JAKARTA - Setelah cukup lama menghadapi keterbatasan penerbangan, masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini mendapat angin segar. Konektivitas udara daerah ini berpeluang kembali menggeliat seiring kesiapan Lion Air Group untuk kembali mengoperasikan penerbangan di Bandara H Asan Sampit.
Langkah ini dinilai menjadi momentum penting bagi peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Kehadiran kembali maskapai nasional diharapkan membuka akses yang lebih luas menuju kota-kota besar di Indonesia.
Konektivitas udara Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berpeluang kembali bergeliat. Lion Air Group menyatakan kesiapan untuk kembali mengoperasikan penerbangan di Bandara H Asan Sampit, diawali dengan penggunaan pesawat ATR-72 melalui maskapai Wings Air untuk melayani rute-rute jarak pendek antarkabupaten di Kalimantan, sekaligus membuka akses ke kota-kota besar di Indonesia.
Kabar tersebut menjadi perhatian publik karena Bandara H Asan Sampit selama ini memiliki peran strategis dalam mendukung pergerakan masyarakat. Dengan kembalinya layanan penerbangan, harapan akan transportasi yang lebih lancar dan terjangkau pun semakin terbuka.
Kepastian awal tersebut disampaikan dalam audiensi antara Pemerintah Kabupaten Kotim, manajemen Bandara H Asan Sampit, dan jajaran Lion Air Group yang berlangsung di Rumah Jabatan Bupati, pada Kamis, 29 Januari 2026. Pertemuan tersebut menjadi titik awal konkret pembahasan rencana operasional penerbangan kembali di Sampit.
Audiensi ini mempertemukan berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengembangan transportasi udara daerah. Pemerintah daerah, pengelola bandara, dan pihak maskapai sepakat membangun kerja sama untuk memperkuat konektivitas.
“Dari hasil audiensi hari ini, kami sudah menerima jadwal bahwa Lion Air Group akan kembali terbang di Sampit. Tahap awal menggunakan pesawat ATR,” ujar Bupati Kotim H. Halikinnor. Pernyataan ini menegaskan bahwa rencana tersebut sudah memasuki tahap persiapan teknis.
Menurut Halikinnor, Kotim memiliki potensi penumpang dan kargo yang sangat besar. Selain menjadi kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di Kalimantan Tengah, Kotim juga dikenal sebagai daerah dengan luasan perkebunan sawit terluas di tingkat kabupaten se-Indonesia.
Kondisi tersebut mendorong tingginya kebutuhan mobilitas orang dan distribusi barang. Ketersediaan penerbangan yang memadai menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat dan pelaku usaha di wilayah ini.
Potensi Penumpang dan Kargo Kotim
Halikinnor menilai bahwa posisi Kotim sebagai pusat aktivitas ekonomi regional menjadikan daerah ini sangat potensial bagi pengembangan transportasi udara. Mobilitas pekerja, pengusaha, hingga aparatur pemerintah membutuhkan akses penerbangan yang stabil dan berkelanjutan.
Selain itu, sektor perkebunan dan perdagangan di Kotim juga sangat bergantung pada kelancaran distribusi logistik. Dengan dukungan penerbangan, rantai pasok komoditas dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
“Potensi penumpang dan kargo di Kotim sangat besar. Bahkan pihak Lion Air Group juga akan bertemu dengan para pengusaha untuk memetakan potensi tersebut secara lebih detail,” tambahnya. Upaya pemetaan ini bertujuan memastikan rute penerbangan yang dibuka benar-benar sesuai kebutuhan pasar.
Langkah tersebut juga mencerminkan pendekatan berbasis data dalam pengembangan jaringan penerbangan. Dengan pemetaan yang tepat, keberlanjutan operasional maskapai dapat lebih terjamin.
Ia mengakui, keterbatasan layanan penerbangan di Bandara H Asan Sampit selama ini menjadi kendala utama aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Ketergantungan pada satu maskapai dengan armada yang sudah berusia tua kerap menimbulkan pembatalan penerbangan dan ketidakpastian jadwal.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mencari alternatif rute perjalanan yang lebih pasti. Akibatnya, waktu dan biaya perjalanan sering kali meningkat.
“Ketidakpastian jadwal ini sangat dirasakan. Bahkan saya sendiri pernah dua kali mengalami pembatalan penerbangan. Akibatnya, para pengusaha lebih memilih terbang dari Pangkalan Bun atau Palangka Raya karena membutuhkan kepastian,” ungkap Halikinnor. Pengalaman pribadi tersebut memperkuat urgensi peningkatan layanan penerbangan di Sampit.
Situasi ini menunjukkan bahwa keberadaan maskapai yang andal sangat dibutuhkan di Bandara H Asan Sampit. Masyarakat membutuhkan jadwal yang konsisten agar dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik.
Kehadiran Lion Air Group diharapkan dapat menjadi solusi atas persoalan tersebut. Maskapai ini dikenal memiliki jaringan rute luas dan armada yang cukup untuk melayani berbagai kebutuhan perjalanan.
Halikinnor optimistis, selain ATR-72, ke depan penerbangan berbadan besar juga bisa beroperasi di Sampit seiring dengan kesiapan fasilitas bandara yang terus dibenahi secara bertahap. Hal ini membuka peluang peningkatan kapasitas angkut penumpang dan barang.
“Harapan kami, Wings Air bisa segera beroperasi, lalu disusul pesawat berbadan besar. Secara teknis bandara sudah siap dan akan terus kami tingkatkan,” tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan infrastruktur penerbangan.
Wings Air Jadi Tahap Awal Penerbangan
Sementara itu, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, menjelaskan bahwa tahap awal penerbangan di Sampit akan dilayani Wings Air menggunakan pesawat ATR 72 berkapasitas 72 penumpang kelas ekonomi. Armada ini dinilai sesuai untuk melayani rute jarak pendek antarkabupaten di Kalimantan.
Penggunaan pesawat turboprop tersebut juga mempertimbangkan karakteristik bandara dan kebutuhan pasar. Dengan kapasitas yang moderat, penerbangan dapat dilakukan lebih fleksibel dan efisien.
“Kami ingin mengembalikan peran strategis Bandara H Asan Sampit untuk memudahkan mobilitas masyarakat, mendukung perjalanan bisnis dan pemerintahan, serta mendorong pertumbuhan pariwisata dan distribusi komoditas di Kotim dan sekitarnya,” kata Danang. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengoperasian kembali penerbangan tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga berdampak sosial ekonomi.
Lion Air Group memandang Bandara H Asan Sampit sebagai simpul penting dalam jaringan transportasi regional Kalimantan. Dengan konektivitas yang lebih baik, potensi daerah diharapkan dapat berkembang lebih optimal.
Ke depan, Lion Air Group juga merencanakan pengoperasian pesawat berbadan besar melalui Super Air Jet dengan armada Airbus A320 untuk rute Sampit–Surabaya maupun ke daerah lain nantinya. Rencana ini menunjukkan komitmen jangka panjang dalam memperkuat konektivitas udara Kotim.
Penggunaan pesawat jet berbadan besar akan membuka peluang perjalanan langsung jarak menengah hingga jauh. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada bandara lain di luar Sampit.
“Kami berharap Februari ini sudah bisa dirilis. Kami mengajak pemerintah daerah, masyarakat, dan media untuk bersama-sama mempopulerkan Sampit agar manfaat konektivitas dan dampak ekonominya semakin luas,” lanjut Danang. Ajakan ini menekankan pentingnya dukungan bersama dalam memaksimalkan potensi penerbangan.
Kolaborasi antara maskapai, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan pengembangan transportasi udara. Dengan sinergi yang baik, dampak positif dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Dampak Positif bagi Mobilitas dan Ekonomi Daerah
Kembalinya layanan penerbangan di Bandara H Asan Sampit diharapkan membawa dampak signifikan bagi mobilitas masyarakat. Akses perjalanan yang lebih cepat dan nyaman dapat meningkatkan kualitas hidup warga Kotim.
Selain itu, dunia usaha juga akan mendapatkan keuntungan dari kepastian jadwal dan kemudahan distribusi barang. Hal ini dapat meningkatkan daya saing produk lokal di pasar regional maupun nasional.
Sektor pariwisata juga berpotensi terdorong dengan semakin terbukanya akses menuju Sampit. Wisatawan dapat menjangkau daerah ini dengan lebih mudah, sehingga potensi wisata alam dan budaya Kotim dapat lebih dikenal luas.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, perputaran ekonomi lokal pun diperkirakan ikut meningkat. Pelaku usaha di sektor perhotelan, kuliner, dan jasa transportasi darat akan merasakan dampak positifnya.
Pemerintah daerah memandang konektivitas udara sebagai salah satu fondasi pembangunan wilayah. Infrastruktur transportasi yang baik akan mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kehadiran kembali Lion Air Group di Bandara H Asan Sampit menjadi sinyal positif bagi masa depan transportasi udara di Kotim. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa daerah ini memiliki potensi pasar yang layak untuk dikembangkan.
Dengan armada ATR-72 sebagai tahap awal, diharapkan masyarakat segera merasakan manfaat nyata dari penerbangan kembali. Layanan ini dapat menjadi solusi praktis bagi perjalanan antarkota dan antardaerah di Kalimantan.
Seiring dengan rencana pengoperasian pesawat berbadan besar, cakupan rute penerbangan Sampit akan semakin luas. Hal ini akan memperkuat posisi Kotim sebagai salah satu pusat konektivitas di Kalimantan Tengah.
Ke depan, keberhasilan program ini juga bergantung pada dukungan masyarakat sebagai pengguna jasa. Tingginya tingkat okupansi penerbangan akan menjadi indikator utama keberlanjutan layanan.
Pemerintah daerah pun berkomitmen terus meningkatkan fasilitas bandara agar memenuhi standar operasional maskapai besar. Dengan infrastruktur yang memadai, peluang pengembangan rute baru akan semakin terbuka.
Sinergi antara pemerintah, maskapai, dan dunia usaha diharapkan mampu menciptakan ekosistem transportasi udara yang sehat. Ekosistem ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, kesiapan Lion Air Group untuk kembali terbang di Sampit menjadi kabar baik bagi masyarakat Kotim. Momentum ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat konektivitas dan meningkatkan kesejahteraan daerah.