Resmi Berlaku, Ini Perbedaan Biodiesel B50, B40, B30, dan B20

Kamis, 02 Juli 2026 | 22:23:31 WIB
B50 Mulai Berlaku, Apa Bedanya dengan B20, B30, dan B40? [FOTO: NET].

JAKARTA - Pihak otoritas secara resmi mulai memberlakukan biodiesel B50 per 1 Juli 2026 sebagai mata rantai dari langkah memperkokoh kedaulatan energi nasional sekaligus menekan angka ketergantungan atas impor solar murni. 

Kebijakan ini menjadi jembatan lanjutan dari program biodiesel terdahulu yang diawali dari B20, lalu menanjak ke B30 serta B40. Lalu, apa aspek pembeda antara B20, B30, B40, dan B50?

Titik pembeda fundamentalnya berada pada angka persentase kombinasi biodiesel dengan bahan baku minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) bersama solar murni. Kian tinggi angka yang mengekor di balik huruf "B", maka kian pekat pula komposisi biodiesel di dalamnya. Di bawah ini merupakan rincian pembeda tersebut:

B20: mencakup formulasi 20 persen biodiesel serta 80 persen solar.

B30: mencakup formulasi 30 persen biodiesel serta 70 persen solar.

B40: mencakup formulasi 40 persen biodiesel serta 60 persen solar.

B50: mencakup formulasi 50 persen biodiesel serta 50 persen solar.

Kondisi tersebut menandakan bahwa B50 mengantongi porsi energi terbarukan yang paling mendominasi bila disejajarkan dengan program biodiesel pada periode sebelumnya.

Sementara itu, Pengamat otomotif asal Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, memaparkan bahwa unsur pembeda utama dari B50 bertumpu pada kadar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang jauh lebih pekat.

"B50 artinya FAME-nya lebih banyak dari B40. FAME yang lebih banyak membuat tendensi power jadi drop, mungkin sekitar 5 sampai 10 persen," cetus Jayan kepada Kompas.com, baru-baru ini.

Di sisi lain, mengacu pada publikasi dari akun Instagram resmi Humas Badan Pengelola Migas Aceh, Indonesia secara kontinu mendongkrak porsi ramuan biodiesel dalam bahan bakar mesin diesel, yang bergulir dari B20, B30, B35, B40, hingga saat ini bersiap mengaplikasikan B50.

“Campuran 50% solar dan 50% biodiesel berbasis minyak nabati (FAME) yang menjadi pilar strategi ketahanan energi nasional,” tulis takarir dalam unggahan itu.

Di dalam publikasi media sosial tersebut dijabarkan pula bahwa pemberlakuan B50 diproyeksikan mampu mendatangkan sederet faedah, di antaranya:

Memangkas pengeluaran devisa negara lewat pengurangan impor bahan bakar solar;

Mendongkrak nilai tambah komoditas kelapa sawit sekaligus taraf hidup petani;

Membuka lapangan pekerjaan baru di sektor-sektor yang berkaitan; serta

Menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca.

Walau kadar campuran biodieselnya menanjak di angka 50 persen, varian B50 tetap diformulasikan agar kompatibel dipakai pada deretan kendaraan bermesin diesel. 

Pemanfaatannya tidak sekadar menyasar mobil penumpang pribadi serta kendaraan komersial saja, melainkan ikut mencakup armada truk, bus, alat berat, angkutan kapal laut, kereta api, hingga sektor pembangkit listrik.

Oleh karena itu, perbedaan mendasar antara B20, B30, B40, dan B50 bertumpu pada besaran angka persentase ramuan FAME di dalam solar. 

Kian pekat komposisi biodieselnya, kian masif pula kontribusi yang diberikan bagi optimalisasi energi terbarukan, kendati dalam pelaksanaannya masih memerlukan penyesuaian dari aspek performa maupun kesiapan mesin kendaraan diesel.

Terkini