JAKARTA - Transformasi besar-besaran yang dilakukan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sejak beberapa tahun terakhir terus menghadirkan kejutan baru bagi publik. Tidak hanya berbenah dari sisi ruang hijau dan fasilitas publik, kawasan ini juga mulai melangkah ke arah pengembangan gaya hidup modern yang tetap berpijak pada kekayaan budaya nusantara.
Kini, TMII tidak lagi sekadar dikenal sebagai destinasi wisata edukasi keluarga dan pelajar. Kawasan ini perlahan berkembang menjadi ruang rekreasi terpadu yang menyuguhkan pengalaman berkunjung lebih lengkap, termasuk rencana menghadirkan kembali fasilitas penginapan di dalam area taman.
Kehadiran hotel di kawasan TMII menjadi kabar yang cukup dinanti oleh masyarakat. Pengunjung yang selama ini hanya datang untuk wisata harian, nantinya dapat merasakan pengalaman bermalam di tengah suasana hijau dan budaya khas Indonesia.
Direktur PT Bhumi Visatanda, Ratri Paramitha, mengungkapkan bahwa rencana ini sedang dipersiapkan secara matang oleh manajemen. “Lalu paling juga kami merencanakan akan buka hotel di Taman Mini. Atau mungkin tahun depan jadi masih kita kita masih lihat pembangunannya seperti apa ya,” ungkap Ratri.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa TMII sedang memetakan konsep terbaik untuk menghadirkan kembali hotel dengan nuansa yang relevan dengan kebutuhan wisatawan masa kini. Proyek ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman pengunjung yang ingin menikmati kawasan TMII lebih lama.
Bagi masyarakat urban yang merindukan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta, langkah ini membawa harapan baru. Revitalisasi hotel di TMII dipandang sebagai angin segar bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa pedesaan dalam balutan modernitas.
Alih-alih membangun gedung beton baru yang kaku, manajemen TMII memilih pendekatan berbeda. Akomodasi legendaris yang pernah ada akan disulap menjadi penginapan yang lebih estetik, nyaman, dan tetap selaras dengan karakter kawasan.
Langkah ini sejalan dengan visi TMII untuk menjadi destinasi wisata yang ramah lingkungan dan berorientasi pada pengalaman pengunjung. Konsep penginapan pun dirancang tidak hanya sebagai tempat bermalam, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan wisata budaya.
Hotel Desa Wisata Siap Dihidupkan Kembali
Ratri menjelaskan bahwa sebenarnya TMII sudah memiliki hotel sejak lama. “Sebenarnya bukan pembangunan lagi sih. Kita sudah ada hotel di sini namanya Hotel Desa Wisata. Jadi kita akan menghidupkan kembali hotel tersebut. Itu itu dekat sini nih di dekatnya musim kemunduran masuk ke dalam,” ucap dia.
Hotel Desa Wisata yang berada di dalam kawasan TMII tersebut akan kembali dioperasikan setelah melalui proses pembaruan konsep dan fasilitas. Keberadaannya diharapkan menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana khas nusantara secara lebih mendalam.
Menurut Ratri, pengelola tidak ingin sekadar menghidupkan kembali bangunan lama tanpa pembaruan yang signifikan. Oleh karena itu, manajemen sangat selektif dalam menentukan mitra operator hotel agar mampu menghadirkan standar pelayanan yang kompetitif.
“ Kita saat ini kemarin sudah kita mulai tender untuk apa operator hotelnya sudah keluar keluar ininya nanti kita akan melakukan sebetulnya apa yang dilakukan hotel sekarang,” tutur Ratri. Proses tender tersebut dilakukan untuk memastikan pengelolaan hotel sesuai dengan kebutuhan wisatawan modern.
Dengan pendekatan tersebut, TMII berharap hotel yang dihadirkan nantinya mampu bersaing dengan hotel-hotel butik yang berkembang di berbagai destinasi wisata nasional. Tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga pengalaman menginap yang berkesan dan bernilai budaya.
Keberadaan hotel ini nantinya juga mendukung wisatawan luar kota yang ingin menjelajahi TMII lebih lama. Pengunjung tidak lagi perlu mencari penginapan di luar kawasan, karena fasilitas akomodasi sudah tersedia di dalam area taman.
Hotel Desa Wisata dirancang agar tetap mempertahankan nuansa tradisional Indonesia. Namun, sentuhan modern akan dihadirkan agar selaras dengan standar resort masa kini.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi TMII sebagai kawasan wisata terpadu. Manajemen tidak hanya fokus pada atraksi harian, tetapi juga pada pengembangan ekosistem pariwisata berkelanjutan.
Konsep Modern dengan Akar Budaya Nusantara
Ratri menjelaskan bahwa perubahan gaya manajemen menjadi fokus utama sejak TMII memasuki babak baru pada 2023. Kepemimpinan baru membawa pendekatan yang lebih segar dalam mengelola kawasan wisata nasional ini.
“Hotel ini kan kami saya dari eh kami dari Taming ini itu kan baru masuk ke pengelolaan ini di 2023. Jadi, bedanya pasti kalau dulu sebelum ada internship kan beda untuk konsep, untuk operator,” papar dia. Pernyataan ini menegaskan adanya pergeseran paradigma dalam pengelolaan fasilitas TMII.
Konsep hotel yang akan dihadirkan tidak lagi sekadar sebagai tempat singgah sementara. Penginapan ini dirancang menjadi bagian integral dari pengalaman wisata budaya di TMII.
Manajemen ingin menghadirkan vibes yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Unsur modernitas akan berpadu dengan kekayaan budaya nusantara agar tetap relevan bagi generasi muda.
Pendekatan ini sejalan dengan transformasi TMII yang kini tampil lebih hijau dan ramah pengunjung. Revitalisasi taman, ruang terbuka hijau, serta fasilitas publik lainnya menjadi fondasi kuat bagi pengembangan hotel tersebut.
Dengan demikian, hotel tidak hanya menjadi bangunan tambahan, tetapi juga bagian dari ekosistem wisata yang terintegrasi. Pengunjung dapat menikmati alam, budaya, dan kenyamanan modern dalam satu kawasan.
Kehadiran hotel ini diharapkan dapat memperpanjang durasi kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya TMII hanya dikunjungi dalam hitungan jam, kini wisatawan berpeluang menjadikannya sebagai destinasi menginap.
Hal ini juga membuka peluang bagi TMII untuk menghadirkan berbagai program wisata malam hari. Aktivitas budaya, pertunjukan seni, hingga wisata kuliner dapat dikembangkan lebih optimal.
Pengalaman Menginap yang Lebih dari Sekadar Akomodasi
Ratri berharap hotel di TMII nantinya tidak hanya menjadi objek foto semata. Penginapan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman indrawi yang lengkap bagi para tamu.
Mulai dari udara yang lebih bersih hingga suasana alam yang menenangkan akan menjadi bagian dari pengalaman menginap. Kekayaan budaya yang dinamis di kawasan TMII juga akan memperkaya aktivitas wisatawan selama bermalam.
“Taman Mini saat ini sudah beda cerita. Taman Mini sudah lebih hijau. Eee experience-nya juga banyak, budaya banyak. Silahkan ajak anak-anaknya ke sini, ajak keluarga bernostalgia, bahkan sampai budaya,” pungkas dia. Pernyataan ini menggambarkan optimisme manajemen terhadap wajah baru TMII.
Transformasi TMII sebagai destinasi wisata modern tidak menghilangkan identitas utamanya sebagai etalase budaya Indonesia. Justru, pembaruan dilakukan untuk memperkuat posisi TMII sebagai ruang belajar, rekreasi, dan nostalgia lintas generasi.
Dengan konsep hotel desa wisata yang dihidupkan kembali, TMII ingin menghadirkan pengalaman liburan yang lebih personal dan mendalam. Pengunjung dapat merasakan suasana pedesaan nusantara tanpa harus meninggalkan Jakarta.
Keberadaan hotel ini juga diharapkan dapat menarik segmen wisatawan yang lebih luas. Tidak hanya keluarga dan pelajar, tetapi juga pasangan, komunitas, hingga wisatawan mancanegara yang tertarik pada budaya Indonesia.
TMII memandang pengembangan akomodasi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing destinasi. Dengan fasilitas menginap di dalam kawasan, pengalaman wisata dapat berlangsung lebih utuh dan berkesinambungan.
Selain itu, hotel desa wisata diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas budaya malam hari. Berbagai pertunjukan seni tradisional dan kegiatan tematik dapat dikemas sebagai daya tarik tambahan bagi para tamu.
Dengan pendekatan ini, TMII tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga ruang untuk tinggal dan merasakan suasana Indonesia secara lebih mendalam. Konsep ini sejalan dengan tren wisata pengalaman yang semakin diminati.
Ke depan, manajemen optimistis bahwa kehadiran kembali hotel di TMII akan memperkuat citra kawasan sebagai destinasi wisata nasional kelas dunia. Integrasi antara alam, budaya, dan kenyamanan modern menjadi fondasi utama dalam pengembangan ini.
Langkah ini sekaligus menandai fase baru perjalanan TMII setelah revitalisasi besar-besaran. Kawasan yang dahulu identik dengan wisata edukasi kini berkembang menjadi pusat gaya hidup dan rekreasi terpadu.
Dengan visi tersebut, TMII berharap dapat terus relevan di tengah persaingan destinasi wisata modern. Kehadiran hotel desa wisata menjadi simbol komitmen untuk menghadirkan pengalaman liburan yang lebih lengkap, nyaman, dan bermakna.