Siap-siap, Begini Prediksi Harga Emas Sepanjang Juli 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 02:12:01 WIB
Dipicu Geopolitik, Ini Proyeksi Harga Emas Dunia Selama Juli 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Pergerakan harga emas internasional diproyeksikan tetap bergulir fluktuatif selama periode Juli 2026. Dinamika ini membayangi bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global, arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat (AS), serta kuatnya ketertarikan para pelaku pasar terhadap instrumen investasi aman (safe haven).

Mengutip laporan Lite Finance yang merangkum estimasi dari sejumlah analis pasar, nilai tukar emas (XAU/USD) diproyeksikan akan bergulir di rentang US$4.186 sampai dengan US$4.933 per troy ounce untuk jangka waktu satu bulan ke depan atau selama Juli 2026. Di sisi lain, nilai rata-ratanya ditaksir bertengger pada level US$4.559 per troy ounce.

Walau demikian, sebagian pengamat komoditas masih memegang proyeksi yang condong melandai (bearish) untuk aset emas. 

Memasuki periode akhir tahun 2026, nilai logam mulia berisiko menyusut ke kisaran US$4.370 hingga US$3.816 per troy ounce jika gempuran dari kebijakan moneter ketat serta pelemahan ekonomi makro global terus berlanjut.

Proyeksi Harga Emas Juli 2026

Harga terendah: US$4.186 per troy ounce

Harga rata-rata: US$4.559 per troy ounce

Harga tertinggi: US$4.933 per troy ounce

Faktor yang Berpotensi Menggerakkan Harga Emas

1. Ketegangan Geopolitik Masih Menjadi Sorotan

Dinamika hubungan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menyedot perhatian para pelaku pasar. 

Walaupun kedua belah pihak secara konsisten menggelar dialog guna merumuskan draf kesepakatan damai, sampai dengan saat ini belum didapatkan kepastian titik temu atas penyelesaian konflik. 

Di waktu yang sama, otoritas Amerika Serikat terus mendesak pihak Iran agar menghentikan aktivitas pengembangan program nuklirnya sekaligus memberikan garansi bagi kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

Eskalasi situasi geopolitik ini berpeluang besar menyetir minat para investor terhadap aset pelindung nilai seperti emas.

2. Inflasi dan Kebijakan The Fed

Kenaikan harga komoditas energi yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah sempat memicu kecemasan atas lonjakan inflasi dunia. 

Situasi ini memaksa pelaku pasar untuk terus mencermati potensi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. 

Mengacu pada data CME Group, peluang bagi The Fed untuk menahan tingkat suku bunga di angka 3,50%–3,75% pada agenda pertemuan Juli diperkirakan menyentuh probabilitas 70,6%.

 Kebijakan suku bunga yang bertengger di level tinggi secara historis dapat mengikis daya pikat emas karena investor lebih memilih beralih ke produk investasi yang menghasilkan bunga secara berkala.

3. Permintaan Emas Global Masih Tinggi

Berdasarkan data yang dirilis World Gold Council (WGC), volume permintaan emas secara global, termasuk aktivitas perdagangan over-the-counter (OTC), menembus angka 1.231 ton sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Capaian ini menorehkan rekor tertinggi baru untuk periode tiga bulan pertama.

 Investor retail/individu tercatat menjadi motor penggerak utama permintaan dengan akumulasi pembelian mencapai sekitar 535,6 ton.

 Selain itu, serapan terhadap produk emas batangan terpantau solid di level 397,7 ton, mencatatkan kenaikan sebesar 20% dari triwulan sebelumnya serta melonjak 50% apabila dikomparasikan dengan kuartal yang sama pada tahun lalu.

4. Permintaan Perhiasan Mengalami Penurunan

Kontras dengan performa di sektor instrumen investasi, tingkat serapan emas pada industri perhiasan justru menunjukkan tren melambat. 

Pada sepanjang kuartal pertama 2026, volume konsumsi emas untuk kebutuhan perhiasan hanya menyentuh kisaran 335 ton, melorot hingga 24% dari kuartal sebelumnya. Koreksi terdalam dilaporkan bersumber dari pasar China, India, serta wilayah Timur Tengah.

5. Industri Teknologi Tetap Menopang Permintaan

Sektor manufaktur teknologi tercatat masih konsisten menjadi salah satu pilar penyerap komoditas emas global. Tingkat serapan dari ranah industri ini berada di kisaran 81,6 ton, dengan porsi mayoritas dialokasikan untuk memproduksi komponen-komponen elektronik.

 Jika disandingkan dengan performa tahun lalu, permintaan dari sektor teknologi merangkak naik sekitar 1%, sementara segmen industri elektronik menorehkan pertumbuhan di kisaran 3%.

Terkini