JAKARTA - Bank Indonesia mencatat posisi uang primer (M0) adjusted mengalami pertumbuhan 17,1% secara tahunan (year on year/YoY) pada Juli 2026. Atas dinamika tersebut, total uang primer saat ini bertengger pada angka Rp2.254,5 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso memaparkan bahwasanya peningkatan 17,1% YoY tersebut mencatatkan kenaikan dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 13,8% YoY.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,1% YoY dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,1% YoY," ungkap Denny dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Apabila mencermati tren di sepanjang tahun berjalan ini, besaran uang primer yang disesuaikan tersebut sebenarnya mengalami tren penyusutan: dari posisi Rp2.367,8 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp2.254,5 triliun pada Juli 2026.
Sebagai informasi, uang primer merupakan uang kartal berupa kertas dan logam yang beredar di publik beserta simpanan giro bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia.
Sementara itu, uang primer adjusted memperlihatkan pergerakan uang primer yang telah memisahkan dampak dari pemangkasan giro bank di Bank Indonesia berkat penyaluran insentif likuiditas.
Merujuk pada elemen penggeraknya, kenaikan uang primer adjusted ini sudah memperhitungkan efek dari kucuran insentif likuiditas atau langkah pengendalian moneter adjusted.
Sampai periode April 2026, bagian dari uang primer mencakup Rp1.301 triliun uang kartal, Rp887,4 triliun giro bank umum di BI adjusted, Rp7,6 triliun giro sektor swasta di BI, serta Rp36 triliun surat berharga terbitan BI yang dipegang sektor swasta.
Instrumen surat berharga tersebut meliputi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) kepunyaan pihak swasta.