IHSG Turun ke 6.301,77 Imbas Rebalancing Indeks MSCI

Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:13:32 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan dengan pelemahan pada Kamis (13/8/2026). Penurunan kinerja indeks ini berbarengan dengan aksi rebalancing saham-saham Tanah Air yang dilakukan oleh penyedia indeks global MSCI Inc.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG melorot 1,13% menuju posisi 6.301,77. Dari total konstituen, terdapat 186 saham yang menguat, 474 saham melemah, dan 303 saham lainnya bergerak stagnan.

Di jajaran saham LQ45, penurunan harga terbesar dialami PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang anjlok 7,27% ke Rp510, disusul PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) yang terdepresiasi 7,04% ke Rp660, serta PT Vale Indonesia Tbk.

(INCO) yang tergerus 5,21% ke level Rp5.000. Pelemahan juga terjadi pada PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) sebesar 4,36% ke Rp1.865, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) sebesar 4,29% ke Rp446, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) sebesar 4,12% ke Rp2.790.

Di sisi lain, apresiasi harga dipimpin oleh PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) yang melesat 2,73% ke Rp2.630, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 0,84% ke Rp3.610, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) menanjak 0,83% ke Rp1.220. 

Penguatan serupa juga dicatatkan oleh PT Indika Energy Tbk. (INDY) naik 0,81% ke Rp2.500, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) naik 0,59% ke Rp8.475, dan PT Indosat Tbk. (ISAT) naik 0,41% ke Rp2.470.

Adapun hasil MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review menetapkan dua emiten Indonesia, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), dikeluarkan dari kelompok MSCI Global Standard Indexes. 

Khusus CPIN, emiten perunggas ini diturunkan kelasnya ke MSCI Global Small Cap Indexes. Di samping itu, sembilan emiten Indonesia lainnya turut terdepak dari MSCI Global Small Cap Indexes.

 Harga saham CPIN ditutup terkoreksi 1,59% ke level Rp3.100 pada siang harinya, sementara saham GOTO tertahan di level Rp50.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, berpendapat bahwa terdepaknya saham-saham Indonesia dari indeks MSCI merupakan peringatan tegas bahwa persoalan di pasar modal domestik bukan sebatas jumlah emiten atau nilai kapitalisasi pasar, melainkan telah menyentuh tingkat kualitas likuiditas dan investabilitas.

"Yang lebih mengkhawatirkan, kasus ini terjadi ketika pasar modal Indonesia sedang berupaya meyakinkan investor global bahwa reformasi pasar sudah berjalan," kata Hendra kepada Bisnis, Kamis (13/8/2026).

Di satu sisi, otoritas pasar modal nasional terus berbenah melalui peningkatan porsi free float, keterbukaan informasi pemegang saham, penguatan tata kelola, hingga beragam bentuk reformasi lain. 

Namun di sisi lain, sejumlah saham dalam negeri justru terdepak dari indeks internasional yang menjadi acuan utama investor institusional.

Ia menambahkan, keluarnya GOTO mestinya dicermati secara lebih kritis mengingat emiten tersebut bermodal kapitalisasi pasar besar serta menjadi bagian penting dari ekosistem pasar modal dalam negeri.

 Meski demikian, fakta menunjukkan bahwa nilai kapitalisasi raksasa tidak serta-merta menjamin kuatnya investability.

Bagi pemodal mancanegara, lanjut Hendra, besaran saham publik yang benar-benar siap diperdagangkan dan kemudahan bertransaksi dalam volume besar tanpa memicu guncangan harga jauh lebih dihargai ketimbang sekadar besaran nilai perusahaan.

Sejak awal tahun hingga 12 Agustus 2026, penjualan bersih (net sell) investor asing di pasar saham domestik telah menembus Rp70,42 triliun. 

Dalam dinamika tersebut, Hendra menilai terdepaknya emiten-emiten Indonesia dari indeks global berisiko memperburuk sentimen investor sekaligus membuat aliran modal asing bertindak kian selektif.

Apabila dalam satu periode evaluasi MSCI terdapat beberapa emiten Indonesia yang terdepak, menurutnya sorotan utama harus diarahkan pada mutu ekosistem pasar modal secara mendalam.

"Ini juga menjadi kritik terhadap pendekatan pengembangan pasar modal yang terlalu berorientasi pada supply side. Menambah emiten, menerbitkan produk baru dan memperbesar jumlah perusahaan tercatat memang penting, tetapi percuma jika tidak diikuti pertumbuhan demand dan likuiditas," jelasnya.

Tags

Terkini