Kejar Target Produksi, Sektor Migas dan Tambang Hadapi Tantangan

Rabu, 29 Juli 2026 | 22:53:31 WIB
Genjot Produksi, Industri Migas dan Tambang Hadapi Berbagai Risiko [FOTO: NET].

JAKARTA - Upaya menggenjot volume produksi komoditas sumber daya alam kini tengah menghadapkan sektor industri migas serta pertambangan bawah tanah pada pelbagai tantangan krusial, yang meliputi aspek kebutuhan investasi modal, penguasaan teknologi, standar keselamatan kerja, hingga perlindungan kelestarian lingkungan hidup.

Pada ranah sektor migas, volume tingkat produksi minyak nasional saat ini masih tertahan di kisaran angka 580.000 barrel per day atau BOPD. 

Posisi angka tersebut masih terpaut jauh di bawah target ambisius swasembada energi yang dipatok menyentuh angka 1 juta BOPD untuk komoditas minyak serta 12.000 MMSCFD untuk komoditas gas pada dekade mendatang.

“Data SKK Migas mencatat decline rate minyak nasional periode 2020–2025 berkisar antara 13,4 persen hingga 30,2 persen per tahun, dengan rata-rata 22,3 persen per tahun,” kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).

Sementara itu, untuk komoditas gas bumi, laju tingkat penurunan produksinya tercatat berada pada rentang kisaran 5,2 persen sampai 15,8 persen setiap tahunnya, dengan rerata penurunan menyentuh angka 12 persen.

Mengacu pada skenario perencanaan jangka panjang (Long Term Plan) dari SKK Migas, apabila tidak disertai dengan suntikan aktivitas eksplorasi baru yang masif dan signifikan, volume lifting minyak nasional pada tahun 2030 diproyeksikan akan mengalami kejenuhan di kisaran angka 580.000 hingga 590.000 BOPD.

Defisit pasokan minyak pada tahun 2030 diprediksi bakal menembus angka hingga 1,03 juta BOPD di bawah skenario tinggi, mencapai 1,24 juta BOPD pada skenario menengah, serta sebesar 1,35 juta BOPD pada skenario rendah.

Dengan asumsi asumsi patokan harga minyak dunia di level 90 dolar AS per barel, total kebutuhan akumulasi devisa negara untuk membiayai impor sepanjang kurun waktu 2026 hingga 2030 diestimasikan bakal menyentuh angka 181,3 miliar dolar AS atau setara kisaran Rp 3.043 triliun hingga mencapai 217,9 miliar dolar AS atau setara Rp 3.656 triliun.

Secara geografis, wilayah kedaulatan Indonesia tercatat memiliki sebanyak 128 cekungan potensi migas di mana sekitar 68 cekungan di antaranya bahkan belum tersentuh kegiatan eksplorasi secara memadai. 

Kendati demikian, realisasi target pengeboran sumur baru terus menerus mencatatkan hasil di bawah target yang ditetapkan. Sepanjang tahun 2025, realisasi kegiatan pengeboran sumur baru hanya mencapai 24 sumur dari target awal sebanyak 46 sumur hingga bulan Oktober. 

Sementara itu, terhitung hingga 31 Mei 2026, realisasi capaiannya baru menyentuh angka 5 sumur dari target sebanyak 39 sumur.

Perusahaan Pertamina Hulu Energi tercatat memegang peranan vital sebagai pemasok sekitar 55 hingga 56 persen dari total produksi minyak nasional serta menyumbang sekitar 29 sampai 30 persen dari total lifting gas nasional sepanjang kurun 2025–2026. 

Tanpa adanya terobosan eksplorasi sumur baru serta penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), volume produksi perusahaan tersebut diproyeksikan bakal merosot tajam dari kisaran 579.000 BOPD pada tahun 2024 menjadi hanya tinggal 300.000 hingga 350.000 BOPD pada tahun 2030 mendatang.

Kendala tantangan produksi operasional serupa turut pula dihadapi oleh PT Dairi Prima Mineral atau DPM, sebuah entitas perusahaan yang tengah mempersiapkan operasional kawasan tambang bawah tanah komoditas timah hitam dan seng di wilayah Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.

Pihak DPM berencana untuk mengembangkan area Prospek Anjing Hitam yang memiliki kapasitas fasilitas pengolahan bijih kering mencapai 1 juta ton per tahun.

Kawasan prospek tersebut diketahui mengantongi cadangan deposit bijih sebesar 7,7 juta ton dengan tingkat kandungan kadar seng mencapai 12,5 persen serta kandungan timah hitam sebesar 7,3 persen.

Dalam operasionalnya nanti, perusahaan bakal mengombinasikan metode penambangan longhole stoping dan cut and fill. Material sisa pengolahan berupa tailing padat bakal dicampur bersama semen khusus dan dikembalikan langsung ke dalam rongga ruang bekas lubang tambang sebagai material penimbun kembali atau backfill.

“Material tailing tidak dibuang atau ditempatkan di permukaan, tetapi dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan,” kata Manajer Teknis DPM Widianto dalam diskusi yang digelar E2S, Senin (27/7/2026).

“Cairannya digunakan kembali dalam proses pengolahan, sedangkan padatannya dicampur semen lalu dipompa kembali ke dalam lubang tambang sebagai backfill material,” lanjutnya.

Pakar dari LAPI Institut Teknologi Bandung, Irwan Iskandar, mengemukakan bahwa model sistem tambang bawah tanah memiliki keunggulan berupa kebutuhan ruang permukaan lahan yang jauh lebih kecil jika dikomparasikan dengan teknik tambang terbuka (open pit).

“Yang positif dari tambang bawah tanah, footprint kerusakan atau gangguan di permukaan itu kecil,” ujar Irwan.

Sepanjang masa fase operasionalnya, pihak DPM mengestimasikan total perolehan produksi konsentrat kering mampu mencapai angka 2,43 juta ton, yang di dalamnya memuat kandungan muatan sekitar 473.895 ton mineral timah hitam serta sekitar 821.150 ton mineral seng.

Terkini