Mandiri Taspen Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Lansia 2045

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:03:01 WIB
Hadapi Ledakan Lansia, Bank Mantap Siapkan Ekosistem Layanan {FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mulai menyusun taktik guna menghadapi lonjakan total populasi lanjut usia (lansia) di tanah air. Jumlah penduduk senior tersebut diestimasikan menembus angka 70 juta jiwa pada tahun 2045.

Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan berpandangan bahwa sektor perbankan wajib bersiap menghadapi pergeseran postur demografi tersebut. 

Selaku instansi yang memegang mandat untuk melayani para pensiunan, Bank Mantap memperkokoh fasilitas bagi pensiunan aparatur sipil negara (ASN), TNI, serta Polri.

“Siap nggak siap harus dihadapi. Siap nggak siap ketemu juga masa itu, benar nggak? Jadi walaupun bagaimanapun juga kami berpegangan begini, kami diberikan mandat ngurusin beliau-beliau itu, itu kan tugas yang mulia mengurusi para senior citizen,” ujar Panji saat media gathering di Denpasar, Jumat malam (3/7/2026).

Salah satu prioritas utama perseroan yaitu mempermudah tahapan autentikasi bagi para penerima manfaat dana pensiun. 

Verifikasi ini wajib dieksekusi berkisar dua minggu sebelum waktu pencairan dana. Proses tersebut bisa ditempuh dengan berkunjung langsung ke jaringan kantor cabang atau mengandalkan aplikasi milik Taspen dan Asabri.

“Yang paling penting sekarang adalah kalau senior citizen, khususnya tadi pensiunan ASN, TNI, Polri yang dibayarkan oleh Taspen dan Asabri itu sebelum mereka terima uang pensiun tanggal 1 tanggal 5, tanggal 15 sebelumnya, 2 minggu, sebelumnya sudah harus otentikasi,” paparnya.

Bank Mantap turut mempersiapkan sarana pelayanan lewat aplikasi Movin. Kebijakan ini menyuguhkan opsi yang lebih bervariasi untuk kaum pensiunan dalam menjangkau sarana perbankan tanpa mesti hadir langsung ke kantor cabang.

Panji mengutarakan perseroan ikut merajut ekosistem fasilitas bagi kelompok lansia melalui jalinan kemitraan bersama rumah sakit, korporasi asuransi kesehatan, serta pengembangan beraneka instrumen keuangan yang merujuk pada implementasi di mancanegara.

“Lalu apa lagi yang kami bisa lakukan? Tadi persiapan dengan rumah sakit, persiapan juga dengan asuransi kesehatan, persiapan juga tadi dengan menciptakan produk-produk baru,” pungkas dia.

Instrumen produk itu nantinya bakal diselaraskan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta diintegrasikan ke dalam infrastruktur digital milik Bank Mantap.

“Di luar negeri sudah ada produknya, kenapa nggak kami buat label kan? Gampang banget tinggal contoh aja gitu sepanjang sesuai dengan ketentuan yang ada di OJK. Itu yang akan kami lakukan copy paste apa yang paling sesuai dengan satu teknologi yang kami miliki, kan mesti walaupun bagaimanapun nanti ujung-ujungnya mesti masuk ke dalam kami punya sistem kan,” lanjutnya.

Salah satu instrumen yang tengah dimatangkan yaitu reverse mortgage, yakni sebuah skema pinjaman bagi warga senior yang memberikan peluang bagi nilai properti untuk dikonversikan menjadi dana tunai.

Panji mengalkulasi instrumen keuangan untuk kaum lansia di tanah air terhitung masih minim, terkhusus bagi warga di luar segmen pensiunan ASN, TNI, serta Polri. 

Oleh sebab itu, perbankan dituntut meramu produk yang menolong warga dalam mendanai keperluan hidup di kala pensiun memanfaatkan aset yang dipunyai.

Ia pun menangkap ceruk berkembangnya ekosistem ekonomi yang mengakomodasi keperluan lansia, mulai dari sektor hunian, fasilitas kesehatan, sampai rumah sakit khusus yang melayani pasien demensia.

 Seiring bertambahnya populasi lansia, keperluan atas beraneka akomodasi tersebut diprediksi terus merangkak naik. 

Bank Mantap berkeinginan mengambil bagian lewat penyaluran kredit, sistem pembayaran, serta pengayaan komunitas penunjang fasilitas bagi lansia.

Pada momen yang sama, Panji memaparkan Bank Mantap turut menggeser strategi pengumpulan dana pasca-pergantian jajaran manajemen pada Desember 2025. Perseroan pada saat ini memperbesar porsi dana murah lewat instrumen tabungan dan giro demi memangkas beban dana atau cost of fund.

Menurut Panji, taktik tersebut dieksekusi dengan memaksimalkan sarana QRIS, aplikasi Movin, serta Mantap Cash Management. Optimalisasi QRIS dan Movin diproyeksikan mendongkrak saldo tabungan, sementara Mantap Cash Management disasarkan untuk mempertebal saldo giro nasabah.

“Kami punya QRIS waktu itu. QRIS itu lho kok jarang dipakai, jadi QRIS-nya kami pasarkan juga. Lalu kami juga memiliki Mantap Cash Management, itu kan di belakangnya. Kalau Mantap Cash Management dipakai berarti saldonya adalah giro. Dia memakai Movin, dia memakai QRIS saldonya adalah tabungan,” ucapnya.

Semakin tinggi porsi tabungan dan giro, maka biaya dana ikut merosot lantaran suku bunga yang diberikan lebih mini dikomparasikan dengan deposito. Taktik tersebut sempat memangkas cost of fund hingga menyentuh angka 4,02 persen.

“Dua itu yang kami genjot. Jadi pada prinsipnya kalau kami membesarkan tabungan dan giro dengan bunga lebih sedikit saja lebih mahal dibandingkan dengan yang ada di pasar, tapi lebih murah dari kami punya deposito, saya yakin cost of fund kami akan turun,” tutur Panji.

Kenaikan suku bunga pasar pada Juni 2026 menjadikan beban dana merangkak naik lagi sehingga belum berhasil ditekan ke bawah level 4 persen. 

Panji menyebutkan, jika tidak didapati pengetatan likuiditas, Bank Mantap menaruh optimisme sanggup membukukan cost of fund di bawah 4 persen untuk pertama kalinya sejak beroperasi sekitar 11 tahun silam.

Meski begitu, ia memandang lonjakan biaya dana untuk saat ini adalah dinamika pasar yang bakal beradaptasi kembali saat tekanan inflasi mulai melandai, beriringan dengan harga minyak dunia yang merosot ke kisaran 70 dollar AS sampai 80 dollar AS per barel.

Terkini