JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada pasar spot mengakhiri perdagangan Selasa (18/8/2026) dengan pelemahan. Kurs rupiah terdepresiasi sebesar 64 poin atau 0,36 persen menuju level 17.862 per dollar Amerika Serikat (AS).
Tekanan terhadap mata uang garuda ini kian membesar bila dibandingkan saat pembukaan perdagangan, kala kurs melemah 52 poin atau 0,29 persen ke angka Rp 17.850 per dollar AS.
Indeks dollar AS (DXY) yang memantau kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah tipis 0,01 persen menuju posisi 99,626.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah yang berada di atas 83 dollar AS per barel. Lonjakan harga ini berpeluang memperbesar beban devisa nasional demi memenuhi pemenuhan impor energi.
“Tingginya kebutuhan impor minyak mentah membuat pelaku usaha dan pemerintah harus melakukan pembayaran dalam denominasi dollar AS,” ujar Ibrahim, Selasa sore ini.
Tingginya permintaan dollar AS untuk pembelian pasokan minyak mentah di pasar global pada akhirnya sanggup memperkokoh mata uang Paman Sam sekaligus menekan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat angka utang luar negeri (ULN) Indonesia menyentuh 453,4 miliar dollar AS atau setara Rp 8.089,1 triliun. Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian tersebut meningkat jika dibandingkan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 444,4 miliar dollar AS atau berkisar Rp 7.928,5 triliun.
Dinamika ULN pada kuartal II-2026 mengindikasikan utang luar negeri Indonesia berada dalam kondisi tetap terjaga, didukung oleh peningkatan ULN sektor publik serta kontraksi ULN swasta yang semakin melandai.
ULN pemerintah pada kuartal II-2026 terdata sebesar 216,3 miliar dollar AS atau kisaran Rp 3.860,4 triliun, tumbuh 2,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terhitung lebih rendah jika disandingkan dengan pertumbuhan ULN pemerintah pada kuartal I-2026 yang menyentuh 3,8 persen secara tahunan.
Perkembangan ULN pemerintah utamanya dipengaruhi masuknya aliran modal pada Surat Berharga Negara (SBN). Hal tersebut mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang masih aman.
Selain dinamika harga minyak dan posisi ULN, pelaku pasar juga mencermati hasil keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari pada 18-19 Agustus 2026. Hasil kebijakan moneter BI rencananya diumumkan pada Rabu (19/8/2026).
BI diproyeksikan bakal mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin pada rentang April-Juni 2026.
Di samping penetapan suku bunga, pasar bakal memperhatikan pandangan BI seputar stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi domestik, tingkat likuiditas perbankan, hingga prospek penyaluran kredit sampai penutupan tahun.
Sikap dan petunjuk kebijakan BI akan menjadi salah satu penentu pergerakan rupiah berikutnya di tengah tingginya ketidakpastian global. Langkah ini tergolong krusial setelah BI melakukan penataan stabilitas secara cukup agresif selama kurun beberapa bulan belakangan di bawah kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Kondisi harga minyak dunia kembali memanas seusai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa AS tidak bakal memperpanjang kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang disepakati pada pertengahan Juni dan telah berakhir pada Senin.
Trump turut kembali mempertegas bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz serta mengklaim pembicaraan dengan Iran masih berlanjut. Meski begitu, kedua klaim tersebut dibantah oleh otoritas Iran.
Trump juga memberikan ancaman akan membom Oman “habis-habisan” apabila negara tersebut “menghalangi”, kendati dasar dari ancaman tersebut belum dapat dipastikan.
Sementara itu, pihak Iran menyatakan bakal mengubah sikap militernya menjadi “sepenuhnya ofensif” lantaran negosiasi guna mengakhiri perang secara permanen dengan AS menghadapi jalan buntu.
Hal tersebut disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Senin, bersamaan dengan penolakan Washington untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Di tempat terpisah, militer kelompok Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap kapal militer Arab Saudi serta empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal. Keterangan tersebut disampaikan oleh juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Saree, lewat Telegram.
Secara terpisah, Iran dan Oman belakangan ini memberi sinyal adanya pembahasan terkait jalur pelayaran melintasi Selat Hormuz. Dinamika ini membantu meredakan sebagian kecemasan atas semakin ketatnya pasokan minyak. Namun, sampai saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai kesepakatan pasti menyangkut jalur pelayaran tersebut.
Ancaman inflasi akibat berlanjutnya kenaikan harga energi membuat para pelaku pasar belum sepenuhnya mencoret potensi kenaikan suku bunga di akhir tahun.
Para pelaku pasar kini menantikan dokumen risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) periode Juli yang dijadwalkan rilis pada Rabu. Risalah ini akan menjadi pegangan pasar guna mendapatkan kepastian lebih mendalam terkait pemetaan kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
Pergerakan harga minyak, ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah, peta kebijakan The Fed, serta ketetapan RDG BI menjadi deretan faktor kunci yang bakal menentukan arah rupiah dan pasar keuangan Indonesia dalam kurun waktu dekat.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi.