Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.897 Per Dollar AS, Ini Penopangnya

Jumat, 07 Agustus 2026 | 00:39:32 WIB
pecahan dolar AS dan rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat pada transaksi Jumat (7/8/2026). Mata uang garuda mengalami kenaikan 26 poin atau 0,15 persen menuju level Rp 17.897 per dollar Amerika Serikat (AS).

Posisi kurs rupiah pada sore akhir pekan ini berbalik naik bila dibandingkan saat pembukaan perdagangan pagi hari, ketika nilai mata uang Indonesia bertengger di level Rp 17.933 per dollar AS, atau terdepresiasi 0,06 persen dari hari sebelumnya di kisaran Rp 17.923 per dollar AS.

Lantas, pendorong apa saja yang memicu kenaikan kurs rupiah pada Jumat sore ini?

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 masih terjaga kuat di angka 145,3 miliar dollar AS, cenderung stabil bila dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang sebesar 145,6 miliar dollar AS.

Menurutnya, dinamika posisi cadangan devisa pada Juli 2026 utamanya dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.

Di lain sisi, ada pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh Bank Indonesia guna merespons tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juli setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Nominal tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional yang berkisar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Jumat sore ini.

Ke depan, Bank Indonesia (BI) optimistis ketahanan sektor eksternal Indonesia akan tetap aman, ditopang oleh kecukupan posisi cadangan devisa serta aliran modal asing yang masuk selaras dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

“Bank Indonesia juga terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” paparnya.

Melihat dari faktor eksternal, Ibrahim menyoroti kembalinya eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Media Iran mengabarkan Teheran telah melancarkan serangan ke sasaran yang mereka sebut sebagai “target-target bermusuhan” di Selat Hormuz dan berniat melarang armada kapal Amerika Serikat (AS) serta Israel melewati rute pelayaran strategis itu.

Kondisi tersebut mengemuka setelah pejabat Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz sudah berada di tahap akhir.

Sebelumnya, pada Kamis, pihak Iran meninjau rancangan undang-undang yang melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi Selat Hormuz, rute yang menjadi perlintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair (LNG) global sebelum pertempuran pecah pada akhir Februari.

Berdasarkan penilaian para analis, rentetan peristiwa itu mengindikasikan ketegangan antara pihak Iran dan AS masih belum usai.

Di samping itu, kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan skala besar yang menyasar pasukan pemerintah dukungan Arab Saudi. Isu ini memunculkan kecemasan bahwa konflik dapat meluas di wilayah Timur Tengah.

Walau begitu, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimismenya bahwa perang dapat usai dalam rentang waktu dekat.

Ia pun menegaskan bahwa pihak Amerika Serikat masih memegang kendali atas perairan Selat Hormuz.

Selain isu geopolitik, para pelaku pasar turut memantau arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar saat ini memproyeksikan peluang sekitar 60 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada September, menyusul laporan Financial Times yang menyebut Ketua Federal Reserve Kevin Warsh siap menaikkan biaya pinjaman bilamana tingkat inflasi tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Ia mengimbuhkan, perhatian investor sekarang tertuju pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang teragenda pada Jumat. Data ketenagakerjaan itu diperkirakan bakal menjadi penentu penting arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

“Para pembuat kebijakan tidak dapat membiarkan inflasi yang terus-menerus tinggi sembari menunggu kemungkinan bahwa pertumbuhan produktivitas yang lebih kuat pada akhirnya akan meredakan tekanan harga,” pungkas Ibrahim.

Tags

Terkini