JAKARTA - Banyak orang merasa rumah adalah tempat paling aman untuk menyiapkan makanan. Namun, tanpa disadari, dapur juga bisa menjadi sumber risiko kesehatan jika kebiasaan tertentu terus dilakukan.
Keracunan makanan sering kali terdengar seperti masalah yang cuma bisa didapat di luar lingkungan rumah, kejadian yang muncul setelah makan di restoran atau menyantap jajanan kaki lima yang kurang higienis. Namun, kenyataannya keracunan rumah juga bisa saja terjadi di tempat yang paling familier, yaitu dapur tempat tinggal sendiri.
Setiap tahun, jutaan orang mengalami keracunan makanan. Dan, sering kali penyebabnya bukanlah sesuatu yang besar, melainkan kebiasaan yang dilakukan tanpa disadari.
Cara kamu mencuci bahan makanan, menyimpan makanan, atau penggunaan talenan yang tidak tepat bisa membuka jalan bagi kontaminasi kuman. Kebiasaan kecil ini terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa serius bagi kesehatan keluarga.
Di balik rutinitas memasak sehari-hari, ada risiko yang luput dari perhatian. Jadi, mengenali dan menghindari kebiasaan-kebiasaan yang berisiko bisa menjadi langkah penting untuk menjaga keluarga tetap sehat dan aman di rumah.
Berikut ini beberapa kebiasaan dapur yang perlu diwaspadai agar makanan tetap higienis. Semua kebiasaan ini mudah dihindari jika kamu mulai lebih sadar saat memasak.
Kebiasaan Saat Mengolah Bahan Mentah yang Perlu Diwaspadai
Mencuci tangan sebelum mulai memasak mungkin sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Namun, yang sering terlewat adalah momen di tengah proses memasak.
Setelah memegang daging mentah, membuang sisa sayuran, atau sekadar merapikan sampah makanan, tangan yang tidak segera dicuci bisa menjadi “kendaraan” bagi bakteri. Tanpa sadar, kamu memindahkannya ke sayuran segar, peralatan masak, bahkan ke permukaan meja dapur.
Tidak mau itu terjadi, kan? Cara mencegahnya sangat mudah dan bisa dilakukan siapa saja.
Setiap kali selesai menangani bahan mentah, luangkan waktu sebentar untuk mencuci tangan dengan sabun selama setidaknya 20 detik. Langkah kecil ini akan menjadi benteng penting untuk mencegah kontaminasi silang dan menjaga makanan tetap aman bagi keluarga.
Selain tangan, peralatan dapur juga perlu diperhatikan kebersihannya. Salah satu benda yang sering terabaikan justru lap dapur yang digunakan setiap hari.
Lap dapur sering dipakai untuk berbagai hal, seperti menyeka tumpahan, mengeringkan piring, hingga mengelap tangan. Namun, justru karena terlalu sering dipakai untuk berbagai hal, lap cepat berubah menjadi tempat berkumpulnya kuman jika jarang dicuci.
Risikonya, bakteri dari kain yang kotor bisa berpindah ke piring, sendok, atau gelas yang seharusnya sudah bersih. Bukannya membersihkan, lap malah bisa menjadi sumber penyakit.
Solusi paling aman adalah membiarkan piring dan peralatan kering dengan sendirinya. Cara ini lebih higienis, sekaligus mencegah perpindahan bakteri dari kain ke peralatan makan yang akan kamu gunakan setiap hari.
Kebiasaan lain yang sering dilakukan adalah mencuci ayam mentah sebelum dimasak. Banyak orang merasa langkah ini penting demi memastikan kebersihan bahan makanan.
Beberapa orang merasa wajib untuk mencuci ayam mentah sebelum dimasak untuk memastikan kebersihan. Faktanya, kebiasaan ini justru bisa membawa risiko kesehatan.
Percikan air dari cucian ayam dapat mengenai bak cuci, meja, atau peralatan dapur, lalu menyebarkan bakteri seperti Salmonella dan Campylobacter. Bakteri ini dapat berpindah tanpa disadari ke makanan lain yang siap dikonsumsi.
Ayam mentah sebenarnya tidak perlu dicuci sebelum dimasak. Yang terpenting adalah memastikan daging dimasak hingga matang sempurna.
Suhu panas saat memasak akan membunuh bakteri. Dengan begitu, risiko keracunan makanan dapat diminimalkan tanpa perlu mencuci ayam terlebih dahulu.
Kesalahan Penggunaan Peralatan Dapur yang Sering Terjadi
Pernah memotong daging mentah di talenan, lalu langsung memakainya lagi untuk memotong sayuran? Kebiasaan ini bisa memicu kontaminasi silang.
Bakteri dari daging mentah dengan mudah berpindah ke sayuran yang seharusnya aman dimakan. Tanpa disadari, makanan yang tampak segar bisa menjadi sumber penyakit.
Untuk mencegahnya, biasakan untuk memisahkan talenan. Satu khusus untuk daging, unggas, atau makanan laut, dan satu lagi untuk sayuran serta bahan siap santap.
Setelah selesai digunakan, segera cuci talenan dengan air panas dan sabun, lalu biarkan kering dengan udara. Langkah sederhana ini mampu menekan risiko penyebaran bakteri dan menjaga keamanan makanan.
Kesalahan berikutnya adalah cara mencairkan bahan makanan beku yang kurang tepat. Banyak orang memilih cara tercepat tanpa mempertimbangkan keamanan pangan.
Banyak orang membiarkan daging atau ikan beku mencair di suhu ruang. Padahal, cara ini membuat makanan berada terlalu lama di “zona bahaya” (suhu 5–57 derajat Celcius), suhu bakteri dapat tumbuh dengan cepat.
Cara aman untuk mencairkan makanan beku antara lain dengan menyimpannya di kulkas. Metode ini memungkinkan pencairan berlangsung perlahan tanpa memberi kesempatan bakteri berkembang.
Cara lain adalah merendam dalam air dingin, bukan air panas. Kamu juga bisa menggunakan microwave jika ingin lebih cepat.
Pilihan berikutnya adalah memasak langsung tanpa dicairkan terlebih dahulu. Metode ini tetap aman selama makanan dimasak hingga benar-benar matang.
Kesalahan Penyimpanan Makanan di Kulkas
Kulkas sering dianggap sebagai tempat paling aman untuk menyimpan makanan. Namun, ketika terlalu penuh, sirkulasi udara dingin di dalamnya tidak lagi bekerja dengan baik.
Akibatnya, sebagian bahan makanan bisa lebih cepat rusak tanpa disadari, meski sudah tersimpan rapi. Kondisi ini membuat bakteri lebih mudah berkembang.
Untuk mencegah hal ini, penting untuk mengatur isi kulkas dengan bijak. Pisahkan makanan berdasarkan jenisnya dan jangan menumpuk terlalu rapat.
Simpan daging mentah di bagian bawah dengan pembungkus rapat agar cairannya tidak menetes ke bahan lain. Kebiasaan ini membantu mencegah kontaminasi silang.
Jangan lupa rutin memeriksa suhu kulkas. Suhu ideal sekitar 4 derajat Celcius akan membantu menjaga kesegaran makanan lebih lama sekaligus mengurangi risiko pertumbuhan bakteri.
Selain itu, penting juga memperhatikan lamanya penyimpanan makanan. Sisa makanan sering kali terasa sayang untuk dibuang.
Namun, menyimpannya terlalu lama justru bisa berbahaya. Makanan berbahan daging, unggas, atau produk susu hanya aman berada di kulkas maksimal 24 jam.
Jika masih ingin dikonsumsi, pastikan untuk memanaskannya kembali hingga benar-benar panas. Pemanasan yang merata membantu membunuh bakteri yang mungkin berkembang selama penyimpanan.
Namun, jika sudah melewati batas waktu itu, pilihan terbaik adalah membuangnya atau mengolahnya kembali menjadi masakan baru. Langkah ini lebih aman dibandingkan mengambil risiko kesehatan.
Kebiasaan menyimpan makanan terlalu lama sering dilakukan tanpa sadar. Padahal, makanan yang terlihat masih layak belum tentu aman dikonsumsi.
Menjaga Dapur Tetap Aman dari Risiko Keracunan
Pada akhirnya, dapur yang bersih dan kebiasaan memasak yang tepat adalah benteng utama untuk mencegah keracunan makanan. Kebiasaan kecil yang dilakukan dengan benar akan memberikan dampak besar bagi kesehatan keluarga.
Mulai dari mencuci tangan dengan benar, menyimpan bahan sesuai aturan, hingga memastikan makanan matang sempurna, semua langkah kecil ini berperan besar dalam menjaga kesehatan keluarga. Konsistensi menjadi kunci agar dapur tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman.
Setiap anggota keluarga juga sebaiknya dilibatkan dalam menjaga kebersihan dapur. Dengan begitu, risiko kontaminasi dapat diminimalkan secara menyeluruh.
Kesadaran sejak awal akan membantu membentuk kebiasaan memasak yang lebih aman. Hal ini akan berdampak positif bagi kesehatan jangka panjang.
Jadi, jangan remehkan detail sederhana di dapur, ya! Kebiasaan kecil yang tampak sepele justru bisa menjadi penentu besar bagi keselamatan makanan yang kamu konsumsi setiap hari.