BEI Bidik Kapitalisasi Pasar Rp30.000 T, Kepercayaan Publik Diuji

Kamis, 02 Juli 2026 | 23:45:01 WIB
Target Ambisius BEI 2030: Kapitalisasi Pasar Rp30.000 Triliun [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia Tbk menetapkan target kinerja yang dianggap ambisius sampai tahun 2030. Sejumlah sasaran yang diincar oleh jajaran direksi anyar BEI meliputi target mengantarkan 1.100 korporasi melantai di bursa efek, membukukan 35 juta investor, menghimpun kapitalisasi pasar senilai Rp 30.000 triliun, hingga menembus daftar 10 besar jajaran bursa paling besar di dunia.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengungkapkan, target tinggi direksi BEI untuk 2030, yaitu kapitalisasi pasar menyentuh Rp 30.000 triliun dan total investor sebanyak 35 juta Single Investor Identification (SID) merupakan sasaran yang lumayan menantang.

"Tetapi masih berada dalam koridor yang realistis apabila ditempatkan sebagai visi jangka menengah, bukan sekadar target administratif," kata dia kepada, Kamis (2/7/2026).

Dirinya mengimbuhkan, di dalam ranah pasar modal, sasaran yang tinggi sejatinya diperlukan demi menyajikan arah bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pihak regulator, bursa, perusahaan efek, emiten, hingga kalangan penanam modal.

Kendati begitu, poin yang jauh lebih esensial ketimbang sekadar merengkuh angka statistik adalah memastikan eskalasi tersebut bersumber dari peningkatan mutu pasar. 

Pasalnya, pasar modal bukanlah sektor industri yang sanggup berkembang secara sehat cuma dengan mengejar aspek kuantitas.

Pasar modal merupakan cerminan dari kekuatan fundamental perekonomian suatu negara. Tatkala ekonomi nasional melaju secara berkelanjutan dan keuntungan korporasi menanjak, maka kian banyak perusahaan bermutu menggelar penawaran saham perdana (IPO) dan keyakinan investor kian kokoh.

"Maka kapitalisasi pasar maupun jumlah investor pada akhirnya akan bertambah secara alami," imbuh dia.

Menghitung target bursa efek Indonesia

Hendra memberikan gambaran, saat dikalkulasi secara sederhana, sasaran kapitalisasi pasar berkisar Rp 30.000 triliun pada 2030 mengindikasikan perlunya pertumbuhan rata-rata sekitar 10–12 persen per tahun dari posisi saat ini.

Nominal tersebut sebenarnya bukan hal yang mustahil jika Indonesia sanggup mempertahankan pertumbuhan ekonomi di level lima persen atau lebih, keuntungan emiten terus meroket, serta semakin banyak korporasi besar berskala global merambah ke pasar modal.

Kondisi serupa juga tampak pada sasaran 35 juta investor. Sepanjang beberapa tahun ke belakang, pertumbuhan jumlah penanam modal di Indonesia masuk kategori sangat masif berkat digitalisasi pembukaan rekening efek, kian gampangnya akses investasi lewat aplikasi, serta meningkatnya literasi keuangan publik.

Mengacu hal itu, dari aspek potensi, sasaran dimaksud tetap dapat dijangkau jika edukasi investor terus diakselerasi, penetrasi pasar modal menyentuh daerah-daerah yang selama ini belum terinfeksi, serta produk investasi semakin bervariasi dan selaras dengan keperluan masyarakat.

Namun demikian, kendala yang sebenarnya bukan bertumpu pada kesanggupan meraih angka tersebut, melainkan mengawal agar pertumbuhan itu dibarengi kualitas yang mumpuni.

Kuantitas investor yang jumbo belum tentu merefleksikan pasar yang tangguh jika mayoritas penanam modal sekadar berorientasi jangka pendek, mengantongi nilai aset yang minim, atau hanya aktif tatkala pasar sedang bergairah naik.

Begitu pula dengan nilai kapitalisasi pasar yang tinggi, belum tentu memperlihatkan kondisi pasar yang sehat apabila lonjakan tersebut cuma ditopang oleh segelintir saham berkapitalisasi raksasa, sementara tingkat likuiditas saham lainnya tetap rendah.

Oleh karena itu, Hendra berpendapat hal yang esensial untuk terus diperkuat ialah kualitas basis penanam modal, utamanya investor institusi domestik layaknya dana pensiun, korporasi asuransi, reksa dana, hingga pengelola investasi jangka panjang.

Keberadaan investor institusi yang kokoh bakal menjadikan pasar lebih stabil lantaran keputusan investasinya secara umum lebih rasional serta tidak gampang terdistraksi oleh sentimen jangka pendek.

Transformasi bergerak ke arah yang tepat

Di dalam konteks ini, Hendra menilai, reformasi pasar modal yang selama ini diselenggarakan oleh OJK, BEI, pemerintah, Self Regulatory Organization (SRO), pelaku industri, hingga emiten sebenarnya sudah melangkah ke arah yang benar.

Digitalisasi layanan, simplifikasi proses IPO, penguatan proteksi investor, peningkatan transparansi emiten, ekspansi instrumen investasi, pendalaman pasar obligasi, hingga perumusan bursa karbon merupakan basis krusial untuk pertumbuhan jangka panjang.

Kendati demikian, reformasi tidak boleh mandek pada perubahan regulasi semata. Unsur yang jauh lebih utama ialah memastikan pelaksanaan kebijakan berjalan secara konsisten agar betul-betul mengeskalasi efisiensi pasar, memperkokoh tata kelola korporasi, memperdalam likuiditas, serta menghadirkan kepastian hukum bagi seluruh pelaku pasar.

"Menurut saya, titik paling menentukan dalam mencapai target 2030 adalah membangun kepercayaan atau trust," terang dia.

Dalam dunia investasi, kepercayaan merupakan modal yang jauh lebih berharga ketimbang sekadar stimulus fiskal atau kenaikan indeks saham. 

Penanam modal domestik maupun mancanegara pada akhirnya akan menilai apakah regulasi diterapkan secara adil, keterbukaan informasi perusahaan disajikan secara transparan, pelanggaran ditindak secara konsisten, dan kebijakan pemerintah dapat diprediksi.

Tatkala kepercayaan menguat, penanam modal bakal lebih berani menaruh dananya untuk jangka panjang. 

Kebalikannya, jika kepercayaan terganggu, modal bisa hengkang dalam waktu singkat, seperti yang tecermin dari masih besarnya arus dana asing yang keluar sepanjang tahun ini.

Lanjutan evaluasi MSCI

Berkenaan dengan evaluasi klasifikasi pasar oleh lembaga pemeringkat internasional Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang masih bergulir hingga November, Hendra memandang hal tersebut justru menjadi pengingat bahwa komunitas investor global tidak sekadar menyoroti besarnya ekonomi Indonesia, namun juga konsistensi eksekusi reformasi.

MSCI melakukan penilaian terhadap beragam aspek seperti kemudahan akses pasar, efisiensi penyelesaian transaksi, kepastian hukum, mekanisme perdagangan, hingga proteksi penanam modal.

 Dengan kata lain, yang diuji bukan semata-mata mutu regulasi di atas kertas, melainkan bagaimana aturan tersebut diimplementasikan dalam aktivitas harian.

Jika seluruh perbaikan yang tengah dijalankan sanggup memperlihatkan hasil yang nyata, peluang Indonesia mendapatkan penilaian yang lebih baik tentunya bakal kian terbuka lebar.

Bukan target ambisius

Hendra mengutarakan, sasaran kapitalisasi Rp 30.000 triliun serta 35 juta investor bukanlah target yang terlampau ambisius, namun juga bukan sasaran yang bakal terwujud secara otomatis.

Target tersebut hanya akan menjadi realistis jika disokong oleh pertumbuhan ekonomi yang tangguh, kian banyaknya emiten bermutu, meningkatnya produktivitas sektor riil, bertambahnya investor institusi domestik, serta konsistensi reformasi di bidang hukum, tata kelola, dan kebijakan ekonomi.

Maka dari itu, tolok ukur kesuksesan pasar modal Indonesia selayaknya tidak cuma dinilai dari besarnya kapitalisasi, kuantitas investor, atau tingginya IHSG. 

Keberhasilan pasar modal harus ditinjau dari indikator seperti semakin dalamnya likuiditas, meningkatnya kualitas tata kelola perusahaan, kuatnya kepercayaan investor, serta semakin besarnya kontribusi pasar modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan nasional.

"Apabila fondasi-fondasi tersebut berhasil diperkuat, maka target 2030 bukan sekadar angka yang dapat dicapai, melainkan menjadi cerminan bahwa pasar modal Indonesia telah tumbuh menjadi lebih sehat, kredibel, dan berdaya saing di tingkat global," ungkap dia.

Target BEI jangka pendek, tetap di emerging market

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menuturkan, target yang diberikan direksi BEI untuk lima tahun ke depan memang harus agresif.

"Mereka punya waktu lima tahun istilahnya lah, jadi ini memang target jangka panjang, tetapi memang target jangka pendeknya adalah Indonesia tetap harus di emerging market," ucap dia dalam Media Day.

Dirinya mengimbuhkan, target yang dipatok direksi BEI tersebut penting untuk menghadirkan kepercayaan di awal masa kepemimpinannya.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri telah menetapkan beberapa indikator sasaran dalam masa kepemimpinan jajaran direksi yang baru. BEI menargetkan kuantitas perusahaan tercatat lewat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) menembus 1.100 emiten hingga 2030.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengutarakan, pihaknya akan menyampaikan rincian dari target itu dari tahun ke tahun.

"Tapi untuk hari ini yang kami sampaikan adalah targetnya di atas 1.100 perusahaan tercatat,” ujar Jeffry saat ditemui wartawan di gedung BEI usai pelaksanaan RUPS Tahunan, Senin (29/6/2026).

Saat dimintai konfirmasi apakah target tersebut turut mencakup Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ia menyatakan BEI berharap kian banyak perusahaan dari seluruh sektor dan aneka jenis usaha dapat mencatatkan saham di pasar modal.

“Ya tentu kami harapkan dari semua sektor dan semua jenis perusahaan,” papar dia.

Saat ini total perusahaan tercatat di BEI menyentuh 957 emiten. Sementara itu, sebanyak enam korporasi lagi berada dalam antrean pencatatan saham dan dijadwalkan melantai di bursa pada awal Juli 2026.

Target bawa BEI masuk daftar 10 bursa terbesar dunia

Tak cuma itu, BEI juga membidik target untuk mengantarkan BEI masuk dalam jajaran 10 bursa saham paling besar di dunia pada akhir masa jabatannya, yakni 2030.

“Di tahun 2030 kami yakini tidak mudah tetapi ini adalah apa yang harus kami capai, yang ingin kami capai untuk pasar modal Indonesia atau Bursa Efek Indonesia ke depan adalah bagaimana kami bisa membawa Bursa Efek Indonesia menjadi 10 di antara 10 bursa besar di dunia,” ujar Jeffrey saat konferensi pers, secara daring.

Langkah paling mendesak guna merealisasikan target tersebut adalah memperdalam pasar modal lewat peningkatan kualitas dari sisi penawaran (supply) maupun permintaan (demand). Menilik sisi penawaran, BEI memerlukan lebih banyak korporasi berkapitalisasi raksasa yang mencatatkan sahamnya di pasar.

Terkini