Kisah Zack Cash Turun 32 Kg Tanpa Diet Ketat dan Tetap Makan Fast Food

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:00:01 WIB
Tanpa Diet Ketat, Pria Ini Turun 32 Kg dan Tetap Makan Fast Food [FOTO: NET].

JAKARTA - Melakukan program diet biasanya sangat lekat dengan aturan untuk menyetop konsumsi makanan cepat saji. Meski demikian, seorang pria asal Amerika Serikat bernama Zack Cash berhasil membuktikan bahwa dirinya tetap mampu memangkas berat badan hingga kisaran 32 kilogram dalam waktu tujuh bulan saja, tanpa perlu membuang menu fast food sepenuhnya dari daftar makanannya.

 Pengalaman berharga ini dibagikan oleh Zack kepada Men's Health (1/7/2026). Ia menilai bahwa transformasi paling signifikan yang dialaminya bukan disebabkan oleh metode diet ketat, melainkan karena ia mulai paham bagaimana asupan makanan memengaruhi kondisi tubuhnya serta keberhasilannya dalam mengambil keputusan yang lebih bijak setiap harinya.

Berat badan sempat lebih dari 140 kilogram

Zack Cash, seorang manajer ritel berusia 40 tahun yang tinggal di Jasper, Georgia, menceritakan bahwa dirinya dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan perekonomian yang pas-pasan. Alhasil, menu makanan harian mereka lebih banyak didominasi oleh kentang serta makanan cepat saji.

 Dirinya juga memiliki kebiasaan untuk selalu melahap habis semua makanan yang tersaji di atas piring walaupun perutnya sudah merasa kenyang. Ketika menginjak umur 39 tahun, bobot tubuhnya menyentuh angka sekitar 310 pon atau setara dengan lebih dari 140 kilogram.

Ia memaparkan bahwa gangguan berat badan tersebut amat mengganggu kualitas hidupnya kala itu. "Saya hampir tidak punya tenaga untuk bangun dari tempat tidur. Setiap kali libur kerja, saya hanya berbaring sepanjang hari dan merasa seperti mengalami brain fog," ujar Zack.

Kepergian sang ibu menjadi titik balik

Awal mula transformasi masif dalam kehidupan Zack terjadi pasca ibunya berpulang akibat serangan jantung pada dua tahun yang lalu. Sang ibu diketahui juga mempunyai kendala berat badan semasa hidupnya dan kerap merasa cemas jika Zack bakal mengalami problem kesehatan yang serupa.

Kekhawatiran tersebut kian memuncak tatkala Zack mulai kerap mengeluhkan rasa nyeri pada bagian dadanya di bulan Juni 2025. Melalui pemeriksaan medis, dokter selanjutnya memvonis bahwa ia berada dalam kondisi pradiabetes.

 "Setelah melihat semua yang dialami ibu saya, saya menjadi sangat takut. Saya merasa ibu sedang menjaga saya dan berkata, 'Zack, kamu harus melakukan sesuatu!'" katanya. Fase krusial inilah yang akhirnya memicu motivasi dirinya untuk mulai mendalami panduan pola makan yang jauh lebih sehat.

Tidak menjalani diet ketat

Tepat pada hari ketika ia divonis mengidap pradiabetes, Zack memperoleh info bermanfaat mengenai program Twin Health. 

Itu merupakan sebuah platform aplikasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) guna menyajikan anjuran seputar nutrisi dan aktivitas fisik yang disesuaikan dengan profil metabolisme pemakainya. 

Berdasarkan penuturan Zack, platform tersebut sangat membantunya untuk sadar bahwa ia sejatinya tidak perlu memaksakan diri mengikuti metode diet yang terlampau mengekang. 

Sebaliknya, ia dituntun untuk memahami efek dari tiap jenis makanan terhadap kadar gula darahnya sehingga ia mampu menentukan opsi makanan yang lebih aman.

"Saya tidak harus mengikuti diet yang ketat. Saya hanya perlu memahami bagaimana makanan yang berbeda memengaruhi gula darah saya," ujarnya.

Tetap makan fast food, tetapi memilih menu yang berbeda

Salah satu sarana yang paling rutin dimanfaatkan oleh Zack ialah pemindai makanan yang tersedia di dalam aplikasi tersebut. Sarana ini memudahkannya dalam mengidentifikasi jenis makanan apa saja yang lebih selaras dengan keperluan sistem metabolisme tubuhnya.

Lewat proses tersebut, Zack akhirnya menyadari bahwa produk makanan beku yang selama ini ia kira menyehatkan rupanya justru menyimpan kandungan kentang, garam, beserta gula dalam kadar yang tergolong tinggi. 

Walaupun begitu, ia tidak langsung menyingkirkan menu makanan cepat saji secara total dari rutinitasnya. Sebagai alternatif, ia mengakalinya dengan beralih ke pilihan menu yang dinilai lebih seimbang.

Sebagai contoh, ia lebih memilih memesan semangkuk chili saat berada di Wendy's lantaran menu tersebut kaya akan kandungan protein serta serat. 

Ketika mengunjungi Chick-fil-A, ia menjatuhkan pilihan pada sandwich ayam panggang yang dilengkapi buah, sementara saat di Panda Express ia mengambil opsi menu ayam dengan kalori rendah yang disajikan bersama sayur-sayuran. 

Ia juga mengubah kebiasaan makan ayam goreng berbumbu tebal dan kentang goreng dengan beralih ke ayam berbalut tepung tipis serta kentang manis yang dipanggang. 

Di samping itu, Zack pun mulai disiplin menjaga takaran porsi, mencukupi kebutuhan protein beserta serat hariannya, dan mempraktikkan teknik meal sequencing, yakni menyantap protein, lemak sehat, asupan kaya serat, serta sayuran nontepung terlebih dahulu sebelum menyentuh makanan berkarbohidrat.

"Pada dasarnya, sekarang saya makan dengan tujuan," katanya.

Turun 32 kilogram dan kondisi kesehatan membaik

Langkah penyesuaian pola makan tersebut juga diimbangi dengan peningkatan intensitas kegiatan fisik. Zack saat ini rutin berjalan kaki hingga mencapai kisaran 11.000 langkah saban hari dan aktif menghadiri kelas yoga, latihan beban, maupun sesi peregangan otot selama 15 menit.

"Bagi saya, bukan soal seberapa berat olahraganya. Yang lebih penting adalah konsisten," ujarnya.

Dalam kurun waktu empat bulan awal, bobot tubuhnya menyusut sekitar 25 kilogram. Berjalan selama tujuh bulan, akumulasi penurunan berat badannya sukses menembus angka sekitar 70 pon atau setara 32 kilogram. 

Saat ini bobot tubuhnya bertengger di angka 241 pon atau kisaran 109 kilogram, dengan target akhir berada di angka 200 pon. 

Di samping sukses memangkas berat badan, catatan HbA1c miliknya pun berangsur membaik dari semula di angka 8,1 menjadi 5,4, yang memperlihatkan bahwa tingkat gula darahnya sudah kembali masuk ke dalam batas aman yang normal. 

Zack turut mengungkapkan bahwa dirinya sudah berbulan-bulan terbebas dari keluhan nyeri pada ulu hati maupun gangguan asam lambung tinggi (refluks). Ia merasa rentetan perbaikan ini telah mengubah jalan hidupnya secara menyeluruh.

"Saya ingin orang lain yang berada dalam situasi seperti saya tahu bahwa perubahan itu mungkin dilakukan. Bukan hanya soal menghitung kalori, tetapi memahami bagaimana makanan dan olahraga memengaruhi gula darah serta tubuh secara keseluruhan. Dari situlah perubahan yang bertahan lama bisa terjadi," tutupnya.

Terkini