Harga Batu Bara Melesat Tajam Didukung Kebijakan Energi Baru Amerika Serikat dan Perubahan Arah Pasar Global

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:34:59 WIB
Harga Batu Bara Melesat Tajam Didukung Kebijakan Energi Baru Amerika Serikat dan Perubahan Arah Pasar Global

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas energi kembali menjadi sorotan pasar internasional pada awal tahun 2026. Batu bara muncul sebagai salah satu komoditas yang menunjukkan penguatan signifikan di tengah perubahan kebijakan energi global.

Kenaikan harga ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu kombinasi faktor geopolitik, kebijakan pemerintah, serta dinamika pasokan dunia. Situasi tersebut membuat pelaku industri dan investor kembali mencermati prospek batu bara dalam peta energi jangka menengah.

Reli Harga Batu Bara Berlanjut Lima Hari Berturut-turut

Harga batu bara masih makin mengganas ditopang kabar baik dari Amerika Serikat (AS). Tren penguatan terjadi seiring meningkatnya optimisme terhadap keberlanjutan penggunaan batu bara di negara tersebut.

Pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, harga batu bara ditutup di posisi US$122,15 atau menguat 0,91%. Penguatan ini memperpanjang tren positif harga batu bara dengan menguat 5,1% selama lima hari beruntun.

Kenaikan harga komoditas energi ini juga berdampak pada pergerakan instrumen lain di pasar global. Penguatan juga membawa emas ke rekor tertinggi sejak 22 Januari 2025 atau setahun lebih.

Harga batu bara melonjak ditopang kabar baik dari AS. Sentimen positif dari kebijakan energi Negeri Paman Sam menjadi pemicu utama lonjakan tersebut.

Kebijakan Energi Pemerintahan Donald Trump Jadi Katalis

Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana melonggarkan pembatasan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pekan ini, dengan memungkinkan mereka melepaskan lebih banyak polutan berbahaya termasuk merkuri. Kebijakan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa batu bara masih akan memainkan peran penting dalam bauran energi AS.

Pejabat senior Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) diperkirakan akan mengumumkan langkah tersebut dalam kunjungan ke Louisville, Kentucky, pada Jumat. Rencana ini langsung menarik perhatian pelaku pasar energi global.

EPA sebelumnya telah memberikan pengecualian kepada 47 perusahaan dari regulasi pembatasan merkuri dan racun udara untuk pembangkit listrik batu bara selama dua tahun. Kebijakan itu menjadi dasar bagi pelonggaran aturan yang lebih luas.

Pada Juni lalu, lembaga tersebut juga mengusulkan pencabutan aturan yang diberlakukan pada masa Presiden Joe Biden untuk membatasi emisi karbon dioksida, merkuri, dan polutan udara lainnya dari pembangkit listrik. Usulan ini memperlihatkan adanya perubahan arah kebijakan energi yang cukup tajam.

Usulan tersebut saat ini sedang dalam peninjauan antar lembaga. Aturan final akan dipublikasikan setelah proses peninjauan selesai dan ditandatangani oleh Administrator EPA, Lee Zeldin, demikian pernyataan EPA pada Rabu.

Dalam pelonggaran batas merkuri yakni zat neurotoksin kuat yang dapat mengganggu perkembangan otak bayi, EPA berargumen bahwa kebijakan ini akan mengurangi biaya yang tidak semestinya bagi perusahaan utilitas yang memiliki dan mengoperasikan pembangkit batu bara di seluruh negeri. Pendekatan ini menitikberatkan pada efisiensi ekonomi sektor energi.

EPA memperkirakan perubahan ini dapat menghemat biaya perusahaan hingga US$670 juta antara 2028 hingga 2037. Proyeksi penghematan tersebut memperkuat keyakinan industri terhadap keberlanjutan operasional pembangkit batu bara.

Presiden Donald Trump telah berjanji untuk mempercepat pembangunan infrastruktur energi guna memenuhi lonjakan permintaan listrik dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Kebutuhan listrik yang meningkat pesat membuat batu bara kembali dilihat sebagai sumber energi yang stabil.

Ia bahkan telah mendeklarasikan "darurat energi" untuk membenarkan langkah mempertahankan operasional pembangkit batu bara tua yang sebelumnya direncanakan ditutup, sekaligus membebaskan fasilitas tersebut dari sejumlah regulasi udara utama. Langkah ini mempertegas prioritas pemerintah AS terhadap ketahanan energi domestik.

Pemerintah AS juga telah menghapus insentif pajak untuk proyek energi angin dan surya, memperlambat penerbitan izin energi terbarukan di lahan federal maupun lahan milik swasta dan negara bagian. Kebijakan tersebut semakin menggeser perhatian pasar kembali ke energi fosil.

Kebijakan EPA berpotensi menguntungkan perusahaan batu bara seperti Peabody (BTU) melalui pengurangan beban regulasi. Kondisi ini membuka ruang ekspansi produksi dan meningkatkan margin industri.

Peabody Energy Corp adalah produsen batu bara metalurgi dan termal, dengan segmen seaborne thermal hingga seaborne metallurgical. Perusahaan ini menjadi salah satu pemain utama yang diuntungkan dari perubahan lanskap regulasi.

Gangguan Pasokan Afrika Selatan Turut Mengerek Harga

Lonjakan batu bara juga ditopang oleh kabar dari Afrika Selatan. Harga batu bara termal Afrika Selatan di pelabuhan India naik tajam secara mingguan.

Kenaikan ini terjadi di tengah kegiatan pemeliharaan tambang dan gangguan operasional di Afrika Selatan. Situasi tersebut memperketat pasokan dan memperkuat sentimen harga di pelabuhan tujuan.

Terbatasnya pasokan dari salah satu eksportir utama dunia menciptakan efek domino terhadap rantai pasok global. Importir harus bersaing mendapatkan volume yang lebih sedikit di pasar internasional.

Ketatnya suplai membuat harga batu bara semakin sensitif terhadap setiap gangguan produksi. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa pasar masih sangat bergantung pada stabilitas negara pemasok utama.

Pergeseran Strategis India ke Batu Bara Kokas Amerika Serikat

Strategi impor batu bara metalurgi India kini bergeser sebagai respons terukur terhadap kerentanan rantai pasok karena gangguan pasar global. Ketergantungan pada sumber geografis yang terkonsentrasi menciptakan volatilitas harga dan risiko keamanan pasokan.

Menteri Perdagangan dan Industri India, Piyush Goyal, dalam acara industri di Mumbai Februari 2026, menekankan perlunya mengurangi ketergantungan pada sumber geografis terbatas. Ia menyoroti minat India terhadap kualitas batu bara kokas AS yang sesuai dengan kebutuhan produksi baja nasional yang terus berkembang.

Perubahan arah impor ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi dan bahan baku industri. India berupaya memastikan pasokan tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Kiriman batu bara dari AS naik dari 7,3% menjadi lebih dari 15% sementara dari Australia turun dari 69% menjadi sekitar 43%. Rusia muncul sebagai kontributor penting dengan volume 7,75 juta ton.

India juga memiliki sumber alternatif seperti Kanada, Kolombia, dan Mongolia. Diversifikasi tersebut bertujuan mengurangi risiko gangguan pasokan dari satu kawasan tertentu.

Faktor-faktor Utama Pendorong Kenaikan Harga Batu Bara Global

Beberapa faktor utama yang mendorong reli harga batu bara saat ini antara lain:

Pelonggaran regulasi pembangkit batu bara di Amerika Serikat.

Proyeksi peningkatan kebutuhan listrik dari sektor AI dan pusat data.

Gangguan produksi dan pemeliharaan tambang di Afrika Selatan.

Diversifikasi impor batu bara oleh India sebagai strategi ketahanan pasok.

Berkurangnya dukungan terhadap energi terbarukan di AS.

Kombinasi faktor kebijakan dan gangguan pasokan membuat pasar batu bara kembali menemukan momentum penguatan. Situasi ini memperlihatkan bahwa transisi energi global masih berlangsung tidak merata.

Di satu sisi banyak negara mendorong energi bersih, namun di sisi lain kebutuhan energi yang besar membuat batu bara tetap relevan. Realitas tersebut menciptakan tarik-menarik antara agenda dekarbonisasi dan kebutuhan ekonomi praktis.

Kenaikan harga batu bara saat ini juga mencerminkan bahwa komoditas energi fosil masih menjadi penopang utama industri berat dunia. Selama kebutuhan listrik dan baja terus meningkat, permintaan batu bara diperkirakan tetap kuat.

Perubahan arah kebijakan di negara besar seperti Amerika Serikat dapat langsung memengaruhi keseimbangan pasar global. Hal ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara keputusan politik dan dinamika harga energi.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, pelaku pasar kini menilai batu bara belum akan kehilangan peran strategisnya dalam waktu dekat. Komoditas ini justru kembali mendapatkan panggung di tengah ketidakpastian transisi energi dunia.

Terkini