekan bursa saham global.

Pelaku pasar memproyeksikan melandainya imbal hasil obligasi pemerintah AS, khususnya untuk tenor panjang, mampu memulihkan keberanian investor dalam mengambil risiko. 

Sementara di Asia, sorotan investor juga tertuju pada kebijakan moneter Bank Sentral China yang kembali mempertahankan suku bunga acuan pinjaman pada posisi terendah sepanjang sejarah.

Dari domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak pasar global yang kian tinggi. 

Langkah ini juga diambil guna memastikan tingkat inflasi tetap berada pada sasaran 1,5%–3,5% pada 2026 dan 2027 sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketidakpastian global terus meningkat menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah. Pejabat Sementara Gubernur BI menegaskan bahwa fokus utama kebijakan moneter tetap pada penstabilan nilai tukar rupiah. Selain itu, BI bakal memperluas skema insentif lindung nilai guna menarik masuknya arus modal asing.

Tags

Terkini