Mengenal 21 Spesifikasi Mutu Biodiesel B50 yang Resmi Berlaku

Mengenal 21 Spesifikasi Mutu Biodiesel B50 yang Resmi Berlaku
Pemerintah Tetapkan 21 Parameter Mutu untuk Biodiesel B50 [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah telah resmi memberlakukan biodiesel B50, yakni bahan bakar yang terdiri dari campuran 50 persen solar dan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Kebijakan tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026. 

Meskipun kandungan biodieselnya lebih tinggi dibandingkan B40, pemerintah memastikan B50 aman digunakan pada mesin diesel karena telah memenuhi standar mutu yang ketat. Pengujian mutu B50 mengacu pada SNI 7182:2024. 

Sebelum dipasarkan ke masyarakat, bahan bakar ini wajib lolos 21 parameter teknis untuk menjamin kualitas, keamanan, dan performanya. Adapun parameter tersebut mencakup aspek fisik, kandungan kimia, hingga tingkat kestabilan bahan bakar.

Berikut adalah spesifikasi mutu biodiesel B50 yang wajib dipenuhi:

Massa jenis:

 Standar kisaran 850-890 kg/m³ pada suhu 40 derajat Celcius. Massa jenis rendah dapat mengurangi energi, sementara terlalu tinggi berisiko mengganggu injektor.

Viskositas kinematik: 

Kisaran 2,3-6,0 cSt. Terlalu encer mengurangi pelumasan, terlalu kental membuat pembakaran kurang optimal.

Angka setana: 

Minimal 51 untuk membuat mesin bekerja lebih halus dan emisi lebih rendah.

Titik nyala: 

Minimal 130 derajat Celcius guna memastikan keamanan penyimpanan dan distribusi.

Korosi lempeng tembaga: 

Harus berada pada Nomor 1 agar tidak korosif terhadap komponen logam.

Residu karbon:

 Harus serendah mungkin untuk mencegah kerak pada ruang bakar dan injektor.

Temperatur distilasi: 

Menunjukkan karakteristik penguapan agar pembakaran tetap optimal.

Abu tersulfatkan: 

Maksimal 0,02 persen agar tidak menimbulkan endapan yang mempercepat keausan.

Kandungan belerang: 

Maksimal 10 mg/kg untuk membantu menekan emisi.

Kandungan fosfor: 

Maksimal 4 mg/kg agar sistem pengendali emisi tidak rusak.

Angka asam: 

Maksimal 0,40 mg KOH/g agar tidak memicu korosi.

Gliserol bebas: 

Maksimal 0,02 persen untuk mencegah penyumbatan filter dan injektor.

Gliserol total:

 Maksimal 0,24 persen sebagai indikator keberhasilan produksi.

Kadar ester metil: 

Minimal 96,5 persen untuk menjamin kemurnian biodiesel.

Angka iodium:

Maksimal 115 untuk menjaga kestabilan penyimpanan.

Kestabilan oksidasi: Minimal 900 menit (Accelerated Method) atau 67,5 menit (RSSOT).

Monogliserida: 

Maksimal 0,47 persen agar filter bahan bakar tidak tersumbat.

Warna: 

Maksimal nilai 3 sebagai indikator awal kualitas.

Kadar air: 

Maksimal 300 ppm untuk mencegah korosi dan mikroorganisme.

Cold Filter Plugging Point (CFPP):

 Maksimal 15 derajat Celcius agar bahan bakar tetap mengalir pada suhu rendah.

Kandungan logam natrium dan kalium: 

Maksimal 5 mg/kg guna mencegah kerusakan injektor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index