JAKARTA - Banyak orang mengira penyakit jantung hanya menyerang mereka yang sudah lanjut usia atau memiliki riwayat keluarga tertentu. Padahal, pola makan sehari-hari yang tampak biasa justru bisa menjadi pemicu utama gangguan jantung secara perlahan.
Penyakit jantung adalah kondisi ketika jantung mengalami gangguan dan tidak berfungsi dengan baik. Penyakit jantung juga menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
Apa yang kita makan setiap hari ternyata sangat berpengaruh terhadap kesehatan jantung. Tanpa disadari, makanan yang sering ada di meja makan bisa merusak pembuluh darah dan otot jantung sedikit demi sedikit.
Banyak orang merasa tidak mengonsumsi makanan berbahaya, namun tiba-tiba divonis mengalami penyakit jantung. Ketika ditelusuri lebih jauh, makanan hariannya justru termasuk dalam kategori yang berisiko tinggi.
Dalam dunia kedokteran, hubungan antara makanan dan kesehatan jantung sangat erat. Menurut penelitian oleh Dr. Frank Hu dari Harvard School of Public Health yang diterbitkan di Journal Circulation tahun 2017, pola makan tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium berlebihan berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung.
Masalahnya, makanan-makanan tersebut bukanlah makanan langka atau mahal. Justru, jenis makanan inilah yang paling sering dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Tanpa gejala berarti di awal, jantung bisa mengalami kerusakan bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul keluhan. Kondisi inilah yang membuat penyakit jantung sering disebut sebagai pembunuh diam-diam.
Ada beberapa jenis makanan sehari-hari yang bisa merusak jantung dan jarang disadari. Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan paparan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP.
Gorengan yang Terlihat Sepele Tapi Memicu Penyumbatan
Makanan gorengan adalah favorit sejuta umat mulai dari bakwan sampai pisang goreng, tahu, tempe, atau ayam goreng tepung. Masalahnya bukan pada bahannya, tetapi pada minyak yang digunakan.
Minyak yang dipakai berulang kali akan menghasilkan lemak trans yang menurut WHO merupakan salah satu pemicu utama penyumbatan pembuluh darah. Lemak trans akan meningkatkan kadar LDL atau kolesterol jahat dan menurunkan HDL atau kolesterol baik.
LDL yang tinggi akan ditimbun menjadi plak aterosklerosis di pembuluh darah. Sementara HDL yang seharusnya membersihkan LDL justru menurun akibat konsumsi lemak trans.
Kombinasi ini sangat disukai oleh penyakit jantung. Rasanya memang enak dan harganya murah, tetapi efeknya seperti menabung plak di arteri setiap hari.
Gorengan juga sering dikonsumsi dalam jumlah besar dan berulang kali dalam sehari. Hal ini membuat tubuh terus-menerus terpapar zat berbahaya dari minyak bekas pakai.
Dalam jangka panjang, pembuluh darah menjadi lebih kaku dan sempit. Kondisi ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Tanpa disadari, kebiasaan makan gorengan harian dapat mempercepat munculnya tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi inilah yang menjadi salah satu faktor utama penyakit jantung.
Banyak orang merasa aman karena belum merasakan gejala apa pun. Padahal, proses penyumbatan pembuluh darah sedang berlangsung secara perlahan.
Garam Berlebih yang Membebani Kerja Jantung
Makanan tinggi garam seperti mie instan, kerupuk, ikan asin, dan camilan gurih adalah favorit banyak orang. Garam membuat tekanan darah naik sehingga jantung harus memompa lebih keras setiap hari.
Jika setiap hari makan makanan asin, maka sama dengan memaksa jantung olahraga angkat beban tanpa istirahat. Tekanan darah tinggi adalah silent killer yang merusak pembuluh darah tanpa gejala jelas.
Menurut penelitian di Journal of American College of Cardiology tahun 2020, konsumsi garam berlebihan berhubungan langsung dengan risiko gagal jantung. Risiko ini meningkat seiring lamanya paparan natrium tinggi dalam tubuh.
Tekanan darah yang terus meningkat akan merusak dinding pembuluh darah. Kerusakan ini membuat pembuluh darah lebih mudah tersumbat oleh kolesterol dan plak.
Dalam jangka panjang, aliran darah ke jantung sendiri juga bisa terganggu. Kondisi inilah yang memicu terjadinya serangan jantung.
Masalahnya, makanan tinggi garam sering kali tidak terasa terlalu asin di lidah. Hal ini membuat banyak orang tidak sadar bahwa asupan natrium mereka sudah melebihi batas aman.
Tanpa perubahan pola makan, tekanan darah tinggi bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa keluhan. Saat gejala muncul, kerusakan biasanya sudah cukup parah.
Karena itu, membatasi makanan asin menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan jantung. Kebiasaan kecil ini bisa berdampak besar dalam jangka panjang.
Gula Berlebih dalam Makanan dan Minuman Manis
Minuman manis seperti teh manis, kopi susu gula tumpah, boba, roti manis, dan jajanan kekinian mengandung gula sangat tinggi. Konsumsi gula berlebih memicu resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes yang menjadi pintu depan menuju penyakit jantung.
American Heart Association merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 25 gram per hari untuk perempuan dan 36 gram untuk laki-laki. Namun, satu gelas boba saja bisa mengandung 60 hingga 100 gram gula.
Belum lagi jika minuman manis dikonsumsi lebih dari sekali dalam sehari. Kondisi ini membuat kadar gula darah melonjak berulang kali.
Lonjakan gula darah memaksa pankreas bekerja lebih keras menghasilkan insulin. Dalam jangka panjang, sel tubuh menjadi tidak responsif terhadap insulin dan muncullah resistensi insulin.
Resistensi insulin meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Diabetes sendiri merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah.
Selain itu, gula berlebih akan diubah menjadi lemak oleh tubuh. Lemak ini dapat menumpuk di hati, perut, dan pembuluh darah.
Penumpukan lemak di pembuluh darah mempercepat terbentuknya plak aterosklerosis. Akibatnya, aliran darah ke jantung menjadi terganggu.
Ironisnya, minuman manis sering dianggap sebagai hiburan kecil setelah lelah bekerja. Padahal, kebiasaan ini diam-diam membebani jantung setiap hari.
Bahaya Daging Olahan yang Terlihat Praktis
Makanan olahan seperti sosis, nugget, dan smoked beef adalah makanan praktis, cepat dimasak, dan rasanya membuat ketagihan. Namun menurut penelitian di European Heart Journal tahun 2021 yang melibatkan lebih dari 1,4 juta peserta, konsumsi daging olahan meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke secara signifikan.
Penyebabnya bukan hanya kandungan lemak jenuh yang tinggi. Daging olahan juga mengandung nitrit dan nitrat sebagai bahan pengawet.
Zat-zat ini dapat memicu peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis berperan besar dalam perkembangan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Selain itu, nitrit dan nitrat juga dapat meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama gagal jantung dan serangan jantung.
Daging olahan sering kali dikonsumsi sebagai lauk praktis sehari-hari. Tanpa disadari, paparan zat berbahaya ini terjadi secara terus-menerus.
Rasa gurih dan tekstur empuk membuat makanan ini sulit dihindari. Namun di balik kepraktisannya, risiko jangka panjangnya cukup serius.
Dokter sering mengibaratkan daging olahan seperti teman yang tampak baik di awal. Padahal, diam-diam membahayakan kesehatan jantung.
Membatasi konsumsi daging olahan dan menggantinya dengan protein segar menjadi langkah bijak. Langkah ini membantu menurunkan risiko penyakit jantung dalam jangka panjang.
Minuman Bersoda dan Minuman Energi yang Membuat Jantung Bekerja Ekstra
Minuman bersoda dan minuman berenergi mengandung gula tinggi serta tambahan bahan kimia seperti kafein dalam jumlah besar. Kombinasi ini membuat jantung bekerja ekstra keras.
Banyak anak muda merasa aman mengonsumsinya karena belum merasakan gejala apa pun. Padahal, penelitian di JAMA Internal Medicine tahun 2019 menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis secara rutin berhubungan erat dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung.
Ironisnya, saat efek energi dari minuman ini habis, sisa gula dan kafein masih membuat jantung berdebar tiba-tiba. Kondisi ini bisa terasa sebagai palpitasi atau jantung berdebar tidak nyaman.
Lonjakan gula dan kafein juga memicu peningkatan tekanan darah sementara. Jika terjadi berulang, tekanan darah bisa menetap tinggi dalam jangka panjang.
Selain itu, minuman bersoda sering dikonsumsi bersamaan dengan makanan tinggi lemak dan garam. Kombinasi ini semakin memperbesar risiko penyakit jantung.
Yang sering terlupa adalah bahwa makanan dan minuman ini tidak hanya berbahaya jika dikonsumsi dalam porsi besar. Konsumsi sedikit demi sedikit tetapi rutin setiap hari justru lebih menakutkan.
Efeknya kecil namun konsisten seperti tetesan air yang dapat membentuk lubang di batu jika terjadi terus-menerus. Tubuh memang mampu beradaptasi, tetapi kemampuan itu ada batasnya.
Jantung sebagai mesin utama tubuh sangat rentan terhadap serangan jangka panjang seperti ini. Kerusakan sering terjadi tanpa disadari sampai akhirnya muncul gejala serius.
Kebiasaan Makan Harian dan Dampaknya pada Jantung
Menariknya, banyak pasien mengira masalah jantung datang secara tiba-tiba. Padahal, jika ditelusuri kebiasaan makan mereka selama bertahun-tahun, pola makannya tidak pernah benar-benar terkendali.
Makanan gorengan, asin, manis, daging olahan, serta minuman bersoda sering menjadi bagian dari menu harian. Tanpa disadari, kebiasaan inilah yang perlahan merusak pembuluh darah dan jantung.
Penyakit jantung jarang muncul dalam semalam. Sebaliknya, penyakit ini berkembang selama bertahun-tahun akibat paparan terus-menerus terhadap pola makan tidak sehat.
Sayangnya, karena tidak menimbulkan gejala di awal, banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja. Kondisi ini membuat perubahan gaya hidup sering terlambat dilakukan.
Padahal, mengubah pola makan lebih awal dapat menurunkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih efektif daripada perubahan besar yang hanya bertahan sebentar.
Mengurangi gorengan, membatasi gula dan garam, serta memilih makanan segar adalah langkah penting. Kebiasaan ini membantu menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah tetap stabil.
Dengan pola makan yang lebih sehat, pembuluh darah tetap elastis dan aliran darah menjadi lancar. Jantung pun dapat bekerja lebih efisien tanpa beban berlebih.
Kesadaran akan peran makanan dalam kesehatan jantung perlu ditanamkan sejak dini. Jantung yang sehat bukan hanya soal usia, tetapi juga soal pilihan makanan setiap hari.