Tradisi Ramadan

Menjelang Ramadan Warga Bekasi Hidupkan Tradisi Lama yang Penuh Makna Kebersamaan

Menjelang Ramadan Warga Bekasi Hidupkan Tradisi Lama yang Penuh Makna Kebersamaan
Menjelang Ramadan Warga Bekasi Hidupkan Tradisi Lama yang Penuh Makna Kebersamaan

JAKARTA - Menjelang datangnya bulan puasa Ramadan, denyut kehidupan masyarakat Bekasi mulai mengalami perubahan yang terasa begitu khas. Aktivitas warga tidak hanya meningkat dalam urusan belanja kebutuhan, tetapi juga dalam menyiapkan berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Suasana ini menghadirkan nuansa religius sekaligus kekeluargaan yang sulit ditemukan di bulan lainnya. Tradisi yang dilakukan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kebiasaan lama tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur. Momentum menjelang Ramadan justru menjadi pengingat bahwa hubungan sosial dan spiritual harus berjalan seimbang.

Ada empat kebiasaan yang paling sering dilakukan warga Bekasi menjelang Ramadan, yaitu:

Ziarah kubur atau nyekar.

Nyorog atau mengantar bingkisan.

Munggahan atau makan bersama.

Membuat kue Lebaran sejak awal.

Keempat tradisi ini dilakukan dengan cara berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu mempererat silaturahmi. Selain itu, tradisi tersebut menjadi sarana persiapan batin sebelum memasuki bulan suci.

Nyekar Jadi Momen Doa dan Refleksi Keluarga

Beberapa hari sebelum Ramadan, tempat pemakaman umum mulai dipadati oleh peziarah dari berbagai kalangan. Mereka datang bersama keluarga sambil membawa kembang tujuh rupa dan air mawar untuk ditaburkan di atas pusara.

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, kakek nenek, maupun kerabat yang telah meninggal dunia. Ziarah juga menjadi pengingat bahwa kehidupan bersifat sementara sehingga manusia perlu memperbanyak amal sebelum Ramadan tiba.

Tradisi nyekar tidak hanya dilakukan secara singkat, melainkan diisi dengan doa bersama di sekitar makam keluarga. Banyak keluarga membaca yasin, tahlil, serta memanjatkan doa agar arwah leluhur mendapat tempat terbaik.

Selain berdoa, keluarga biasanya membersihkan area makam sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang yang tetap terjaga. Aktivitas tersebut menciptakan suasana haru sekaligus menenangkan bagi setiap anggota keluarga yang hadir.

Melalui nyekar, masyarakat diajak untuk memasuki Ramadan dengan hati yang lebih lapang dan penuh kesadaran spiritual. Tradisi ini juga menjadi sarana mempertemukan keluarga besar yang jarang berkumpul di hari biasa.

Nyorog, Tradisi Berbagi kepada yang Lebih Tua

Setelah nyekar, masyarakat Bekasi biasanya melanjutkan persiapan dengan tradisi nyorog yang sarat makna penghormatan. Nyorog dilakukan dengan cara mengantarkan makanan atau bingkisan kepada saudara yang lebih tua, mertua, tokoh masyarakat, maupun guru.

Isi bingkisan biasanya berupa lauk-pauk, beras, buah, ikan bandeng, atau bahan makanan lainnya yang bermanfaat. Pemberian ini melambangkan rasa hormat sekaligus ungkapan terima kasih kepada orang yang dituakan.

Tradisi ini masih sangat kuat dilakukan oleh masyarakat Betawi yang menjadi bagian dari budaya Bekasi. Nilai utamanya adalah menjaga hubungan kekeluargaan agar tetap harmonis sebelum menjalankan ibadah puasa.

Nyorog bukan sekadar memberi barang, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi secara langsung. Percakapan hangat yang terjadi saat berkunjung sering kali menjadi momen yang paling dirindukan.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, melainkan juga kepedulian sosial. Hubungan antaranggota keluarga diperkuat melalui tindakan sederhana namun penuh makna.

Munggahan Hadirkan Kebersamaan Sebelum Memulai Puasa

Tradisi munggahan juga menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari masyarakat Bekasi menjelang Ramadan. Biasanya warga mengadakan makan bersama keluarga besar atau teman-teman sebagai simbol kebersamaan.

Kegiatan ini dapat dilakukan di rumah, restoran, maupun tempat wisata yang memungkinkan semua anggota berkumpul. Suasana santai dengan canda tawa menjadi ciri khas yang selalu menyertai tradisi munggahan.

Selain makan bersama, munggahan sering diisi dengan saling memaafkan sebagai persiapan batin memasuki bulan suci. Momen ini menjadi kesempatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman agar ibadah puasa dijalani dengan hati bersih.

Di beberapa wilayah seperti Bekasi Utara, warga memanfaatkan munggahan sekaligus untuk berbelanja kebutuhan makanan. Mereka membeli daging atau ikan bandeng untuk dibawa kepada orang tua dan saudara.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa munggahan tidak hanya berisi acara makan, tetapi juga bentuk perhatian kepada keluarga. Nilai kebersamaan menjadi inti utama yang terus dijaga hingga sekarang.

Tradisi ini membuat masyarakat merasa lebih siap menjalani Ramadan karena telah mempererat hubungan dengan orang terdekat. Kebersamaan sebelum puasa diyakini membawa keberkahan selama menjalani ibadah.

Membuat Kue Lebaran Sudah Dimulai Sejak Sebelum Ramadan

Meski Hari Raya Idulfitri masih beberapa minggu lagi, sebagian warga sudah mulai membuat kue kering sejak menjelang Ramadan. Aktivitas ini dilakukan agar persiapan Lebaran terasa lebih ringan dan terencana.

Jenis kue yang dibuat pun beragam, mulai dari kue akar kelapa, kue gendar, rengginang, sagon, hingga kue modern seperti nastar. Proses pembuatan kue biasanya dilakukan bersama anggota keluarga di rumah.

Bagi sebagian keluarga, membuat kue sendiri dianggap lebih hemat dibandingkan membeli dalam jumlah besar. Selain itu, kegiatan ini menghadirkan suasana hangat yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Anak-anak biasanya ikut membantu mulai dari mencetak adonan hingga menata kue ke dalam toples. Keterlibatan mereka menjadikan tradisi ini sebagai pengalaman berharga yang akan dikenang hingga dewasa.

Kegiatan membuat kue juga menjadi simbol bahwa Ramadan dan Lebaran disambut dengan penuh suka cita. Persiapan dilakukan secara bertahap agar suasana meriah sudah terasa sejak awal bulan puasa.

Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai kekeluargaan tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan masyarakat Bekasi. Dari dapur rumah, kebersamaan dan kerja sama tumbuh secara alami.

Tradisi Lama yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Walaupun zaman terus berubah dan gaya hidup semakin praktis, masyarakat Bekasi tetap mempertahankan tradisi menjelang Ramadan. Kebiasaan tersebut menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi muda.

Nilai yang diwariskan bukan hanya bentuk kegiatan, tetapi juga makna di balik setiap tradisi yang dijalankan. Ada pesan tentang penghormatan, kebersamaan, serta kesiapan spiritual dalam menyambut bulan suci.

Melalui nyekar, nyorog, munggahan, dan membuat kue Lebaran, masyarakat belajar menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Tradisi-tradisi itu menjadikan Ramadan terasa lebih hidup dan bermakna.

Kehangatan yang tercipta dari kegiatan tersebut menjadi alasan mengapa tradisi tetap dijaga hingga kini. Ramadan akhirnya bukan hanya menjadi waktu beribadah, tetapi juga ruang memperkuat ikatan sosial yang telah lama terjalin.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index