Argentina vs Swiss: Messi dan Usaha Nati Incar Kelemahan Lawan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:56:32 WIB
Piala Dunia 2026: Swiss Bidik Kelemahan Argentina di Perempat Final [FOTO: NET].

JAKARTA - Swiss belum pernah memetik kemenangan dalam tujuh perjumpaan terdahulunya kontra Argentina sejak periode 1966 sampai 2014. Mereka telah menelan kekalahan lima kali bersua Albiceleste, terhitung pada dua perjumpaan pamungkas di antara kedua tim.

Dua dari lima keunggulan yang dibukukan Argentina tersebut berlangsung pada Piala Dunia 1996 tatkala Argentina unggul 2-0 dan Piala Dunia 2014 saat Swiss bertekuk lutut 0-1.

Bukan cuma mengantongi riwayat minor saat bersua Argentina, Swiss pun cuma sanggup mengemas kemenangan satu kali dari 10 perjumpaan dengan tim-tim asal Amerika Selatan, yakni pada Piala Dunia 2014 ketika menundukkan Ekuador 2-1.

Realitas ini dapat mengusik armada racikan Murat Yakin tersebut tatkala bersua kembali dengan Argentina pasca-12 tahun tidak pernah bertemu, dalam partai perempat final penutup Piala Dunia 2026, di Kansas City Stadium, Kansas City, Amerika Serikat, pada Minggu (12/7) pukul 08.00 WIB.

Rapor masa lampau memang memperlihatkan Nati lebih inferior di hadapan Albiceleste. Namun dinamika teranyar dalam Piala Dunia 2026 seyogianya membikin Swiss merasa mengantongi prospek yang lebih cerah dibandingkan kondisi mereka di masa lalu.

Melirik pada dua laga pamungkas yang dilewati kedua kubu, Swiss yang menduduki posisi 14 pada daftar peringkat FIFA lebih sanggup memproteksi jalanya dari kebobolan.

Sebaliknya, Argentina yang bertengger di peringkat 3 justru kemasukan gol dalam dua laga teranyarnya, kendati pada akhirnya memenangi kedua pertempuran itu.

Padahal sepasang seteru yang nyaris membikin Lionel Messi cs terjungkal pada babak 32 besar dan 16 besar itu mengantongi peringkat yang lebih rendah ketimbang dua kesebelasan yang ditundukkan Granit Xhaka dkk.

Dua lawan Argentina dalam dua laga pamungkas itu ialah Tanjung Verde yang berada di peringkat 64, serta Mesir di peringkat 24. Sementara dua seteru pamungkas yang diladeni Swiss dalam fase 32 besar dan 16 besar ialah Aljazair di peringkat 29 serta Kolombia di peringkat 11.

Melihat dari hambatan yang dirasakan Argentina dalam dua pertempuran teranyarnya itu, Swiss boleh berbangga bahwa mereka tetap superior atas lawan berperingkat di bawahnya (Aljazair), serta sanggup menjinakkan lawan berperingkat di atasnya (Kolombia), sekalipun lewat drama adu penalti.

Argentina sejatinya telah memperlihatkan karakter juara yang luar biasa, yang tetap tenang kendati dua kali diimbangi oleh Tanjung Verde, serta sempat tertinggal 0-2 dari Mesir.

Menjadi lebih rentan Namun realitas bahwa mereka kewalahan meladeni tim-tim dengan posisi jauh di bawah mereka memperlihatkan Albiceleste jauh lebih rapuh terhadap gempuran lawan daripada yang diprediksikan publik sebelum ini.

Padahal dalam perempat final ini, mereka bakal berhadapan dengan Swiss yang selain mengantongi peringkat lebih tinggi ketimbang Tanjung Verde dan Mesir, juga merupakan tim yang jauh lebih padu dan disiplin.

Meladeni Swiss yang tengah membidik tiket semifinal pertamanya dalam Piala Dunia, Argentina tidak boleh lagi sekadar bertumpu pada magis Messi.

Hal ini lantaran Swiss menjelma tim yang lebih paham taktik bagaimana meredam Messi, mengingat mereka pernah meladeninya dalam babak 16 besar Piala Dunia 2014 di Brasil.

Dua dari aktor Swiss yang ikut ambil bagian dalam skuad yang memaksa Argentina melewati babak perpanjangan waktu sebelum unggul tipis 1-0 dua belas tahun silam itu, saat ini telah bertransformasi menjadi poros utama skuad Swiss sekarang.

Kedua sosok itu ialah kapten Granit Xhaka dan pemain bertahan Ricardo Rodriguez.

Xhaka memaparkan dia sejatinya tidak paham cara menghentikan Messi, namun dia meyakini skuad Nati saat ini lebih cerdik serta lebih solid sehingga lebih piawai dalam merapatkan barisan dan tidak meluangkan ruang terbuka bagi Messi.

Mitranya, bek tengah Manuel Akanji, justru menegaskan Swiss siap meladeni Messi dan Argentina. "Saya kira kami bisa mempersulit siapa pun. Kami tahu laga ini sulit tapi kami akan bermain sebagus mungkin."

Sangat disayangkan Murat Yakin tidak dapat memasang penyerang mudanya yang telah membukukan tiga gol, Johan Manzambi, lantaran dibekap cedera lutut.

Namun Nati masih mengantongi Breel Embolo yang telah menyumbang dua assist serta Dan Ndoye yang menelurkan kreasi peluang gol terbanyak untuk Swiss sepanjang bergulirnya Piala Dunia 2026.

Swiss juga bakal amat bersandar pada Xhaka yang performanya melampaui Leandro Paredes dan Enzo Fernandes di kubu Argentina, dalam urusan mengomandoi transisi dari bertahan ke menyerang serta dalam perkara membuka celah umpan bagi rekan setimnya.

Messi tetap menentukan Swiss pun mengantongi bek serba bisa pada sosok Manuel Akanji yang sejauh ini menjelma distributor umpan terbanyak timnya, lewat 424 umpan, hampir 100 umpan lebih berlimpah ketimbang Paredes yang menjadi pengumpan terbanyak di Argentina.

Namun tidak ada pilar Swiss yang sanggup melampaui performa Messi dalam melesakkan gol, mengonstruksi peluang, serta melepaskan umpan silang yang mengancam jala lawan.

Sejauh ini Messi telah membukukan delapan gol, atau berstatus top skor Piala Dunia 2026 bersama penyerang Prancis Kylian Mbappe.

Dia juga menelurkan 29 peluang, dua kali lipat lebih melimpah ketimbang yang sanggup diciptakan Dan Ndoye. Messi pun melepaskan 26 umpan silang, dua umpan lebih banyak ketimbang yang disalurkan Ruben Vargas di Swiss.

Lewat fakta-fakta tersebut, Swiss tampaknya bakal dituntut untuk kembali meredam ancaman Messi, ketimbang menyamai kualitas individu-individu lain dalam skuad arahan Lionel Scaloni itu.

Xhaka dapat menjadi garansi Swiss demi mengimbangi dominasi lini tengah Argentina, sementara kolaborasi bek kiri Ricardo Rodriguez bersama Fabian Rieder atau Dan Ndoye menjadi tumpuan Swiss dalam merambah sepertiga wilayah pertahanan lawan.

Andil mereka sama menonjolnya dengan sektor sayap kiri permainan Albiceleste yang berporos pada Nicolas Tagliafico dan Alexis Mac Allister.

Namun Argentina relatif mengantongi kekuatan yang merata di kedua sektor sayapnya. Maknanya, koridor Tagliafico-Mac Allister sama ofensifnya dengan Nahuel Molina dan Rodrigo de Paul di sektor sayap kanan.

Akan tetapi sekali lagi, layaknya yang terjadi pada lima laga terdahulu, Messi bakal tetap menjelma faktor paling krusial yang menentukan akhir pertempuran ini.

Messi pula yang menjelma determinan utama yang membikin Argentina mengantongi xG 11,91 atau tertinggi ketiga di bawah Prancis dan Spanyol, saat Swiss mengantongi xG 9,16 di peringkat ketujuh.

Namun Messi kini menghadapi tim yang lebih tertata, lebih liat, dan relatif lebih kuat di segala lini, ketimbang yang dia dan Argentina hadapi baik selama fase grup maupun saat babak 32 besar dan 16 besar.

Terkini