Deretan Kuliner Ayam Nusantara Paling Ikonik yang Mendunia dan Wajib Dicoba

Kamis, 29 Januari 2026 | 09:27:28 WIB
Deretan Kuliner Ayam Nusantara Paling Ikonik yang Mendunia dan Wajib Dicoba

JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai “Mother of Spices” karena kekayaan rempah-rempahnya yang melimpah dan beragam. Tak heran jika kekayaan tersebut melahirkan berbagai hidangan khas Nusantara yang penuh cita rasa dan karakter.

Di antara banyak sumber protein, ayam menjadi bahan makanan favorit masyarakat Indonesia. Ayam mudah dipadukan dengan berbagai rempah lokal sehingga mampu menghadirkan cita rasa berbeda di setiap daerah.

Dari Sabang sampai Merauke, setiap wilayah memiliki resep turun-temurun yang bukan hanya lezat, tetapi juga mencerminkan identitas budaya masyarakat setempat. Karena itulah, banyak olahan ayam Nusantara kini dikenal hingga mancanegara berkat keunikan rasanya.

Setiap hidangan ayam yang tersaji membawa cerita, filosofi, dan tradisi memasak yang diwariskan lintas generasi. Berikut ragam kuliner ayam Nusantara yang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia dan kerap menjadi incaran wisatawan asing.

Ayam Khas Sumatra dan Bali yang Sarat Makna Budaya

Ayam Napinadar merupakan salah satu hidangan khas dari Sumatra Utara yang terkenal di Tanah Batak. Kuliner ini memiliki cita rasa unik dan kuat berkat penggunaan andaliman yang dikenal sebagai “merica Batak”.

Andaliman memberikan sensasi pedas segar seperti jeruk yang membedakan ayam napinadar dari olahan ayam lainnya. Rempah-rempah seperti serai, lengkuas, jahe, kunyit, bawang putih, bawang merah, kemiri, dan cabai rawit turut memperkaya rasanya.

Keistimewaan ayam napinadar tidak hanya terletak pada bumbunya, tetapi juga pada teknik memasaknya. Daging ayam dipanggang di atas bara arang sehingga menghasilkan aroma asap yang khas dan menggugah selera.

Bagi masyarakat setempat, hidangan ini dipercaya membawa harapan akan kesehatan dan rezeki bagi siapa pun yang menikmatinya. Nilai simbolis tersebut menjadikan ayam napinadar lebih dari sekadar makanan sehari-hari.

Beranjak ke Bali, ayam betutu menjadi salah satu kuliner ikonik yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Ayam betutu dibuat menggunakan bumbu base genep atau jangkep yang dipadukan dengan wewangenan sebagai aromatik.

Istilah “betutu” merujuk pada teknik memasak daging yang dibungkus daun pisang lalu dipanggang. Dalam bahasa Bali, “be” berarti daging dan “tutu” berarti panggang.

Proses pengolahan ayam betutu dilakukan dengan membumbui ayam menggunakan rempah lengkap, kemudian membungkusnya dengan daun pisang. Setelah itu, ayam dipanggang atau dikukus dalam waktu lama hingga teksturnya lembut dan aromanya kaya.

Konon, masakan ini dulunya menjadi hidangan para raja, bangsawan, dan keluarga kerajaan Bali pada abad ke-16. Seiring waktu, ayam betutu mulai dikenal luas setelah dipopulerkan oleh Ni Wayan Tempeh pada 1976 bersama suaminya, I Nyoman Suratna.

Keduanya mendirikan Warung Ayam Betutu Men Tempeh yang kemudian menjadi pelopor kuliner betutu di Bali. Hingga kini, ayam betutu tetap menjadi ikon kuliner Pulau Dewata yang dicari wisatawan lokal maupun mancanegara.

Ayam Khas Sulawesi dan Sumatra Barat yang Menggugah Selera

Ayam woku merupakan salah satu daya tarik wisata kuliner di Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado. Hidangan ini dimasak dengan bumbu kuning pedas yang segar dan gurih.

Kata “woku” berasal dari daun woka atau lontar yang biasanya digunakan sebagai pembungkus nasi. Dalam praktiknya, olahan woku terbagi menjadi dua jenis, yaitu Woku Belanga dan Woku Daun.

Woku Belanga dimasak menggunakan kuali besar sehingga kuah dan bumbu meresap sempurna ke dalam daging ayam. Sementara itu, Woku Daun dimasak dengan cara dibungkus daun woka seperti pepes sehingga menghasilkan aroma khas yang kuat.

Kombinasi rempah segar, cabai, dan daun aromatik membuat ayam woku memiliki karakter rasa yang tajam dan menggoda. Hidangan ini sering menjadi favorit bagi pencinta masakan pedas khas Sulawesi Utara.

Selain rendang, kuliner tradisional Minangkabau juga memiliki ayam pop sebagai hidangan ikonik dari Sumatra Barat. Ayam pop dikenal dengan tekstur dagingnya yang lembut, rasanya gurih, dan tampilannya yang agak pucat.

Masakan Padang ini pertama kali muncul di daerah Bukittinggi dan diciptakan oleh sebuah rumah makan lokal pada pertengahan abad ke-20. Pada masa itu, bahan makanan cukup terbatas sehingga masyarakat memanfaatkan ayam kampung dan air kelapa sebagai bahan utama.

Penggunaan air kelapa dan beragam rempah lokal dalam proses perebusan membuat ayam pop berbeda dari ayam goreng pada umumnya. Setelah direbus, ayam digoreng sebentar untuk memberikan warna kecokelatan tanpa menghilangkan kelembutan dagingnya.

Ayam pop biasanya disajikan bersama sambal merah khas Minang yang pedas dan segar. Kombinasi tersebut menciptakan keseimbangan rasa yang membuat hidangan ini tetap digemari hingga sekarang.

Keunikan ayam pop terletak pada kesederhanaan teknik memasak yang tetap menghasilkan cita rasa istimewa. Hidangan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bahan dapat melahirkan kuliner legendaris.

Ayam Khas Yogyakarta dan Warisan Kuliner Jawa

Ayam goreng Kalasan merupakan salah satu ikon kuliner Yogyakarta yang sangat populer. Rasanya kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Kota Pelajar tanpa mencicipi hidangan ini.

Resep ayam goreng Kalasan diracik oleh Mbok Berek yang konon tinggal di Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan. Dari dapur sederhana inilah lahir salah satu olahan ayam paling terkenal di Jawa Tengah.

Hal yang membuat ayam goreng Kalasan berbeda dari ayam goreng lainnya adalah kremesannya yang renyah dan gurih. Kremesan ini dibuat dari campuran tepung dan telur yang dicampur dengan air kaldu berbumbu.

Tekstur kremesan yang mekar dan tetap renyah memberikan sensasi tersendiri saat disantap bersama ayam goreng. Perpaduan ayam yang empuk dan kremesan gurih menciptakan cita rasa yang sulit dilupakan.

Sambal ayam goreng Kalasan juga memiliki karakter khas yang membedakannya dari sambal lainnya. Cabai, bawang merah, dan bawang putih direbus dengan air kaldu ayam, lalu diulek bersama bumbu dasar dan sedikit terasi.

Hasilnya adalah sambal pedas gurih yang menjadi pelengkap sempurna ayam goreng Kalasan. Kombinasi tersebut membuat hidangan ini selalu dirindukan oleh wisatawan maupun masyarakat lokal.

Ayam goreng Kalasan menjadi contoh bagaimana resep rumahan bisa berkembang menjadi kuliner nasional. Dari dapur desa, hidangan ini kini dikenal luas di berbagai kota di Indonesia.

Setiap gigitan ayam goreng Kalasan menghadirkan rasa gurih yang kaya rempah tanpa terasa berlebihan. Inilah yang membuatnya cocok disantap kapan saja, baik sebagai lauk utama maupun hidangan spesial.

Kekayaan Ayam Nusantara sebagai Identitas Bangsa

Lima kuliner ayam Nusantara tersebut diolah dengan bahan dan rempah khas yang tumbuh di alam Indonesia. Setiap hidangannya menggambarkan budaya dan kreativitas masyarakat dalam merawat tradisi lokal melalui masakan.

Ayam napinadar, ayam betutu, ayam woku, ayam pop, dan ayam goreng Kalasan masing-masing memiliki karakter rasa yang unik. Perbedaan teknik memasak dan bumbu menjadikan setiap hidangan sebagai cerminan identitas daerah asalnya.

Keberagaman ini menunjukkan bahwa ayam bukan hanya bahan pangan, tetapi juga medium ekspresi budaya. Dari satu daerah ke daerah lain, ayam diolah dengan cara yang mencerminkan nilai dan tradisi masyarakat setempat.

Melalui kuliner ayam Nusantara, kita dapat memahami sejarah, kebiasaan, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Setiap resep menjadi catatan hidup tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya.

Menjelajahi ragam kuliner ayam Nusantara berarti menjelajahi kekayaan rasa Indonesia. Dari pedas segar khas Batak hingga gurih lembut ala Minangkabau, semuanya menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda.

Selain menghadirkan kenikmatan rasa, hidangan-hidangan ini juga mempererat hubungan sosial. Banyak di antaranya disajikan dalam acara adat, perayaan keluarga, dan momen kebersamaan masyarakat.

Ayam betutu yang dahulu menjadi hidangan kerajaan kini bisa dinikmati oleh siapa saja. Hal ini menunjukkan bagaimana kuliner tradisional berkembang seiring waktu tanpa kehilangan identitasnya.

Begitu pula ayam pop yang lahir dari keterbatasan bahan justru menjadi ikon masakan Padang. Kesederhanaan prosesnya membuktikan bahwa kreativitas dapat menghasilkan cita rasa luar biasa.

Ayam woku dengan bumbu segar dan daun aromatik mencerminkan kekayaan rempah Sulawesi Utara. Hidangan ini menjadi daya tarik wisata kuliner yang semakin dikenal luas.

Sementara itu, ayam goreng Kalasan dengan kremesan renyah menjadi simbol kuliner Yogyakarta yang ramah di lidah siapa saja. Perpaduan rasa gurih dan pedas membuatnya mudah diterima berbagai kalangan.

Ayam napinadar dengan andaliman khas Batak menghadirkan sensasi pedas yang berbeda dari cabai biasa. Keunikan rempah ini menjadi ciri khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Dengan menjelajahi berbagai destinasi kuliner ini, kita tidak hanya menikmati kelezatan rasa, tetapi juga mengenal lebih dekat kekayaan identitas bangsa. Setiap hidangan ayam Nusantara menjadi jembatan antara tradisi masa lalu dan selera masa kini.

Kuliner ayam Nusantara membuktikan bahwa kekayaan alam Indonesia mampu melahirkan ragam rasa yang mendunia. Tidak heran jika banyak wisatawan mancanegara tertarik mencicipi hidangan-hidangan ini saat berkunjung ke Indonesia.

Melalui ayam dan rempah-rempah lokal, Indonesia memperkenalkan identitas kuliner yang kuat dan autentik. Setiap sajian menjadi representasi budaya yang hidup dan terus berkembang.

Ragam olahan ayam ini menunjukkan betapa luasnya kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengolah bahan pangan sederhana. Dari teknik panggang, rebus, kukus, hingga goreng, semuanya menghasilkan karakter rasa yang berbeda.

Ayam Nusantara bukan sekadar menu sehari-hari, tetapi juga warisan budaya yang patut dilestarikan. Setiap resep membawa cerita tentang asal-usul, lingkungan, dan nilai-nilai masyarakat setempat.

Dengan mengenal dan mencicipi kuliner ayam Nusantara, kita turut menjaga keberlanjutan tradisi kuliner Indonesia. Melalui rasa, kita belajar menghargai kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai harganya.

Terkini