JAKARTA - PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melakukan pengiriman 6.700 ton cangkang sawit dari Berau ke PLTU Teluk Balikpapan pada awal Maret 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan biomassa nasional yang ditargetkan 3,65 juta ton tahun ini.
Pengiriman Biomassa Melalui Jalur Laut
Pengiriman cangkang sawit menggunakan armada tongkang dipilih karena mampu mengangkut volume besar sekaligus efisien. Moda transportasi laut juga menyesuaikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyebut pengiriman 6.700 ton tersebut sebagai catatan rekor untuk satu kali angkut menggunakan laut. “Ini adalah pengiriman terbesar. Sekali kirim 6.700 ton biomassa. Saya harap, ini adalah awal yang baik untuk mencapai target 3,65 juta ton di 2026 ini,” ujarnya pada Senin, 16 Maret 2026.
Hokkop menekankan bahwa wilayah Kalimantan memiliki ketersediaan bahan baku mentah yang melimpah. Distribusi antar-pulau menjadi kunci menjaga stabilitas pasokan energi primer bagi seluruh unit pembangkit listrik di Indonesia.
“Bukan tidak mungkin ke depan, cangkang sawit dari Kalimantan dikirimkan ke PLTU di Sulawesi. Sebelumnya, sawdust dari Sulawesi pernah dikirim ke PLTU Tuban, Jawa Timur,” tambah Hokkop.
Keunggulan Cangkang Sawit Sebagai Bahan Bakar
Cangkang sawit memiliki nilai strategis karena kualitas kalorinya hampir menyamai batu bara. Hal ini menjadikannya bahan bakar premium untuk mendukung program cofiring di seluruh unit pembangkit.
Pemanfaatan limbah perkebunan ini secara masif diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan begitu, target pengurangan emisi karbon dari sektor energi juga dapat tercapai lebih cepat.
Beberapa keunggulan distribusi biomassa melalui jalur laut antara lain kapasitas tongkang yang jauh lebih besar dibanding transportasi darat. Selain itu, sebagian besar PLTU sudah memiliki fasilitas dermaga sendiri untuk mempermudah bongkar muat.
Rantai Pasok dan Efisiensi Logistik
Skema distribusi laut memungkinkan koordinasi logistik yang lebih efisien dan tepat waktu. Rantai pasok ini memastikan setiap unit pembangkit memperoleh ketersediaan bahan baku sesuai jadwal operasional.
Keberhasilan pengiriman 6.700 ton dari Berau ke Kalimantan Timur meningkatkan keyakinan PLN EPI untuk mencapai target operasional tahun 2026. Target pasokan biomassa tahun ini meningkat signifikan dibandingkan capaian pada periode 2025.
Selain itu, transportasi laut juga dapat mendukung pemerataan pasokan biomassa ke berbagai pulau di Indonesia. Hal ini memungkinkan PLN EPI menyesuaikan distribusi bahan bakar sesuai kebutuhan masing-masing unit PLTU.
Fokus Pemanfaatan Limbah Perkebunan
Cangkang sawit menjadi salah satu fokus utama dalam bauran energi PLN EPI. Ketersediaannya yang stabil dari industri perkebunan kelapa sawit menjadikan limbah ini solusi strategis untuk energi terbarukan.
Penggunaan biomassa ini mendukung program cofiring, yaitu pencampuran bahan bakar fosil dengan energi terbarukan. Strategi ini memperkuat ketahanan energi primer nasional sekaligus mengurangi tekanan impor bahan bakar fosil.
Koordinasi antara PLN EPI, pengelola perkebunan, dan pihak logistik menjadi kunci sukses pengiriman biomassa. Hal ini memastikan seluruh unit pembangkit mendapatkan bahan bakar tepat waktu tanpa mengganggu operasi harian.
Dengan strategi ini, PLN EPI menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal dapat menjadi solusi jangka panjang untuk ketahanan energi nasional. Penggunaan cangkang sawit juga mendukung agenda energi bersih sekaligus mengoptimalkan potensi limbah perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan maksimal.