Megawati Gelar Silaturahmi Hangat dengan WNI di Timor Leste

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:11:01 WIB
Momen Megawati Temu Kangen dan Ramah Tamah dengan WNI di Dili [FOTO: NET].

JAKARTA - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor-Leste menyelenggarakan agenda makan malam serta ramah tamah hangat yang mempertemukan Presiden Kelima RI, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, dengan ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Kota Dili dan sekitarnya.

Dalam kegiatan tersebut Megawati membagikan ingatan mula persahabatan uniknya bersama Perdana Menteri Xanana Gusmão yang berawal dari selembar surat yang dikirim secara sembunyi-sembunyi dari balik jeruji penjara di masa lampau. 

Megawati mengisahkan kedekatan pribadinya dengan Xanana maupun Presiden Ramos Horta.

"Saya dengan mereka berdua menjadi sahabat lama, dan alhamdulillah mereka berdua masih dapat saya temui dengan sehat hari ini. Dan kami juga berkeinginan untuk kami semua maju bersama," ujar Megawati dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Silaturahmi itu terlaksana di Rumah KBRI Dili pada Kamis malam waktu setempat, dan turut dihadiri oleh deretan warga lokal Timor-Leste yang merupakan eks pengurus PDI Timor Timur sebelum referendum pemisahan tahun 1999.

Megawati mengaku merasa amat tersentuh lantaran berada di gedung KBRI Dili terasa layaknya tengah berada di kediaman sendiri. Ia berpesan agar gedung KBRI selalu terbuka lebar dan menjadi rumah yang memayungi segenap rakyat Indonesia di sana.

Di samping itu, Megawati pun mengingatkan seluruh warga yang datang untuk senantiasa menjaga kehormatan bangsa dan bangga atas identitas Indonesia selaku negara kepulauan paling besar di dunia.

Di tengah suasana penuh kehangatan tersebut, atmosfer berganti menjadi takzim saat sejumlah perwakilan eks pengurus PDI masa lalu diberikan kesempatan naik ke atas panggung guna mengutarakan refleksi serta catatan sejarah mereka.

Testimoni pertama disampaikan oleh Martin Anastasio, mantan pengurus PDI Perjuangan Timor Timur periode 1996–2000. 

Dengan vokal penuh semangat, Martin mengingat kembali beratnya dinamika politik beserta aneka upaya tekanan dan intimidasi yang mesti dilewati para pengurus partai di daerah menjelang pergolakan referendum 1999.

Di tengah aneka situasi sukar yang menguji kesetiaan itu, Martin menandaskan bahwa dirinya bersama pengurus lain memutuskan untuk tetap teguh mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi serta instruksi pusat dari Ketua Umum.

"Saya tetap memilih jalan organisasi. Saya lebih rela meminta Mama Megawati harus hadir langsung ke Timor Timur saat itu untuk membantu meneduhkan situasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada," ungkap Martin yang seketika menyulut tepuk tangan riuh.

Kesaksian berikutnya datang dari Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDI-P Kecamatan Atauro (Pulau Kambing). 

Begitu memperoleh info dari Sekretaris PDI Provinsi kala itu, Roni Hutagaol, bahwa "Mama Mega" tiba di Dili, Cesar rela bertaruh mengarungi lautan selama tiga jam memakai kapal dari Pulau Atauro supaya bisa hadir di KBRI.

Cesar mengisahkan perjuangannya yang sarat risiko ketika berhadapan dengan bermacam interogasi dan penahanan dari aparat keamanan setempat di masa lampau akibat situasi politik Dili yang bergolak. 

Karena berkukuh memegang mandat "jalan tengah" yang menitikberatkan perdamaian selaras arahan Megawati, Cesar mesti melewati masa-masa pelik di dalam ruang tahanan.

"Saya mengalami banyak sekali ujian fisik dan mental saat itu, tapi saya bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa tetap melindungi saya," ujar Cesar sembari menahan haru.

Dalam kesempatan tersebut, Cesar ikut membuka catatan yang bergulir pada bulan Juli sebelum referendum 1999. 

Di bawah pantai kawasan Farol, Megawati sempat melangsungkan pertemuan singkat selama 15 menit bersama para calon legislatif lokal guna memberikan arahan internal. 

Di tempat itulah, Megawati mengutarakan petuah kedamaian mendalam yang hingga kini tersimpan erat di dalam dada Cesar.

"Ibu Megawati berbicara begini: 'Seandainya kalau masyarakat Timor Timur mau memilih merdeka, kami harus menghormati itu hak-hak mereka.' Kata-kata Ibu itu yang mengajarkan kami tentang esensi demokrasi dan masih saya simpan di sini," kata Cesar sembari menunjuk dadanya.

Mendengar penuturan para mantan anak buahnya yang menembus batas negara dan linimasa sejarah, Megawati mengaku amat terharu atas keterikatan batin yang tak pernah terputus itu.

 Megawati seketika memublikasikan rencana pembentukan Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan di Timor-Leste supaya koordinasi komunikasi bersama kader lokal yang tinggal di Dili dapat terwadahi secara demokratis dan terstruktur.

Selain itu, menanggapi aspirasi Cesar perihal kebutuhan investasi pariwisata dan perikanan di Pulau Atauro yang berbatasan langsung dengan Maluku Barat Daya, Megawati berjanji bakal segera mengutus salah satu Ketua DPP-nya, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri selaku pakar kelautan dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, guna menjalankan riset dan meninjau langsung potensi kemakmuran ekonomi di pulau tersebut.

Sesi makan malam yang dikelola secara apik oleh KBRI Dili ini ditutup dengan pekikan "Merdeka!" yang disuarakan lantang oleh Megawati dan disahut kompak oleh ratusan WNI.

Terkini