Harga Minyak Dunia Naik Tipis Di Tengah Ketegangan Geopolitik Dan Harapan Pasar Energi Global

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:35:18 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Di Tengah Ketegangan Geopolitik Dan Harapan Pasar Energi Global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan pelaku pasar karena menunjukkan kenaikan terbatas di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian. Investor kini berada pada posisi menimbang antara sentimen positif dan kekhawatiran terhadap risiko pasokan energi.

Harga minyak dunia sedikit naik pada perdagangan Rabu waktu setempat, Kamis, 19 Februari 2026 WIB. Meskipun kenaikan tersebut terbatas karena investor menyeimbangkan optimisme sementara atas pembicaraan nuklir AS-Iran yang diperbarui dengan tidak adanya terobosan yang dapat meredakan kekhawatiran tentang risiko pasokan.

Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pasar yang tidak ingin bereaksi berlebihan terhadap perkembangan diplomatik yang masih bersifat awal. Para analis melihat bahwa pasar energi saat ini bergerak lebih berdasarkan ekspektasi dibandingkan realisasi konkret.

Mengutip data perdagangan, harga minyak mentah Brent berjangka sebagai patokan internasional untuk kontrak beli atau jual di masa depan, naik 0,4 persen menjadi USD67,66 per barel. Kenaikan ini menunjukkan adanya dukungan sentimen positif meskipun skalanya relatif kecil.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai harga patokan untuk pasar domestik AS, naik dengan jumlah yang sama persis, yaitu 0,4 persen, menjadi USD62,48. Pergerakan serupa pada kedua acuan utama tersebut menandakan pasar masih bergerak dalam rentang yang stabil.

Pasar Energi Dipengaruhi Dinamika Negosiasi Internasional

Perhatian pelaku pasar kini terfokus pada perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memasuki tahap pembicaraan lanjutan. Isu geopolitik tersebut dinilai memiliki dampak langsung terhadap stabilitas pasokan minyak global.

Komentar Wakil Presiden AS JD Vance menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam membaca arah kebijakan berikutnya. Ia mengatakan putaran kedua negosiasi dengan Iran telah produktif dalam beberapa hal, tetapi Teheran belum bersedia untuk terlibat pada "garis merah" tertentu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump.

"Kepentingan utama kami di sini adalah kami tidak ingin Iran mendapatkan senjata nuklir," kata Wakil Presiden AS JD Vance dalam sebuah wawancara dengan Fox News. Pernyataan ini menunjukkan bahwa aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama dalam proses diplomasi tersebut.

Pasar merespons pernyataan itu dengan sikap moderat karena belum ada kepastian apakah negosiasi akan menghasilkan kesepakatan nyata. Ketidakjelasan hasil akhir membuat investor memilih untuk tidak mengambil posisi ekstrem.

Kemajuan Pembicaraan Belum Menjamin Kesepakatan Final

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sedangkan tim AS dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff. Kedua pihak bertemu dalam pembahasan yang disebut menunjukkan perkembangan awal.

Araghchi mengatakan telah ada kemajuan di Jenewa, dan menggambarkan suasananya sebagai lebih konstruktif. Pernyataan tersebut memberikan sinyal positif bahwa dialog masih terbuka dan berlanjut.

"Telah diputuskan bahwa kedua belah pihak akan mengerjakan draf perjanjian potensial, dan setelah bertukar teks. Waktu putaran pembicaraan selanjutnya akan ditentukan," jelas dia.

Kesepahaman tersebut tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai, kata Araghchi. Hal ini menegaskan bahwa proses diplomasi masih berada dalam tahap yang panjang dan kompleks.

Investor memahami bahwa setiap perkembangan membutuhkan waktu sebelum benar-benar berdampak pada keseimbangan pasokan minyak dunia. Oleh karena itu, reaksi pasar cenderung terkendali dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan.

Selat Hormuz Jadi Faktor Kunci Penggerak Harga

Pembicaraan tersebut dipantau secara ketat oleh pasar energi karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis. Jalur air sempit ini dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.

Posisi geografis tersebut menjadikan kawasan itu sebagai salah satu titik paling sensitif dalam rantai distribusi energi dunia. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga yang besar di pasar internasional.

Beberapa faktor yang membuat wilayah ini sangat berpengaruh terhadap harga minyak antara lain:

Volume pengiriman minyak mentah global yang sangat besar.

Ketergantungan banyak negara terhadap jalur distribusi tersebut.

Risiko geopolitik yang dapat memicu gangguan pasokan secara tiba-tiba.

Sensitivitas pasar terhadap setiap perkembangan keamanan kawasan.

Ketika ada harapan diplomasi, harga minyak cenderung stabil karena risiko gangguan dianggap menurun. Namun ketika ketegangan meningkat, pasar biasanya merespons dengan kenaikan tajam akibat kekhawatiran pasokan.

Investor Mengutamakan Data dan Kepastian Sebelum Mengambil Keputusan

Kenaikan harga yang terbatas menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu kepastian lebih lanjut dari hasil negosiasi internasional. Mereka tidak hanya melihat pernyataan politik, tetapi juga menunggu implementasi nyata di lapangan.

Pendekatan berbasis data menjadi semakin penting dalam membaca peluang investasi di sektor energi yang sangat dipengaruhi faktor global. Tanpa analisis yang kuat, keputusan investasi berisiko dipengaruhi sentimen sesaat.

Beberapa pertimbangan utama investor dalam situasi seperti ini meliputi:

Stabilitas hubungan diplomatik antarnegara produsen minyak.

Proyeksi pasokan dan permintaan energi global.

Kondisi ekonomi makro yang memengaruhi konsumsi energi.

Kebijakan strategis yang dapat mengubah keseimbangan pasar.

Investasi terbaik dimulai dengan data yang lebih baik karena pergerakan pasar energi sering kali dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi dan politik. Mengikuti kata hati memang ada gunanya, tetapi tanpa dukungan analisis yang tepat dapat menimbulkan kesalahan membaca situasi.

Saat rasa antusias menyamar sebagai intuisi, akibatnya bisa salah langkah atau kebingungan dalam menganalisis arah pasar. Oleh sebab itu, investor modern semakin mengandalkan teknologi dan pemrosesan data untuk membantu memahami tren.

Pendekatan berbasis analisis dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih objektif dibandingkan sekadar spekulasi. Hal ini menjadi penting terutama di tengah dinamika global yang berubah cepat seperti saat ini.

Secara keseluruhan, kenaikan tipis harga minyak mencerminkan kondisi pasar yang masih menunggu kepastian arah geopolitik dan pasokan energi dunia. Selama belum ada terobosan besar, pergerakan harga diperkirakan tetap berada dalam rentang terbatas namun sensitif terhadap setiap perkembangan baru.

Terkini