Wamenkomdigi: Humas Perlu Jadi Pusat Penegasan Informasi Era

Sabtu, 11 Juli 2026 | 15:42:32 WIB
Wamenkomdigi: Humas Harus Jadi Clearing House Informasi di Era AI [FOTO: NET].

JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria memacu Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) guna menempatkan profesi hubungan masyarakat (Humas) secara lebih strategis selaku "clearing house of information" atau pusat penegasan informasi di tengah melesatnya ancaman disinformasi serta misinformasi dalam konstelasi komunikasi digital.

Menurut Nezar, derasnya gelombang informasi lewat platform digital memicu masyarakat kian rentan terhadap penyebaran info yang menyesatkan, sehingga profesi humas mengemban andil krusial dalam mengonstruksi kepercayaan publik.

"Di sini lah saya kira peran bagi Perhumas untuk bisa mengambil posisi yang lebih strategis, bagaimana menciptakan clearing house of information dengan kerja-kerja kehumasan yang lebih adaptif menghadapi teknologi yang berkembang cukup pesat belakangan ini," kata Nezar, Sabtu (11/07/2026).

Ia mengutarakan dunia saat ini sudah menapak ke era "post-truth", sebuah kondisi di mana fakta objektif kurang berimbas dalam mengonstruksi opini publik, sementara khalayak lebih gampang digerakkan oleh sentimen ketimbang data riil.

"Kita masuk di era post-truth dan saya kira diskusi soal ini sudah cukup banyak, dan peran Humas menjadi sangat penting ketika noise yang begitu besar dalam lanskap komunikasi kita pada hari ini, dan juga disinformasi, misinformasi, fitnah, ujaran kebencian itu begitu deras, hadir lewat gawai yang kita punya," ujarnya.

Nezar menyitir konklusi World Economic Forum yang menempatkan disinformasi serta misinformasi selaku salah satu risiko global yang utama. Menurut dia, estimasi tersebut dirumuskan bersandarkan riset yang melibatkan banyak pemimpin dunia beserta pelaku industri.

"Salah satu yang sangat berbahaya menurut World Economic Forum, disinformasi dan misinformasi itu menjadi global top risk yang disimpulkan oleh World Economic Forum," katanya.

Ia mengimbuhkan perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) ikut mengubah pola kerja profesi humas. 

Merujuk pada studi One Asia Communication tahun 2025, Wamen Nezar menyingkap praktisi humas di Asia, termasuk Indonesia, kian mendayagunakan AI untuk pelacakan sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi pesan, hingga mendongkrak mutu bernarasi.

Walau begitu, Nezar menandaskan pemanfaatan AI wajib tetap berpijak dalam tata kelola yang baik dengan mengedepankan aspek moral. Menurut dia, teknologi tidak sanggup sepenuhnya menggantikan unsur ketulusan yang menjadi pilar penting dalam komunikasi antarmanusia.

Terkini