JAKARTA - Perubahan besar dalam pemanfaatan infrastruktur sumber daya air mulai terlihat di Bendungan Sutami, Karangkates, Kabupaten Malang. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai pengendali air kini memasuki fase baru sebagai pusat pengembangan energi terbarukan.
Transformasi Bendungan Sutami di Karangkates resmi dimulai dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Karangkates berkapasitas 100 Megawatt (MW). Tahap konstruksi proyek ini ditandai dengan prosesi soft launching water breaking yang menjadi simbol dimulainya pekerjaan fisik di lapangan.
Kehadiran proyek ini digadang-gadang menjadi salah satu PLTS terapung berskala besar di Indonesia. Selain itu, pembangunan tersebut menjadi penguat komitmen pemerintah dalam mendorong percepatan transisi menuju energi hijau nasional.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta I (PJT I) Fahmi Hidayat menyatakan dukungan penuh terhadap proyek yang dikembangkan PLN Group itu. “PLTS Terapung Karangkates ini merupakan bentuk sinergitas pengelolaan air dan energi bersih secara multipihak,” tegas Fahmi.
Prosesi water breaking menjadi penanda dimulainya realisasi fisik konstruksi proyek energi baru terbarukan tersebut. Momen ini sekaligus menandai dimulainya babak baru pemanfaatan waduk secara lebih inovatif dan berkelanjutan.
PLTS Terapung Karangkates dikembangkan untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) serta implementasi Green RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik). Proyek ini menjadi bagian dari strategi besar transformasi sektor energi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan.
Kolaborasi Multipihak Dorong Integrasi Air Dan Energi
Menurut Fahmi, proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara PLN Nusantara Renewables, GD Power Hongkong, dan Perum Jasa Tirta I melalui PT Nusantara Gudang Karangkates Indonesia. Sinergi lintas sektor ini menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih memerlukan kerja sama strategis berbagai pihak.
Kolaborasi tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi listrik semata, tetapi juga pada optimalisasi fungsi waduk sebagai aset negara. Pendekatan multipurpose menjadi kunci agar pembangunan tetap selaras dengan kebutuhan pengelolaan air dan keberlanjutan lingkungan.
“Ini momentum penting transformasi pemanfaatan waduk secara multipurpose. Waduk Karangkates kini berperan ganda, tidak hanya sebagai infrastruktur pengelolaan sumber daya air, tetapi juga bagian dari solusi transisi energi hijau nasional,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, waduk tidak lagi dipandang hanya sebagai sarana pengendali banjir atau irigasi. Infrastruktur air kini berkembang menjadi platform strategis yang mampu mendukung ketahanan energi sekaligus konservasi sumber daya.
Keamanan Bendungan Tetap Jadi Prioritas Utama
Ia menegaskan, pengembangan proyek tetap mengedepankan prinsip keamanan bendungan serta keberlanjutan fungsi utama waduk. PJT I memastikan seluruh tahapan konstruksi berjalan selaras dengan aspek teknis keselamatan dan tidak mengganggu pengelolaan air.
Pendekatan kehati-hatian menjadi landasan utama agar proyek energi tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas bendungan. Semua proses teknis dirancang melalui perencanaan matang dan pengawasan ketat.
“Semua proses kami pastikan sesuai prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik,” tambahnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan energi terbarukan harus berjalan beriringan dengan standar keselamatan infrastruktur.
Dalam implementasinya, setiap tahapan konstruksi dilakukan melalui kajian teknis mendalam. Hal ini penting untuk memastikan integrasi antara panel surya terapung dan sistem bendungan tetap aman dalam jangka panjang.
Beberapa prinsip utama yang diterapkan dalam pembangunan PLTS Terapung Karangkates meliputi:
Menjaga stabilitas struktur bendungan sebagai fungsi utama pengelolaan air.
Mengedepankan standar keselamatan konstruksi berbasis kajian teknis.
Mengintegrasikan sistem energi tanpa mengganggu operasi waduk.
Mengutamakan keberlanjutan lingkungan dalam setiap tahapan pembangunan.
Pemanfaatan Permukaan Waduk Tingkatkan Efisiensi Dan Keberlanjutan
Sinergi pembangunan PLTS Terapung Karangkates dinilai menjadi contoh harmonisasi pengelolaan sumber daya air dan energi terbarukan. Model ini memperlihatkan bagaimana satu infrastruktur dapat melayani berbagai kebutuhan strategis secara bersamaan.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, pemanfaatan permukaan waduk untuk panel surya juga berpotensi meningkatkan efisiensi ruang. Penggunaan area air dinilai lebih optimal dibandingkan pembangunan pembangkit di daratan yang membutuhkan pembebasan lahan luas.
Pendekatan terapung juga memberikan manfaat tambahan berupa pengurangan laju evaporasi air. Dengan tertutupnya sebagian permukaan waduk oleh panel surya, kehilangan air akibat penguapan dapat ditekan secara alami.
Manfaat ganda tersebut menjadikan PLTS terapung sebagai solusi inovatif yang menggabungkan efisiensi energi dan konservasi air. Teknologi ini mulai dilirik sebagai model pengembangan pembangkit masa depan di berbagai wilayah Indonesia.
Sejumlah potensi manfaat dari PLTS terapung antara lain:
Menghasilkan energi bersih tanpa menambah kebutuhan lahan baru.
Mengurangi penguapan air sehingga menjaga ketersediaan sumber daya.
Mendukung target pengurangan emisi karbon secara nasional.
Mengoptimalkan fungsi waduk sebagai aset multifungsi.
Langkah Strategis Menuju Transisi Energi Nasional
Fahmi optimistis, kehadiran PLTS Terapung Karangkates akan menjadi langkah konkret optimalisasi aset bendungan secara berkelanjutan. Proyek ini sekaligus memperkuat kontribusi daerah dalam agenda besar transisi energi nasional.
Pengembangan energi terbarukan tidak lagi dipusatkan hanya di kawasan tertentu, melainkan mulai menyebar ke berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi energi menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, BUMN, dan mitra strategis.
Dengan kapasitas mencapai 100 MW, proyek ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penyediaan listrik berbasis energi bersih. Produksi energi dari sumber matahari juga dinilai lebih stabil dalam jangka panjang karena tidak bergantung pada bahan bakar fosil.
Selain aspek teknis, proyek ini membawa pesan penting tentang arah pembangunan nasional yang semakin berkelanjutan. Infrastruktur lama dapat dioptimalkan kembali melalui inovasi tanpa harus meninggalkan fungsi awalnya.
“Sebagai BUMN pengelola sumber daya air, PJT I berkomitmen membuka ruang kolaborasi strategis, mendorong inovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional,” pungkasnya. Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa transformasi energi membutuhkan keterbukaan terhadap kerja sama dan teknologi baru.
Pembangunan PLTS Terapung Karangkates diharapkan menjadi contoh keberhasilan integrasi antara pengelolaan air, energi, dan lingkungan. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di berbagai waduk lain di Indonesia sebagai bagian dari perjalanan menuju masa depan energi bersih.