Tempat Makan Jenang

8 Tempat Makan Jenang Paling Legendaris di Yogyakarta yang Wajib Dicoba Tahun 2026

8 Tempat Makan Jenang Paling Legendaris di Yogyakarta yang Wajib Dicoba Tahun 2026
8 Tempat Makan Jenang Paling Legendaris di Yogyakarta yang Wajib Dicoba Tahun 2026

JAKARTA - Berjalan-jalan di Yogyakarta rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner tradisional yang telah menjadi identitas kota ini. Di antara banyak hidangan khas, jenang selalu menempati posisi istimewa sebagai sajian sederhana yang mampu menghadirkan rasa hangat dan nostalgia.

Jenang di Yogyakarta tidak hanya dikenal karena rasanya yang manis dan lembut, tetapi juga karena nilai budaya yang melekat di dalamnya. Setiap mangkuk jenang seolah membawa cerita tentang tradisi, keluarga, dan perjalanan panjang para penjualnya.

Tak sedikit wisatawan yang sengaja datang pagi-pagi hanya untuk berburu jenang legendaris di sudut pasar atau gang kecil kota ini. Bahkan bagi warga lokal, jenang menjadi menu sarapan favorit yang sulit tergantikan oleh hidangan modern.

Memasuki tahun 2026, eksistensi penjual jenang masih tetap terjaga dengan konsistensi rasa yang diwariskan lintas generasi. Berikut delapan rekomendasi tempat makan jenang di Yogyakarta yang patut dikunjungi untuk merasakan kelezatan bubur manis khas kota gudeg.

Jenang Legendaris yang Bertahan dari Generasi ke Generasi

Jenang Gempol Bu Yah dikenal luas dengan sajian jenang gempolnya yang unik dan otentik. Keistimewaan tempat ini terletak pada cara penyajiannya yang masih menggunakan daun pisang, memberikan aroma tradisional yang khas dan menggugah selera.

Bahan gempol dan jenangnya dipilih dari beras khusus, menghasilkan tekstur yang pulen dan lembut saat disantap. Sensasi makan dari bungkus daun pisang juga menambah pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.

Selain jenang gempol yang menjadi andalan, Jenang Gempol Bu Yah juga menyajikan varian bubur lainnya yang tak kalah lezat. Anda bisa menikmati bubur sumsum yang lembut atau bubur mutiara yang kenyal, menambah pilihan bagi para penikmat kuliner tradisional.

Dengan harga mulai dari Rp5.000 per porsi, tempat ini menawarkan pengalaman kuliner yang ramah di kantong. Kualitas rasa yang konsisten membuat pembeli rela kembali meski harus datang pagi-pagi.

Berlokasi di Pasar Pujokusuman, Jalan Kol. Sugiyono Nomor 9, Keparakan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Jenang Gempol Bu Yah buka mulai pukul 06.00 WIB. Namun, disarankan untuk datang lebih awal karena jenang sering kali sudah habis dalam dua jam setelah dibuka.

Jenang Bu Gesti Lempuyangan merupakan salah satu tempat makan jenang legendaris di Yogyakarta yang telah mengukir sejarah panjang. Warung ini telah dijalankan oleh tiga generasi sejak tahun 1950-an, menjadikannya ikon kuliner yang patut diperhitungkan.

Konsistensi rasa dan kualitas menjadi kunci keberhasilan mereka bertahan hingga kini. Banyak pelanggan lama yang tetap setia karena rasa jenangnya tak pernah berubah.

Tempat ini menawarkan beragam varian jenang yang memanjakan lidah, mulai dari bubur sumsum yang creamy, jenang candil yang kenyal, hingga bubur mutiara yang manis. Bagi Anda yang ingin mencicipi semua kelezatan dalam satu porsi, jenang campur bisa menjadi pilihan tepat.

Tekstur jenangnya yang lembut berpadu dengan cita rasa manis dan gurih yang pas, menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Setiap sendokannya menghadirkan sensasi kenyang yang hangat dan menenangkan.

Berada di dalam Pasar Lempuyangan, Jalan Tegal Kemuning Nomor 183, Tegal Panggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Jenang Gesti Lempuyangan buka pukul 08.00–11.30 WIB. Seperti halnya tempat populer lainnya, disarankan untuk tidak datang terlalu siang agar tidak kehabisan sajian jenang favorit.

Favorit di Pasar Tradisional yang Selalu Dipadati Pengunjung

Berlokasi strategis di pintu selatan Pasar Bringharjo, Jenang Bu Darmini adalah pilihan legendaris lainnya yang tak boleh dilewatkan saat berburu jenang di Yogyakarta. Popularitasnya sering kali membuat pembeli rela antre panjang demi menikmati kelezatan sajian tradisional ini.

Antrean panjang tersebut menjadi bukti bahwa kualitas rasa yang ditawarkan memang tak diragukan. Banyak pelanggan yang rela menunggu karena tahu hasilnya sepadan.

Tempat ini menyajikan beragam varian jenang yang menggoda selera, termasuk jenang monte atau bubur mutiara, jenang candil yang kenyal, jenang wajik, serta bubur sumsum yang lembut. Jika Anda merasa bingung untuk memilih, jenang campur bisa menjadi solusi terbaik untuk menikmati semua varian dalam satu porsi yang memuaskan.

Setiap cup jenang dibanderol sekitar Rp10.000, menawarkan nilai yang sepadan dengan kelezatannya. Harga tersebut terasa wajar untuk kualitas rasa dan porsi yang mengenyangkan.

Jenang Bu Darmini dapat ditemukan di Jalan Pabringan Nomor 16, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, dan buka mulai pukul 08.30–15.00 WIB. Lokasinya yang mudah dijangkau di pusat kota menjadikannya pilihan ideal bagi wisatawan maupun warga lokal.

Jenang 8 Rasa Bu Jum menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda dari tempat jenang lainnya. Tempat ini menghadirkan delapan variasi rasa dalam satu sajian, memberikan kebebasan bagi pelanggan untuk mengeksplorasi berbagai tekstur dan cita rasa.

Pilihan rasanya sangat beragam, mulai dari jenang sumsum, kacang hijau, ketan hitam, gendrul, biji salak, ubi rambat, pati garut, angkrang, mutiara, hingga candil. Ragam pilihan ini menjadikan setiap kunjungan terasa seperti petualangan rasa baru.

Keunikan Jenang 8 Rasa Bu Jum terletak pada kemampuannya memadukan berbagai rasa dalam satu mangkuk. Setiap suapan menghadirkan sensasi yang berbeda dan membuat penikmatnya tidak cepat bosan.

Anda bisa memesan jenang campur-campur untuk menikmati semua varian sekaligus, atau memilih kombinasi rasa sesuai selera pribadi. Fleksibilitas ini menjadikan Jenang 8 Rasa Bu Jum sangat populer di kalangan penikmat jenang.

Dengan harga mulai dari Rp5.000 untuk cup gelas dan Rp10.000 untuk cup mangkok, serta varian tertentu seharga Rp14.000, tempat ini menawarkan harga yang kompetitif. Lokasinya berada di Pasar Tradisional Kranggan dan buka pukul 07.00–13.00 WIB.

Cita Rasa Klasik yang Tetap Bertahan Hingga Kini

Jenang Gempol Bu Atik menjadi salah satu destinasi favorit bagi pencinta jenang klasik di Yogyakarta. Tempat ini menyajikan jenang gempol dengan cita rasa otentik yang tetap terjaga dari waktu ke waktu.

Setiap suapan membawa sensasi lembut dan legit yang sulit ditiru oleh tempat lain. Banyak pelanggan datang khusus karena merindukan rasa jenang gempol tradisional seperti masa lalu.

Berlokasi di Pasar Caturtunggal, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jenang Gempol Bu Atik mudah dijangkau. Dengan harga sekitar Rp9.000 per cup, pengunjung sudah bisa menikmati sajian yang mengenyangkan dan memuaskan.

Jenang Gempol Bu Atik buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Mengingat jam bukanya yang terbatas, disarankan untuk datang lebih awal agar tidak kehabisan.

Jenang Papringan Mbah Sastro dikenal dengan sajian jenang yang manis legit dan menggugah selera. Kombinasi candil dan ketan hitamnya menjadi favorit banyak pelanggan yang menyukai rasa manis mendalam.

Tekstur kenyal berpadu dengan kuah gula jawa yang hangat menciptakan sensasi yang sulit dilupakan. Setiap mangkuk terasa pas sebagai camilan sore atau penutup hari.

Kelezatan jenang di sini tidak hanya berasal dari resep tradisional, tetapi juga dari pemilihan bahan-bahan berkualitas yang diolah dengan cermat. Setiap porsi disajikan dengan ukuran yang pas dan harga yang sangat terjangkau.

Harga jenang di tempat ini mulai dari Rp4.000, menjadikannya salah satu pilihan kuliner ekonomis di Yogyakarta. Meski murah, kualitas rasa tetap konsisten dan memuaskan.

Berlokasi di Jalan Petung, Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jenang Papringan Mbah Sastro mulai beroperasi pukul 16.00 WIB. Jam buka sore hari membuatnya cocok untuk dinikmati setelah beraktivitas.

Ikon Jenang Pagi Hari dan Destinasi Favorit Wisatawan

Jenang Yu Jumilah di Pasar Ngasem adalah salah satu kuliner legendaris yang tetap menjadi favorit di tahun 2026. Setiap pagi, lapaknya selalu ramai dikunjungi pembeli dari berbagai kalangan.

Pasar Ngasem sendiri dikenal sebagai pusat kuliner pagi yang autentik dan selalu hidup. Jenang Yu Jumilah menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat pasar ini tak pernah sepi.

Tempat ini menawarkan delapan varian jenang tradisional yang kaya rasa, termasuk jenang sumsum, jenang lobe-lobe, jenang candil telo, dan jenang ketan hitam. Variasi tersebut memberikan banyak pilihan bagi pelanggan yang ingin mencoba lebih dari satu rasa.

Jenang Gempol Pasar Ngasem telah berjualan lebih dari 25 tahun dengan tekstur kental dan rasa autentik. Perpaduan gurih gempol dan manis gula jawa menjadi ciri khas yang selalu dirindukan pelanggan setianya.

Berlokasi di Pasar Ngasem, Patehan, Kraton, Yogyakarta, Jenang Yu Jumilah selalu dipadati pengunjung sejak pagi hari. Meski harga spesifik tidak disebutkan, kuliner di Pasar Ngasem dikenal memiliki harga yang bersahabat.

Jenang Yu Mar merupakan destinasi kuliner legendaris di kawasan Kotagede yang menyajikan berbagai varian jenang tradisional Jawa. Tekstur jenangnya dikenal lembut dengan perpaduan rasa manis gurih yang pas.

Menu favorit pengunjung adalah Jenang Campur yang terdiri dari kombinasi berbagai jenis jenang dalam satu wadah. Sajian ini cocok bagi mereka yang ingin mencicipi banyak rasa dalam satu kali makan.

Tempat makan ini berlokasi di Jalan Kebun Raya Nomor 11, Rejowinangun, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta. Lokasinya tepat berada di depan pintu masuk atau gerbang timur Gembira Loka Zoo.

Jenang Yu Mar buka setiap hari kecuali Selasa, mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Namun, sangat disarankan untuk datang lebih awal karena stoknya sering kali sudah habis sebelum waktu tutup resmi.

Dengan harga mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi, pengunjung sudah bisa menikmati sajian jenang tradisional yang autentik dan mengenyangkan. Harga terjangkau ini membuatnya tetap diminati oleh berbagai kalangan.

Delapan tempat makan jenang tersebut membuktikan bahwa kuliner tradisional Yogyakarta tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Meski zaman terus berubah, rasa jenang tetap menjadi pengikat nostalgia dan kebersamaan.

Setiap warung memiliki ciri khas tersendiri yang membuat pengalaman mencicipi jenang terasa berbeda. Dari aroma daun pisang hingga kuah gula jawa yang legit, semuanya menghadirkan sensasi otentik yang sulit tergantikan.

Dengan konsistensi rasa dan kesetiaan terhadap resep turun-temurun, jenang di Yogyakarta terus bertahan sebagai kuliner favorit. Tidak heran jika hingga tahun 2026, jenang tetap menjadi buruan wisatawan dan warga lokal.

Bagi siapa pun yang ingin mengenal Yogyakarta lebih dekat melalui rasa, jenang adalah pintu masuk yang tepat. Dalam semangkuk jenang, tersimpan cerita, tradisi, dan kehangatan khas Kota Gudeg yang tak lekang oleh waktu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index