Lion Air Group Resmi Buka Rute Biak–Sorong Mulai 9 Maret 2026, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 11:09:09 WIB
Lion Air Group Resmi Buka Rute Biak–Sorong Mulai 9 Maret 2026, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Papua

JAKARTA - Konektivitas udara di Papua kembali diperkuat dengan hadirnya rute penerbangan baru yang menghubungkan dua wilayah strategis. Langkah ini dinilai mampu memperluas akses masyarakat sekaligus mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.

Maskapai Lion Air Group resmi membuka rute penerbangan baru Biak–Sorong pulang pergi yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 9 Maret 2026. Rute ini diharapkan menjadi jalur penting yang menghubungkan pusat aktivitas masyarakat di wilayah Papua dan Papua Barat Daya.

Bupati Biak Numfor, Markus Mansnembra sebelumnya mengatakan pembukaan rute Biak–Sorong merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjawab kebutuhan akses transportasi udara. Menurutnya, keterbatasan konektivitas selama ini menjadi salah satu kendala utama bagi masyarakat dan sektor pariwisata.

Langkah pembukaan rute tersebut dilakukan karena kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat. Selain itu, sektor pariwisata juga membutuhkan akses langsung agar potensi daerah dapat berkembang secara maksimal.

“Konektivitas udara menjadi kunci penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Bupati Markus Mansnembra saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp, Kamis, 5 Februari 2026 sore. Pernyataan ini menegaskan bahwa transportasi udara memiliki peran strategis dalam pembangunan wilayah.

Bupati menjelaskan bahwa Sorong dikenal sebagai pintu masuk utama wisatawan menuju Raja Ampat. Dengan posisi tersebut, Sorong menjadi simpul penting dalam jaringan pariwisata kawasan timur Indonesia.

Dengan adanya penerbangan langsung ke Biak, pemerintah daerah berharap arus kunjungan wisatawan dapat diperluas. Wisatawan tidak hanya terfokus ke Raja Ampat, tetapi juga dapat mengunjungi objek wisata yang ada di Biak.

Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan pemerataan kunjungan wisata. Dengan demikian, dampak ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat setempat.

Lebih lanjut, bupati menambahkan bahwa berdasarkan hasil survei dan kajian pengembangan pariwisata yang dilakukan oleh Bank Indonesia serta sejumlah lembaga terpercaya, sekitar 76 persen wisatawan berkunjung ke Raja Ampat menyatakan minat untuk melanjutkan perjalanan ke Biak. Namun, keterbatasan penerbangan langsung selama ini menjadi hambatan utama bagi realisasi minat tersebut.

Data tersebut menunjukkan potensi besar yang belum tergarap secara optimal. Pembukaan rute baru ini diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut secara konkret.

“Karena itu, pemerintah daerah secara aktif mendorong dan mendukung pembukaan rute Biak–Sorong pulang pergi agar potensi pariwisata dan ekonomi daerah dapat berkembang secara optimal,” ujar Bupati Markus Mansnembra. Pernyataan ini menegaskan keseriusan pemerintah daerah dalam memperkuat konektivitas wilayah.

Selain pariwisata, pembukaan rute ini juga diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat. Akses transportasi yang lebih cepat diyakini dapat meningkatkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Biak Numfor.

Rute ini juga diproyeksikan mempercepat distribusi barang dan jasa. Dengan konektivitas yang lebih baik, biaya logistik diharapkan dapat ditekan sehingga mendukung pertumbuhan usaha lokal.

Selain itu, rute baru ini dinilai mampu membuka peluang investasi baru di Kabupaten Biak Numfor. Investor akan lebih mudah menjangkau wilayah tersebut dengan tersedianya akses penerbangan langsung.

Komitmen Pemerintah Daerah Dorong Akses dan Pariwisata

Pembukaan rute penerbangan Biak–Sorong menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat konektivitas antarwilayah. Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan daerah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Bupati Biak Numfor menilai bahwa transportasi udara merupakan infrastruktur vital bagi daerah kepulauan seperti Papua. Tanpa akses udara yang memadai, mobilitas masyarakat dan distribusi logistik akan mengalami keterbatasan.

Kondisi geografis yang terdiri dari pulau-pulau membuat transportasi laut memerlukan waktu tempuh yang lebih lama. Oleh karena itu, kehadiran penerbangan langsung menjadi solusi yang lebih efisien dan efektif.

Sorong sebagai pintu gerbang wisata menuju Raja Ampat memiliki posisi strategis dalam pengembangan pariwisata kawasan timur Indonesia. Dengan tersambungnya Biak ke Sorong, peluang kolaborasi destinasi wisata semakin terbuka lebar.

Pemerintah daerah berharap wisatawan yang datang ke Raja Ampat dapat melanjutkan perjalanan ke Biak. Hal ini akan menciptakan pola kunjungan yang lebih merata dan berkelanjutan.

Berbagai objek wisata di Biak dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Potensi tersebut mencakup wisata bahari, sejarah, dan budaya yang khas Papua.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, sektor ekonomi lokal diharapkan ikut terdongkrak. Usaha kecil dan menengah di bidang kuliner, penginapan, dan jasa wisata berpeluang mendapatkan manfaat langsung.

Selain sektor pariwisata, pembukaan rute ini juga berdampak pada sektor perdagangan dan jasa. Mobilitas barang yang lebih cepat akan memperkuat jaringan distribusi antarwilayah.

Pemerintah daerah memandang konektivitas sebagai fondasi penting dalam pembangunan daerah. Oleh karena itu, dukungan terhadap pembukaan rute ini dilakukan secara aktif dan berkelanjutan.

Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan jumlah penerbangan. Pemerintah daerah juga berharap kualitas layanan transportasi udara dapat terus ditingkatkan.

Kolaborasi antara pemerintah daerah dan maskapai penerbangan menjadi kunci keberhasilan program ini. Sinergi tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem transportasi yang efisien dan andal.

Rute Baru Lion Air dan Spesifikasi Penerbangan

Sementara itu, Manajer Lion Air, Masri, menyampaikan bahwa pembukaan rute Biak–Sorong merupakan tindak lanjut dari dukungan pemerintah daerah. Dukungan tersebut kemudian direspons oleh Lion Air Group melalui pembukaan rute penerbangan baru ini.

Penerbangan akan mulai beroperasi pada 9 Maret 2026 dengan frekuensi dua kali dalam sepekan. Jadwal penerbangan ditetapkan setiap hari Senin dan Jumat untuk melayani kebutuhan masyarakat.

“Pesawat yang digunakan adalah Wings Air tipe ATR 72-500 dengan kapasitas 72 penumpang dan waktu tempuh penerbangan sekitar 1 jam 40 menit,” kata Masri. Pesawat ini dikenal cocok untuk rute jarak pendek hingga menengah dengan efisiensi operasional yang baik.

Penggunaan pesawat ATR 72-500 memungkinkan maskapai memberikan layanan yang optimal di bandara-bandara regional. Pesawat ini juga dirancang untuk mendarat di landasan pacu dengan panjang terbatas.

Dengan kapasitas 72 penumpang, penerbangan ini diharapkan mampu melayani kebutuhan masyarakat secara efektif. Selain itu, kenyamanan penumpang tetap menjadi prioritas dalam setiap penerbangan.

Masri menambahkan bahwa tiket penerbangan dapat dibeli melalui agen tiket resmi. Tiket juga tersedia melalui aplikasi penjualan tiket daring yang telah bekerja sama dengan Lion Air Group.

Kemudahan akses pembelian tiket diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk memanfaatkan rute baru ini. Dengan sistem daring, calon penumpang dapat merencanakan perjalanan dengan lebih praktis.

Masri juga menambahkan bahwa rute Biak–Sorong telah terkoneksi dengan sejumlah tujuan lanjutan melalui Sorong. Destinasi lanjutan tersebut meliputi Jayapura, Makassar, Manado, dan Ambon.

Konektivitas lanjutan ini memberikan kemudahan bagi penumpang untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Sorong sebagai hub transportasi udara di kawasan timur.

Dengan adanya jaringan penerbangan yang lebih luas, mobilitas masyarakat antarwilayah dapat meningkat secara signifikan. Hal ini berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertukaran sosial budaya.

Pihak Lion Air berharap dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat agar penerbangan ini dapat berjalan secara berkelanjutan. Keberlanjutan rute sangat bergantung pada tingkat pemanfaatan oleh penumpang.

Maskapai juga berkomitmen menjaga kualitas layanan dan ketepatan waktu penerbangan. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan publik terhadap layanan transportasi udara.

Posisi Strategis Biak dan Bandar Udara Frans Kaisiepo

Kabupaten Biak Numfor merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua. Wilayah ini memiliki posisi strategis dalam jalur transportasi udara di kawasan timur Indonesia.

Untuk bisa sampai ke Kabupaten Biak Numfor, pilihan utama adalah menggunakan pesawat terbang. Akses udara ini dilayani melalui Bandar Udara Frans Kaisiepo yang terhubung dengan sejumlah kota besar.

Bandar udara tersebut memiliki koneksi penerbangan dari Jayapura, Makassar, Jakarta, dan Surabaya. Dengan jaringan tersebut, Biak menjadi salah satu simpul penting transportasi udara di Papua.

Pilihan lainnya adalah menggunakan jalur laut dengan kapal PELNI atau feri. Jalur laut ini memakan waktu lebih lama, namun dinilai lebih ekonomis bagi sebagian masyarakat.

Rute laut menuju Biak dapat ditempuh dari Jayapura, Nabire, atau bahkan langsung dari Jakarta dan Surabaya. Meski lebih lama, jalur ini tetap menjadi alternatif penting bagi mobilitas masyarakat.

Bandar Udara Frans Kaisiepo Biak merupakan salah satu bandara tertua di Indonesia. Bandara ini memiliki runway sepanjang 3.571 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar dan kargo besar.

Pengelolaan bandara ini berada di bawah PT Angkasa Pura I. Dengan infrastruktur yang memadai, bandara ini menjadi salah satu pintu gerbang utama menuju Papua.

Bandara Frans Kaisiepo juga berperan sebagai pusat penerbangan domestik di kawasan tersebut. Rute domestik yang dilayani mencakup Jayapura, Makassar, Jakarta, dan Surabaya.

Selain penerbangan domestik, bandara ini kembali ditetapkan sebagai Bandara Internasional oleh Kementerian Perhubungan RI pada tahun 2025. Status ini membuka peluang pengembangan rute internasional di masa mendatang.

Dengan infrastruktur dan status internasional tersebut, Biak memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai hub penerbangan. Pembukaan rute Biak–Sorong menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi strategis tersebut.

Konektivitas yang semakin luas diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan perdagangan. Dampak positifnya diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.

Pembukaan rute ini juga diharapkan mempercepat integrasi ekonomi kawasan timur Indonesia. Dengan akses transportasi yang lebih baik, arus barang, jasa, dan manusia dapat berjalan lebih efisien.

Pemerintah daerah dan maskapai berharap masyarakat dapat memanfaatkan rute baru ini secara optimal. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan layanan penerbangan.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, maskapai, dan masyarakat, rute Biak–Sorong diharapkan mampu menjadi penggerak baru pembangunan wilayah. Keberhasilan rute ini juga dapat menjadi model pengembangan konektivitas di daerah lainnya.

Ke depan, pembukaan rute ini diharapkan dapat membuka peluang kerja baru di sektor transportasi dan pariwisata. Dampak lanjutannya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Biak Numfor dan sekitarnya.

Dengan tersedianya akses udara yang lebih cepat dan efisien, wilayah Biak Numfor semakin terintegrasi dalam jaringan transportasi nasional. Hal ini memperkuat peran Biak sebagai salah satu gerbang penting Papua.

Terkini