Harga TBS Sawit Plasma Riau Minggu Ini Naik Signifikan, Petani Beserta Industri Diharapkan Lebih Sejahtera

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:10:30 WIB
Harga TBS Sawit Plasma Riau Minggu Ini Naik Signifikan, Petani Beserta Industri Diharapkan Lebih Sejahtera

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas sawit kembali menunjukkan arah positif pada awal Februari 2026 setelah sempat bergerak stagnan pada pekan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi angin segar bagi petani plasma di Riau yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas harga Tandan Buah Segar atau TBS.

Harga TBS sawit plasma di Riau periode 4–10 Februari 2026 tercatat mengalami lonjakan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan adanya pemulihan permintaan pasar terhadap produk turunan kelapa sawit di tingkat nasional maupun global.

Kenaikan harga tersebut juga menjadi sinyal positif bagi industri sawit secara keseluruhan di wilayah Sumatera. Tidak hanya petani, pabrik kelapa sawit dan pelaku usaha pendukung lainnya turut merasakan dampak perbaikan harga ini.

Dalam penetapan terbaru, hampir seluruh kelompok umur tanaman sawit mengalami peningkatan harga jual. Hal ini mencerminkan konsistensi pasar dalam menghargai kualitas dan rendemen hasil panen dari kebun plasma.

Kondisi ini juga memunculkan optimisme bahwa tren kenaikan harga bisa berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap fluktuasi harga yang bisa dipengaruhi faktor eksternal.

Kenaikan Harga TBS Jadi Sinyal Positif bagi Petani Plasma

Harga TBS sawit plasma Riau periode 4–10 Februari 2026 ditetapkan naik Rp131,95 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini setara dengan peningkatan sekitar 2,03 persen dan menjadi kabar baik setelah sebelumnya harga sempat melemah.

Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok umur tanaman 9 tahun yang mencapai harga Rp3.743,34 per kilogram. Angka ini menunjukkan bahwa tanaman dengan usia produktif optimal tetap menjadi andalan utama dalam menyumbang hasil terbaik bagi petani.

Selain kelompok umur 9 tahun, hampir seluruh kelompok umur tanaman lainnya juga mencatatkan kenaikan harga. Kondisi ini menandakan bahwa perbaikan harga tidak hanya terjadi secara terbatas, tetapi menyentuh seluruh struktur produksi sawit plasma.

Indeks K yang digunakan dalam perhitungan harga pada periode ini tercatat sebesar 92,67 persen. Nilai tersebut menggambarkan kualitas rendemen pengolahan dan menjadi salah satu komponen penting dalam penetapan harga TBS.

Harga cangkang sawit juga ditetapkan sebesar Rp19,47 per kilogram pada periode yang sama. Meskipun kontribusinya relatif kecil dibandingkan TBS, cangkang tetap memberikan tambahan nilai bagi petani dan pabrik.

Kenaikan harga ini tidak terlepas dari pergerakan harga produk turunan sawit, khususnya minyak sawit mentah atau CPO dan kernel. Dalam periode yang sama, harga penjualan CPO naik sebesar Rp551,58, sementara kernel meningkat Rp378,96.

Lonjakan harga produk turunan tersebut memberikan efek langsung terhadap harga TBS di tingkat petani. Kondisi ini menunjukkan keterkaitan erat antara pasar hilir dan hulu dalam rantai industri sawit.

Meski demikian, terdapat sejumlah pabrik kelapa sawit yang tidak melakukan transaksi penjualan pada pekan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, penetapan harga TBS tetap mengacu pada harga rata-rata tim atau harga rata-rata KPBN sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga agar tetap mencerminkan kondisi pasar secara objektif. Dengan demikian, fluktuasi harga akibat keterbatasan transaksi dapat diminimalkan.

Rincian Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 4–10 Februari 2026

Harga TBS sawit plasma Riau periode 4–10 Februari 2026 ditetapkan berdasarkan kelompok umur tanaman dari usia 3 hingga 30 tahun. Penetapan ini bertujuan mencerminkan produktivitas dan kualitas hasil panen yang berbeda di setiap fase pertumbuhan.

Untuk tanaman umur 3 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp2.881,58 per kilogram. Harga ini relatif lebih rendah karena tanaman muda umumnya menghasilkan rendemen minyak yang belum optimal.

Pada tanaman umur 4 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.269,94 per kilogram. Peningkatan harga ini sejalan dengan bertambahnya usia tanaman yang mulai memasuki fase produktif.

Harga TBS untuk tanaman umur 5 tahun mencapai Rp3.466,64 per kilogram. Angka ini mencerminkan peningkatan hasil panen dan kualitas buah yang semakin baik.

Sementara itu, tanaman umur 6 tahun dihargai sebesar Rp3.618,16 per kilogram. Pada usia ini, produktivitas kebun biasanya mulai stabil dan memberikan kontribusi signifikan bagi petani.

Untuk tanaman umur 7 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.695,71 per kilogram. Angka ini menunjukkan tren kenaikan yang konsisten seiring dengan optimalisasi pertumbuhan tanaman.

Harga TBS untuk tanaman umur 8 tahun tercatat sebesar Rp3.739,43 per kilogram. Kelompok umur ini mulai mendekati puncak produktivitas dalam siklus hidup tanaman sawit.

Pada tanaman umur 9 tahun, harga tertinggi dicapai dengan nilai Rp3.743,34 per kilogram. Kelompok umur ini dianggap sebagai fase emas produktivitas sawit karena menghasilkan rendemen minyak yang sangat optimal.

Untuk tanaman umur 10 hingga 20 tahun, harga TBS ditetapkan sebesar Rp3.722,96 per kilogram. Rentang usia ini masih tergolong produktif dan memberikan kontribusi utama dalam pasokan TBS.

Harga TBS tanaman umur 21 tahun ditetapkan sebesar Rp3.663,99 per kilogram. Penurunan ringan mulai terlihat seiring menurunnya produktivitas tanaman yang memasuki fase lebih tua.

Untuk tanaman umur 22 tahun, harga tercatat sebesar Rp3.607,35 per kilogram. Angka ini mencerminkan kecenderungan penurunan hasil panen seiring bertambahnya usia tanaman.

Tanaman umur 23 tahun dihargai sebesar Rp3.546,98 per kilogram. Penurunan ini tetap dianggap wajar karena kualitas dan volume panen biasanya mulai menurun secara bertahap.

Harga TBS untuk tanaman umur 24 tahun ditetapkan sebesar Rp3.480,75 per kilogram. Kelompok umur ini masih produktif, meskipun tidak seoptimal usia tanaman yang lebih muda.

Untuk tanaman umur 25 tahun, harga ditetapkan sebesar Rp3.406,34 per kilogram. Angka ini mencerminkan semakin berkurangnya rendemen minyak yang dihasilkan.

Tanaman umur 26 tahun memiliki harga TBS sebesar Rp3.361,17 per kilogram. Penurunan harga ini tetap sejalan dengan siklus alamiah tanaman sawit yang menua.

Harga TBS untuk tanaman umur 27 tahun tercatat sebesar Rp3.315,76 per kilogram. Pada usia ini, kebun biasanya mulai mempertimbangkan peremajaan tanaman secara bertahap.

Untuk tanaman umur 28 tahun, harga ditetapkan sebesar Rp3.271,50 per kilogram. Angka ini menggambarkan penurunan produktivitas yang semakin nyata.

Harga TBS tanaman umur 29 tahun tercatat sebesar Rp3.254,66 per kilogram. Kelompok umur ini masih memberikan hasil, tetapi tidak seoptimal tanaman muda.

Sementara itu, tanaman umur 30 tahun dihargai sebesar Rp3.240,62 per kilogram. Nilai ini menjadi yang terendah dalam daftar karena usia tanaman yang sudah melewati masa produktif optimal.

Perbedaan harga antar kelompok umur ini mencerminkan mekanisme pasar yang mempertimbangkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Dengan sistem tersebut, petani didorong untuk melakukan perawatan dan peremajaan kebun secara berkelanjutan.

Dampak Kenaikan Harga bagi Petani dan Industri Sawit

Kenaikan harga TBS sawit plasma di Riau periode ini membawa dampak langsung terhadap pendapatan petani. Dengan harga jual yang lebih tinggi, petani memiliki ruang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan hidup dan melakukan investasi kembali di kebun mereka.

Peningkatan pendapatan juga dapat digunakan untuk perawatan tanaman, pembelian pupuk, serta perbaikan infrastruktur kebun. Hal ini pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas jangka panjang sektor perkebunan sawit.

Bagi pabrik kelapa sawit, kenaikan harga TBS mencerminkan meningkatnya nilai bahan baku yang diproses. Kondisi ini mendorong pabrik untuk menjaga kualitas pengolahan agar rendemen minyak tetap optimal.

Industri sawit di Riau juga berpotensi merasakan efek berganda dari perbaikan harga ini. Aktivitas ekonomi di sekitar sentra perkebunan dapat meningkat seiring bertambahnya daya beli petani dan pekerja kebun.

Namun demikian, pelaku industri tetap perlu mewaspadai fluktuasi harga global yang dapat memengaruhi harga produk turunan sawit. Faktor seperti perubahan kebijakan perdagangan, nilai tukar, dan permintaan pasar internasional tetap menjadi variabel penting.

Kenaikan harga pada periode ini juga menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap produk berbasis sawit masih cukup kuat. Hal ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika transisi energi dan pengembangan bahan baku alternatif di berbagai negara.

Meskipun Beijing dan sejumlah negara lain mendorong penggunaan energi terbarukan, permintaan terhadap minyak sawit sebagai bahan baku industri pangan dan energi masih tetap tinggi. Kondisi ini memberikan peluang berkelanjutan bagi produsen sawit di Indonesia.

Bagi pemerintah daerah, stabilitas harga TBS menjadi indikator penting dalam menjaga kesejahteraan petani dan stabilitas sosial ekonomi di wilayah perkebunan. Kebijakan yang mendukung transparansi harga dan keberlanjutan produksi tetap diperlukan.

Kenaikan harga ini juga diharapkan mendorong petani plasma untuk terus meningkatkan kualitas hasil panen. Dengan mutu TBS yang lebih baik, petani dapat memperoleh harga jual yang lebih optimal di masa mendatang.

Di sisi lain, sistem penetapan harga yang berbasis indeks K dan harga pasar CPO serta kernel dinilai cukup efektif dalam menjaga keadilan bagi petani dan pabrik. Mekanisme ini membantu menciptakan keseimbangan antara kepentingan hulu dan hilir.

Kondisi pasar yang relatif kondusif pada awal Februari 2026 ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyusun strategi produksi yang lebih matang. Hal ini termasuk perencanaan panen, pengelolaan stok, serta penguatan kerja sama antara petani dan pabrik.

Dengan tren harga yang positif, sektor perkebunan sawit di Riau diharapkan mampu terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Kontribusi ini tidak hanya dalam bentuk devisa ekspor, tetapi juga penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi lokal.

Kenaikan harga TBS periode 4–10 Februari 2026 menjadi momentum penting bagi petani plasma untuk memaksimalkan hasil kebun mereka. Optimisme ini tetap perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap dinamika pasar global yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Terkini