UGM Ungkap Penyebab Api Misterius di Sleman Terkait Material PVC

Minggu, 14 Juni 2026 | 14:09:01 WIB
Misteri kemunculan api di kediaman Agusyani Mujiyanto [FOTO : NET].

JAKARTA - Teka-teki mengenai munculnya api di kediaman milik Agusyani Mujiyanto yang berlokasi di Seyegan, Kabupaten Sleman, kini mulai menemui titik terang. Kelompok peneliti dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menarik kesimpulan bahwa peristiwa tersebut sama sekali bukan dipicu oleh gas alam, melainkan berkaitan dengan bahan resin poly vinyl chloride (PVC). 

Keputusan tersebut diambil usai tim PKPE FT UGM melangsungkan serangkaian riset serta pengujian laboratorium terhadap peranti sampel yang diperoleh dari tempat kejadian perkara. Ketua Tim Peneliti PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi mengutarakan, temuan riset teranyar ini meluruskan sejumlah perkiraan awal yang sempat memicu bermacam spekulasi di tengah masyarakat.

Uji Laboratorium Temukan Kandungan PVC

Kelompok peneliti mengambil sampel berupa sisa pembakaran yang melekat pada bagian permukaan dinding keramik serta bahan kayu atau tripleks pada Jumat (12/6/2026). 

Sampel tersebut selanjutnya diperiksa memakai teknik Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) demi mengenali unsur senyawa yang terdapat pada sisa kebakaran itu.

"Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa sampel-sampel tersebut menunjukkan kandungan poly vinyl chloride (PVC) yang tidak umum dijumpai di permukaan dinding keramik maupun kayu/tripleks," ujar Alva, Sabtu (13/6/2026), dilansir dari TribunJogja.

Temuan mengenai unsur PVC tersebut sekalian menerangkan hasil pemantauan gawai pendeteksi gas yang sebelumnya membaca adanya gas hidrogen, serta sempat dihubungkan dengan dugaan gas pyrophoric yang bersumber dari limbah potongan ayam berfosfor. 

Berdasarkan penjelasan kelompok peneliti, hasil pembacaan tersebut dapat terjadi lantaran adanya fenomena cross sensitivity pada peranti pendeteksi gas.

"Saat PVC terbakar, akan muncul gas Hidrogen Klorida. Gas tersebut bisa terbaca sebagai gas hidrogen oleh detektor gas yang mempunyai sensor membran H2. Fenomena ini disebut cross sensitivity. Gas hidrogen klorida yang memiliki atom hidrogen di dalam molekulnya akan membuat elektroda sensor hidrogen bereaksi dan alat seolah membaca ada gas hidrogen," terangnya.

UGM Pastikan Tidak Ada Gas Alam

Sebelum menetapkan konklusi akhir, tim PKPE FT UGM yang beranggotakan 17 tenaga ahli dari bermacam bidang keilmuan melaksanakan rentetan riset lapangan serta pengujian geofisika. 

Pemantauan dilangsungkan memakai drone yang dilengkapi sensor Thermal Infrared demi mengamati kawasan sekitar hingga jangkauan radius 200 meter dari lokasi peristiwa. 

Hasilnya, tim tidak mendapati adanya keanehan termal yang mengindikasikan keberadaan hulu panas alami. Kelompok ini juga melangsungkan pelacakan bagian bawah permukaan tanah memakai instrumen georadar serta geolistrik guna memburu potensi adanya kandungan gas alam.

Hasil riset memperlihatkan tidak ditemukannya lapisan ataupun jalur resapan gas alam di bawah bangunan rumah yang terdampak peristiwa kebakaran misterius tersebut. Di samping itu, tim melangsungkan pengujian sisa kayu, tanah, dinding, hingga abu sisa pembakaran memakai teknik Headspace Gas Chromatography (GC). 

Hasil pemeriksaan tersebut cuma mendeteksi gas karbon dioksida (CO2) serta sama sekali tidak menemukan senyawa hidrokarbon ataupun cairan pelarut yang bisa memicu timbulnya api. Melalui seluruh tahapan riset tersebut, tim PKPE FT UGM memastikan bahwa api misterius di Seyegan bukan berasal dari gejala geologi ataupun kandungan gas alam.

"Based on the results of this research, the PKPE-FT UGM Team and referring to the Fire Triangle Theory Principle concluded that the measured electromagnetic field was at a safe level, which means it was not a spark for an open flame, the source of the fire was not from natural gas seepage from below the surface (floor), there was no thermal anomaly, and no gas was found that could ignite by itself naturally (self-ignition) at room temperature," jelas Alva.

Ia mengimbuhkan bahwa timbulnya api tersebut lebih berkaitan erat dengan keberadaan bahan buatan manusia yang berada di tempat kejadian perkara.

"Tim PKPE FT UGM menemukan data lanjutan bahwa api yang membakar material pada kasus rumah api Seyegan kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride yang mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition). Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berdasarkan pengujian metoda FTIR," lanjutnya.

Pemantik Api Masih Menjadi Misteri

Walau berhasil mengenali bahan yang hangus terbakar, kelompok peneliti UGM berterus terang bahwa mereka masih belum menjumpai asal mula pemantik api yang mengakibatkan resin PVC tersebut terbakar. Anggota PKPE Fakultas Teknik UGM, Sarju Winardi mengemukakan bahwa bahan PVC tidak bakal bisa menyala tanpa adanya faktor pemicu.

“Pemantik mestinya ada karena kalau tidak dipantik dia (resin PVC) nggak akan terbakar. Nah, pemantiknya apa? ini akan ditelanjutkan oleh tim yang lain di BPBD, kami akan melaporkan untuk diselidiki pemantiknya ini apa,” terangnya.

Tim juga sudah mengamati kemungkinan adanya medan elektromagnetik yang bisa memicu timbulnya api. Namun, hasilnya memperlihatkan kondisi medan elektromagnetik di tempat tersebut masih berada dalam koridor aman.

“Secara teori (segita) api itu muncul kalau ada fuel (material bahan bakar), ada heat (panas) kemudian ada oksigen. Kalau ketiga itu muncul ada di satu tempat, tinggal fuelnya saja, fuel itu bisa mantik sendiri atau self-ignition tapi juga dipantik dari pemantik,” imbuh Alva.

Ahli Geologi UGM: Retakan Tanah Tidak Mengandung Gas

Dalam riset tersebut, tim geologi UGM turut menelusuri dugaan adanya hulu gas dari celah retakan tanah yang dijumpai di sekeliling rumah milik Agusyani. Pakar geologi PKPE FT UGM, Saptono Budi Samodra memastikan celah retakan yang dijumpai tersebut cuma rekahan tanah biasa serta tidak menyimpan kandungan gas.

“Dari hasil analisis kami, retakan itu hanya retakan biasa, jadi tidak ada gas di dalamnya, yang kemudian kesimpulannya, mendukung bahwa tidak ada gas alami yang terbentuk,” tandasnya.

Tim juga mengamati potensi adanya lapisan batuan yang bisa memproduksi gas metana ataupun varian gas alam lainnya. Kendati demikian, petunjuk tersebut tidak dijumpai di lapangan.

“Alaminya kan ada lapisan batuan yang kemungkinan akan menghasilkan gas alam metan dan sebagainya itu. Biasanya akan terbentuk di lapisan lempung,” terang Saptono.

Berdasarkan hasil pemindaian geolistrik satu dimensi, susunan bawah permukaan di lokasi bangunan rumah didominasi oleh bahan pasir dan bukan tanah lempung yang mempunyai potensi menjadi hulu gas.

“Jadi secara geologi lapisan-lapisan di bawah rumah itu tidak ada yang kemungkinan berpotensi menjadi batuan sumber gas,” pungkasnya.

Terkini