JAKARTA - Upaya memperkuat sektor sawit nasional tidak lagi hanya bertumpu pada petani besar atau perusahaan perkebunan. Kini, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong mengambil peran strategis dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Langkah ini diyakini mampu mempercepat peningkatan produktivitas kebun rakyat sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor hulu dan hilir. Keterlibatan UMKM diharapkan menjadi motor penggerak distribusi bibit unggul serta sarana produksi penunjang perkebunan.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong UMKM semakin aktif terlibat dalam PSR, khususnya dalam penyediaan bibit unggul dan sarana produksi. Dukungan tersebut diarahkan agar pelaku usaha kecil mampu masuk ke dalam rantai pasok industri sawit rakyat secara berkelanjutan.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan pentingnya kolaborasi tersebut. “Kita dukung kegiatan ini dan diharapkan UMKM semakin berperan dalam program PSR, misalnya sebagai penangkar bibit sawit. Kita dorong agar mereka bisa menyediakan bibit, tentu harus sesuai regulasi,” ujar Helmi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Peran Strategis UMKM dalam Program PSR
Keterlibatan UMKM diharapkan mempercepat implementasi PSR di berbagai daerah sentra sawit. Selain itu, langkah ini mendorong petani beralih menggunakan benih sawit unggul dan bersertifikat demi meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Menurut Helmi, sejumlah organisasi dan kelompok tani telah melihat peluang tersebut. Di antaranya berasal dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), petani di Riau melalui program Santripreneur, serta Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang siap menjadi penangkar bibit sawit.
Kehadiran berbagai organisasi ini menunjukkan respons positif terhadap dorongan BPDP. Partisipasi mereka diharapkan memperluas jaringan penyediaan bibit unggul yang sesuai standar dan regulasi.
BPDP mengambil peran sebagai pendukung dan fasilitator agar UMKM dapat masuk dalam rantai pasok industri sawit rakyat. Dukungan tersebut tidak hanya difokuskan di sektor hulu, tetapi juga diperluas hingga ke hilir.
“Selama ini kita banyak bergerak di hilir, seperti Rumah UMKM Perkebunan, pameran-pameran, sampai membawa mitra memasarkan produknya. Bahkan ada pupuk berbahan dasar sawit yang ditampilkan di ajang pameran beberapa waktu lalu,” jelasnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak berhenti pada pembibitan saja. Produksi pupuk dan produk turunan lainnya juga menjadi bagian dari ekosistem usaha yang diperkuat.
Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026 di Palembang
Sebagai bentuk konkret dukungan, BPDP menggelar Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026 di Palembang, Sumatera Selatan, pada 12–13 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Sawit Indonesia dan dihadiri sekitar 200 peserta.
Peserta terdiri dari petani, koperasi, pemerintah daerah, hingga pelaku industri sawit. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman, diskusi teknis, serta penguatan komitmen dalam mempercepat peremajaan sawit rakyat.
Kegiatan tersebut untuk pertama kalinya digelar di Sumatera Selatan. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu sentra sawit nasional dengan realisasi PSR tertinggi.
Pemilihan lokasi di Sumatera Selatan mencerminkan pentingnya wilayah tersebut dalam pengembangan sawit rakyat. Harapannya, praktik baik yang telah berjalan dapat direplikasi di daerah lain.
Selain komoditas kelapa sawit, tahun ini BPDP juga mendapat mandat untuk pengembangan kakao dan kelapa. Meski demikian, fokus utama tetap pada sawit sebagai komoditas strategis nasional.
Perluasan mandat ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor perkebunan secara menyeluruh. Namun, sawit tetap menjadi prioritas karena kontribusinya yang besar terhadap perekonomian nasional.
Kunjungan Lapangan dan Kisah Sukses PSR
Ketua panitia Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026, Qayuum Amri, menjelaskan bahwa peserta diajak melakukan kunjungan lapangan. Mereka mengunjungi praktik PSR di KUD Lempung Indah Sejahtera, Desa Lempuing Indah, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
“Kunjungan ini untuk melihat kisah sukses petani yang melakukan PSR sejak 2019. Dalam tiga tahun, produktivitas lahan bisa mencapai 19 ton per hektare per tahun, padahal sebelumnya kurang dari 3 ton,” ujarnya.
Kisah tersebut menjadi bukti nyata dampak positif penggunaan benih unggul dan tata kelola kebun yang baik. Perubahan signifikan produktivitas menunjukkan efektivitas program peremajaan sawit rakyat.
Menurut Qayuum, keberhasilan PSR di KUD Lempung Indah Sejahtera menegaskan pentingnya penggunaan benih unggul dan bersertifikat. Tata kelola kebun yang lebih profesional juga menjadi kunci peningkatan kesejahteraan petani.
Praktik ini diharapkan menginspirasi petani lain untuk mengikuti langkah serupa. Dengan dukungan UMKM sebagai penyedia bibit dan sarana produksi, implementasi PSR dapat berjalan lebih cepat dan merata.
Kolaborasi antara BPDP, UMKM, organisasi petani, dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam penguatan sektor sawit rakyat. Sinergi ini diharapkan menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan daya saing perkebunan nasional.
Melalui dorongan terhadap UMKM dalam penyediaan bibit unggul dan sarana produksi, PSR tidak hanya menjadi program peremajaan kebun. Program ini juga menjadi peluang ekonomi baru yang memperkuat struktur usaha kecil dan menengah di daerah.
Dengan langkah terstruktur dan dukungan regulasi yang tepat, partisipasi UMKM dalam PSR dapat mempercepat transformasi sektor sawit rakyat. Pada akhirnya, produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani pun terdongkrak secara signifikan.