JAKARTA - Pergerakan harga energi global kembali menunjukkan dinamika yang tidak biasa pada awal tahun 2026. Di tengah pelemahan beberapa komoditas energi lain, batu bara justru melaju naik dan mencatat performa yang mencolok.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku industri karena terjadi ketika tren transisi energi terus digaungkan di berbagai negara. Realitas pasar menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap batu bara belum sepenuhnya tergantikan.
Pada perdagangan Selasa, 17 Februari 2026, harga batu bara ditutup di level US$121,05. Angka tersebut menguat 0,79 persen dan memperpanjang tren kenaikan selama empat hari berturut-turut.
Dalam periode empat hari itu, harga tercatat telah melonjak sekitar 4,13 persen. Kenaikan beruntun ini mendorong harga menembus rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Kenaikan Harga di Tengah Tekanan Energi Global
Lonjakan harga batu bara terbilang kontras dibandingkan kondisi pasar energi secara keseluruhan. Saat harga minyak justru mengalami tekanan, batu bara menunjukkan ketahanan yang tidak terduga.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa struktur permintaan energi dunia masih sangat kompleks. Tidak semua sumber energi bergerak dalam arah yang sama meskipun berada dalam satu sektor.
Kenaikan harga juga membawa batu bara mencapai level tertinggi sejak 22 Januari 2025. Artinya, dalam lebih dari setahun terakhir belum pernah terjadi penguatan setajam ini.
Situasi tersebut menegaskan bahwa batu bara masih memiliki peran strategis dalam sistem energi global. Permintaan tetap muncul terutama dari sektor pembangkit listrik dan industri berat.
Penurunan Stok di Pelabuhan Utara China Jadi Pemicu
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah turunnya persediaan batu bara di pelabuhan utara China. Penurunan terjadi karena arus keluar barang lebih besar dibanding pasokan yang masuk melalui jalur kereta.
Ketidakseimbangan logistik ini menyebabkan stok di pelabuhan terus terkikis secara bertahap. Kondisi tersebut memperketat pasokan di pasar fisik dan memicu sentimen kenaikan harga.
Libur Tahun Baru Imlek 2026 turut memberikan pengaruh signifikan terhadap distribusi. Masa libur yang berlangsung selama sembilan hari dari 15 Februari hingga 23 Februari membuat banyak aktivitas logistik melambat.
Banyak pelaku pasar memilih menghentikan atau menunda pengiriman sebelum libur panjang dimulai. Dampaknya, pasokan yang masuk tidak mampu mengejar laju kebutuhan yang tetap berjalan.
Pelabuhan Qinhuangdao sebagai salah satu pusat transhipment batu bara terbesar di wilayah utara China mencatat penurunan stok yang cukup jelas. Permintaan dari pembeli tetap kuat sementara pengiriman melalui rel mengalami keterbatasan.
Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi batu bara masih sangat aktif, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik. Penggunaan yang stabil membuat cadangan pelabuhan terkuras lebih cepat daripada proses pengisian ulang.
Dalam beberapa minggu sebelumnya, kecenderungan serupa sebenarnya sudah terlihat. Stok di pelabuhan mengalami fluktuasi menurun akibat arus keluar yang konsisten lebih besar.
Penurunan itu terjadi menjelang musim dingin dan perayaan Imlek yang biasanya meningkatkan konsumsi energi. Faktor musiman tersebut memperkuat tekanan terhadap ketersediaan pasokan.
Batu Bara Dinilai Lebih Tahan Terhadap Perubahan Energi
Selain persoalan distribusi, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh persepsi bahwa batu bara merupakan bahan bakar yang relatif tahan banting. Banyak negara masih mengandalkannya sebagai sumber energi cadangan yang stabil.
Di tengah ekspansi energi terbarukan, jam operasi pembangkit berbasis batu bara dan gas memang cenderung berkurang. Namun pengurangan itu justru menimbulkan tantangan baru dalam menjaga keseimbangan pasokan energi.
Berkurangnya jam operasi dapat melemahkan basis pendapatan yang menopang rantai pasok bahan bakar fosil. Sistem energi akhirnya tetap membutuhkan keberadaan sumber daya konvensional untuk menjaga keandalan.
Pembangkit listrik tenaga batu bara, terutama yang berada di dekat lokasi tambang, memiliki sejumlah keunggulan operasional. Fasilitas tersebut mampu menyimpan bahan bakar dalam jumlah besar dengan biaya logistik lebih rendah.
Keunggulan lain terlihat pada keandalan pasokan selama musim dingin. Infrastruktur yang lebih sederhana membuat operasional tetap berjalan ketika sumber energi lain mengalami gangguan.
Dalam kondisi cuaca ekstrem, batu bara masih dianggap sebagai sumber energi yang dapat diandalkan. Hal ini menjadi alasan mengapa permintaan tetap bertahan meskipun tren dekarbonisasi terus berkembang.
Peran Musim Dingin dan Stabilitas Pasokan Energi
Dunia masih membutuhkan pembangkit berbasis fosil terutama saat musim dingin ketika durasi siang hari lebih pendek. Produksi energi dari tenaga angin juga cenderung melemah dalam kondisi tersebut.
Situasi itu membuat sistem energi global tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sumber terbarukan. Batu bara dan bahan bakar fosil lainnya tetap menjadi penopang ketika produksi energi alternatif menurun.
Meskipun jumlah penggunaannya diproyeksikan akan berkurang, perannya belum dapat dihapuskan sepenuhnya. Batu bara masih menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas jaringan listrik.
Pembangkit batu bara juga dinilai memiliki performa operasional lebih konsisten dibandingkan pembangkit berbasis gas saat musim dingin. Selain itu, harga bahan bakarnya relatif lebih stabil dalam jangka waktu tertentu.
Stabilitas tersebut memberikan kepastian biaya bagi sektor industri dan utilitas. Faktor inilah yang membuat batu bara tetap menarik di tengah ketidakpastian energi global.
Tantangan Jangka Panjang di Era Transisi Energi
Dalam jangka panjang, bahan bakar fosil diperkirakan tidak lagi menjadi sumber utama untuk pembangkit beban dasar. Transformasi menuju energi bersih tetap berlangsung dan akan mengubah struktur pasar secara perlahan.
Infrastruktur besar yang selama ini dibangun untuk bahan bakar fosil berpotensi kehilangan relevansi ekonomi. Namun proses peralihan tidak bisa terjadi secara instan karena sistem energi membutuhkan masa adaptasi.
Energi fosil kemungkinan akan tetap digunakan sebagai pelengkap bagi energi terbarukan. Perannya berubah dari sumber utama menjadi penyeimbang ketika produksi energi bersih tidak mencukupi.
Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa harga batu bara masih mampu menguat meskipun dunia bergerak menuju dekarbonisasi. Pasar sedang berada dalam fase transisi yang menciptakan tarik menarik antara kebutuhan lama dan teknologi baru.
Kenaikan harga saat ini mencerminkan bahwa permintaan belum sepenuhnya surut. Selama sistem energi global masih membutuhkan stabilitas, batu bara akan tetap memiliki ruang dalam bauran energi dunia.
Pergerakan harga batu bara yang terus menguat menjadi pengingat bahwa transformasi energi adalah proses panjang yang penuh kompromi. Dunia belum sepenuhnya meninggalkan energi konvensional, melainkan sedang mencari keseimbangan baru antara keberlanjutan dan keandalan pasokan.