Danantara

Pembangunan Danantara Ribuan Hunian Sementara untuk Korban Banjir Sumatera Mulai Ditempati Warga

Pembangunan Danantara  Ribuan Hunian Sementara untuk Korban Banjir Sumatera Mulai Ditempati Warga
Pembangunan Danantara Ribuan Hunian Sementara untuk Korban Banjir Sumatera Mulai Ditempati Warga

JAKARTA - Upaya pemulihan pascabencana banjir bandang di wilayah Sumatera terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Pemerintah bersama berbagai lembaga kini memfokuskan langkah pada penyediaan tempat tinggal yang aman bagi masyarakat terdampak.

Salah satu langkah konkret yang telah direalisasikan adalah pembangunan hunian sementara bagi korban bencana di sejumlah provinsi. Hunian tersebut menjadi solusi awal sebelum masyarakat dapat kembali tinggal secara permanen.

Program ini dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai bagian dari dukungan terhadap percepatan pemulihan kawasan terdampak. Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat di lapangan.

Informasi mengenai progres pembangunan disampaikan dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pasca Bencana Sumatera di DPR RI pada Rabu, 18 Februari 2026. Forum tersebut menjadi wadah evaluasi sekaligus perencanaan lanjutan bagi program rehabilitasi dan rekonstruksi.

Realisasi Pembangunan Hunian Sementara Tahap Pertama

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, melaporkan bahwa pembangunan tahap pertama telah selesai dilaksanakan. Total sebanyak 1.398 unit hunian sementara telah berhasil dibangun di tiga provinsi terdampak.

“Perlu kami laporkan Pak, untuk huntara jumlahnya sudah selesai tahap pertama itu sebanyak 1.398 unit,” kata Dony. Hunian tersebut tersebar di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Rinciannya menunjukkan bahwa Aceh menjadi wilayah dengan jumlah pembangunan terbesar. Sebanyak 1.075 unit dibangun di Aceh, sementara 200 unit berada di Sumatera Utara dan 123 unit di Sumatera Barat.

Setelah pembangunan selesai, seluruh hunian sementara tersebut langsung diserahkan kepada pemerintah daerah masing-masing. Penyerahan ini bertujuan agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Hunian sementara dirancang sebagai tempat tinggal yang layak dan aman bagi penyintas bencana. Fasilitas dasar disiapkan agar warga tetap dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara normal.

Sebagian Besar Hunian Telah Dihuni Masyarakat

Sejumlah unit yang telah selesai dibangun kini sudah ditempati oleh korban terdampak banjir bandang. Kehadiran hunian ini membantu masyarakat keluar dari kondisi darurat menuju fase pemulihan.

Adapun sebaran unit yang telah dihuni antara lain berada di:

Aceh Tamiang sebanyak 600 unit.

Aceh Timur sebanyak 97 unit.

Pidie Jaya sebanyak 163 unit.

Aceh Utara sebanyak 216 unit.

Tapanuli Selatan sebanyak 200 unit.

Padang Pariaman sebanyak 40 unit.

Tanah Datar sebanyak 28 unit.

Agam sebanyak 55 unit.

“Sebagian besar sudah dihuni,” ujar Dony. Pemerintah melihat bahwa tingkat penerimaan masyarakat terhadap hunian tersebut cukup tinggi.

Hunian sementara ini menjadi ruang aman bagi warga untuk memulai kembali aktivitas sosial dan ekonomi mereka. Keberadaan tempat tinggal yang pasti juga membantu proses pemulihan psikologis para penyintas.

Di luar unit yang telah selesai, Danantara masih mengusulkan pembangunan tambahan di beberapa titik baru. Usulan tersebut terutama difokuskan pada wilayah yang masih membutuhkan relokasi warga terdampak.

Peralihan Fokus ke Pembangunan Hunian Tetap

Selain membangun hunian sementara, pemerintah kini mulai menyiapkan pembangunan hunian tetap sebagai solusi jangka panjang. Hunian tetap diharapkan menjadi tempat tinggal permanen yang lebih stabil bagi masyarakat.

Danantara tengah mempersiapkan pembangunan hunian tetap di Sumatera Barat serta tambahan 90 unit di Aceh Utara. Selain itu, sebanyak 488 unit hunian tetap juga direncanakan untuk dibangun di Pidie Jaya.

“Harapannya nanti yang sudah selesai ini bisa ditempati semua Pak, dan sejauh ini yang dibangun cukup menggembirakan Pak, respons daripada masyarakat,” kata Dony. Pernyataan tersebut menggambarkan optimisme terhadap keberhasilan program rehabilitasi ini.

Rencana pembangunan hunian tetap juga disertai penyesuaian strategi dari target awal. Semula direncanakan pembangunan 15.000 hunian sementara, namun kebutuhan di lapangan ternyata tidak sebanyak itu.

Sebagian anggaran kemudian dialihkan untuk pembangunan hunian tetap agar manfaatnya lebih berkelanjutan. Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan aspirasi masyarakat dan hasil evaluasi kebutuhan riil.

“Besok kami akan groundbreaking Pak rencananya di Sumatera Barat untuk huntap yang pertama, kemudian dilanjutkan di Aceh dan di Sumatera Utara,” tuturnya. Langkah ini menandai dimulainya fase rekonstruksi permanen di wilayah terdampak.

Kolaborasi Pemerintah dan Satgas Pemulihan Pascabencana

Sebagai bagian dari upaya terpadu, pemerintah bersama DPR RI telah membentuk Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Satgas ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait.

Kementerian yang terlibat antara lain:

Kementerian Dalam Negeri.

Kementerian UMKM.

Kementerian Pertanian.

Kementerian Perhubungan.

Kementerian Kesehatan.

Serta sejumlah lembaga pendukung lainnya.

Melalui koordinasi lintas sektor, pemerintah membahas pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Fokus utama diarahkan pada penyediaan sandang, pangan, papan, dan pemulihan ekonomi warga.

Pendekatan terpadu ini bertujuan memastikan bahwa pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi. Pemerintah ingin masyarakat dapat kembali mandiri setelah melewati masa sulit akibat bencana.

Program pembangunan hunian menjadi bagian penting dari strategi besar rehabilitasi kawasan. Tempat tinggal yang layak merupakan fondasi awal bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat pascabencana.

Ke depan, pemerintah berharap proses transisi dari hunian sementara menuju hunian tetap dapat berjalan lancar. Dengan demikian, masyarakat dapat kembali membangun kehidupan secara normal di lingkungan yang lebih aman dan tertata.

Langkah yang telah dilakukan sejauh ini menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah, lembaga negara, dan masyarakat. Pemulihan pascabencana diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi, tetapi juga meningkatkan ketahanan wilayah menghadapi bencana di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index