IHSG Menguat di Tengah Tekanan Asing, Buyback Emiten dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Kamis, 05 Februari 2026 | 13:56:25 WIB
IHSG Menguat di Tengah Tekanan Asing, Buyback Emiten dan Rekomendasi Saham Hari Ini

JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik kembali mencuri perhatian investor setelah Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di tengah tekanan global dan arus dana asing yang masih keluar, pasar justru berhasil mencatatkan kinerja positif.

Kondisi ini mencerminkan adanya kepercayaan investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks. Selain itu, sejumlah kebijakan pasar dan aksi korporasi emiten turut memberikan warna tersendiri dalam dinamika perdagangan.

Perdagangan saham pada pertengahan pekan menjadi sorotan karena mencerminkan arah pasar dalam jangka pendek. Investor memanfaatkan momentum ini untuk melakukan penyesuaian portofolio sesuai dengan kondisi terbaru.

Optimisme tetap muncul meskipun tekanan dari investor asing belum sepenuhnya mereda. Situasi ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian global.

IHSG Menguat Meski Tekanan Asing Masih Terasa

Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Rabu, 4 Februari 2026 di zona hijau dengan kenaikan 0,30% ke level 8.146,72. Penguatan indeks ini menunjukkan adanya minat beli yang cukup kuat meskipun sentimen eksternal belum sepenuhnya kondusif.

Kinerja positif IHSG ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar yang mengalami kenaikan signifikan. Amman Mineral Internasional (AMMN) melesat 8,73%, Bank Central Asia (BBCA) naik 1,96%, serta Bank Mandiri (BMRI) menguat 3,52%.

Penguatan saham-saham unggulan ini menjadi faktor utama yang menjaga indeks tetap berada di zona positif. Investor terlihat masih memercayai fundamental perusahaan-perusahaan besar sebagai pilihan investasi yang relatif stabil.

Di sisi lain, tekanan datang dari beberapa saham yang mengalami koreksi cukup dalam. Telkom Indonesia (TLKM) terkoreksi 3,48%, sementara FILM dan MORA masing-masing turun 15%.

Penurunan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa tidak semua sektor menikmati penguatan yang sama. Hal ini mencerminkan adanya selektivitas investor dalam memilih saham di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Aktivitas investor asing juga masih mencatatkan arus keluar yang cukup besar. Net sell asing tercatat sebesar Rp1,42 triliun di pasar reguler dan Rp1,44 triliun secara keseluruhan.

Arus keluar dana asing ini menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan indeks. Namun demikian, minat beli dari investor domestik mampu menjaga IHSG tetap bergerak positif.

Secara sektoral, lima dari sebelas sektor berakhir menguat pada perdagangan tersebut. Sektor consumer cyclicals mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,02%, sementara basic industry menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,32%.

Perbedaan kinerja antar sektor ini menunjukkan adanya rotasi dana ke sektor-sektor tertentu yang dinilai memiliki prospek lebih baik. Investor cenderung memanfaatkan peluang di sektor yang memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.

Kondisi pasar ini memberikan sinyal bahwa pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh faktor global, tetapi juga oleh dinamika internal pasar. Hal tersebut membuat investor perlu lebih cermat dalam membaca peluang dan risiko yang ada.

Kebijakan Free Float BEI dan Potensi Dampaknya

Dari sisi kebijakan pasar, Bursa Efek Indonesia bersama regulator pasar modal tengah menyiapkan implementasi ketentuan free float minimum 15%. Ketentuan ini akan diberlakukan secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun sejak aturan diterbitkan.

Sebanyak 49 emiten berkapitalisasi besar ditetapkan sebagai proyek percontohan. Kelompok emiten ini mencerminkan sekitar 90% kapitalisasi pasar dari sekitar 267 emiten yang belum memenuhi ketentuan free float minimum.

Langkah ini diambil untuk meningkatkan kualitas pasar dan memperkuat likuiditas saham di bursa. Dengan porsi kepemilikan publik yang lebih besar, diharapkan perdagangan saham menjadi lebih aktif dan transparan.

BEI juga menyiapkan pendampingan bagi emiten yang terdampak kebijakan ini. Selain itu, opsi aksi korporasi turut disiapkan untuk membantu perusahaan menyesuaikan diri dengan ketentuan baru tersebut.

Namun, kebijakan ini juga berpotensi memunculkan risiko supply overhang di pasar. Peningkatan jumlah saham yang dilepas ke publik dapat menekan harga saham dalam jangka pendek.

Selain itu, volatilitas harga saham berpotensi meningkat pada emiten yang perlu menambah porsi kepemilikan publik. Investor perlu mencermati potensi pergerakan harga yang lebih fluktuatif akibat penyesuaian struktur kepemilikan tersebut.

Meski demikian, kebijakan free float minimum ini dinilai dapat memperbaiki kualitas pasar dalam jangka panjang. Dengan likuiditas yang lebih baik, pasar saham diharapkan menjadi lebih menarik bagi investor domestik maupun asing.

Langkah regulator ini juga sejalan dengan upaya meningkatkan standar pencatatan dan kualitas IPO di pasar modal Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Bagi investor, perubahan kebijakan ini menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam strategi investasi. Pemahaman terhadap dampak kebijakan dapat membantu investor mengambil keputusan yang lebih tepat.

Aksi Buyback Emiten dan Respons Pasar

Sementara itu, Chandra Asri Pacific (TPIA) mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp2 triliun. Aksi buyback ini menjadi perhatian pasar karena dilakukan di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.

Mengacu pada POJK No. 13/2023 serta Surat OJK S-102/D.04/2025, aksi buyback tersebut dapat dilakukan tanpa persetujuan RUPS. Perseroan memperkirakan jumlah saham yang dibeli kembali mencapai sekitar 250 juta lembar atau setara 0,29% dari modal ditempatkan dan disetor.

Sumber dana untuk buyback ini berasal dari kas internal perusahaan. Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental dan prospek jangka panjang perseroan.

TPIA menunjuk Henan Putihrai Sekuritas sebagai pelaksana aksi buyback tersebut. Proses ini diharapkan dapat berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang berlaku di pasar modal.

Selain TPIA, sejumlah emiten yang terafiliasi dengan konglomerasi Prajogo Pangestu juga menggelar aksi serupa. Emiten tersebut antara lain BREN dengan nilai maksimal Rp2 triliun, BRPT Rp1 triliun, serta CUAN Rp750 miliar.

Seluruh periode buyback dijadwalkan berlangsung mulai 4 Februari hingga 3 Mei 2026. Rentang waktu ini memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk mengeksekusi pembelian saham sesuai dengan kondisi pasar.

Aksi buyback umumnya dipandang positif oleh investor karena dapat meningkatkan kepercayaan pasar. Selain itu, buyback juga berpotensi memberikan dukungan terhadap harga saham di tengah volatilitas pasar.

Langkah ini sering dimaknai sebagai sinyal bahwa manajemen menilai harga saham perusahaan saat ini berada di bawah nilai wajarnya. Hal tersebut dapat mendorong minat beli investor dan memperkuat sentimen positif terhadap saham emiten terkait.

Namun, investor tetap perlu mencermati dampak jangka panjang dari aksi buyback ini terhadap kinerja keuangan perusahaan. Evaluasi terhadap struktur modal dan arus kas tetap menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi.

Rekomendasi Saham Hari Ini untuk Investor

Di tengah dinamika pasar yang masih bergerak fluktuatif, sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati investor. Rekomendasi ini disusun berdasarkan analisis teknikal dan pergerakan harga terkini di pasar.

Untuk saham UNTR, rekomendasi berada pada level buy 27.600–27.800 dengan target profit di kisaran 28.425–30.000. Stop loss disarankan pada level 25.700 untuk membatasi risiko.

Saham UNVR juga masuk dalam daftar rekomendasi dengan level buy 2.020–2.040. Target profit berada di kisaran 2.100–2.170 dengan stop loss di level 1.900.

Saham JSMR direkomendasikan buy pada kisaran 3.750–3.780. Target profit berada di level 3.830–3.950 dengan stop loss di 3.520.

Untuk saham DEWA, rekomendasi buy berada pada level 494–500. Target profit ditetapkan di kisaran 520–545 dengan stop loss di level 476.

Sementara itu, saham BRMS direkomendasikan buy pada kisaran 975–990. Target profit berada di level 1.020–1.070 dengan stop loss di 930.

Rekomendasi saham ini dapat menjadi referensi bagi investor dalam menyusun strategi transaksi jangka pendek. Namun, investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.

Pasar saham yang dinamis menuntut investor untuk selalu disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Penetapan stop loss menjadi langkah penting untuk melindungi modal dari potensi kerugian yang lebih besar.

Selain itu, investor juga disarankan untuk tidak hanya bergantung pada satu rekomendasi semata. Diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci untuk menjaga stabilitas investasi di tengah volatilitas pasar.

Disclaimer perlu diperhatikan bahwa seluruh analisis dan rekomendasi saham bersifat informatif. Rekomendasi tersebut bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Dengan pertimbangan yang matang, investor diharapkan dapat mengelola portofolio secara lebih bijak dan terukur.

Kondisi pasar yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dapat menjadi peluang bagi investor untuk kembali aktif di bursa. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat tekanan eksternal dan arus dana asing yang belum sepenuhnya stabil.

Melalui pemahaman yang baik terhadap pergerakan IHSG, kebijakan pasar, aksi korporasi emiten, serta rekomendasi saham, investor dapat menyusun strategi yang lebih efektif. Dengan pendekatan yang disiplin dan terencana, potensi keuntungan dapat dioptimalkan di tengah dinamika pasar saham Indonesia.

Terkini